Ritual Ojung.

Musik gamelan mengiringi pertunjukkan Ojung di Desa Sukapura Kabupaten Probolinggo, beberapa waktu lalu. Tampak dua orang pria bertelanjang dada, mengenakan celana jins ditambah lilitan sarung khas suku Tengger di pinggang, serta udheng sebagai ikat kepala.

Sambil memegang rotan, kedua pria tersebut saling menempelkan dada dan mengikuti iringan musik. Salah satu pria melemaskan rotan sambil mengambil ancang-ancang untuk mencambuk lawannya. Sementara pria lain, meletakkan kedua tangan di belakang punggung sambil meluruskan rotan. Seolah berusaha melindungi punggung dari sabetan lawan.

Cetarrr… begitulah bunyi rotan yang mengenai punggung. Maka giliran untuk menjadi pencambuk dan tercambuk akan berganti. Begitu seterusnya. Permainan akan usai saat sabetan rotan telah tiga kali mengenai punggung lawan. Maka dialah yang menjadi pemenang.

Ojung dikendalikan oleh seorang wasit. Setiap petarung juga didampingi oleh satu orang pendamping. Aturan mainny, dilarang menyabet rotan ke bagian muka atau kepala.

Kendati Ojung mengandung unsur kekerasan, tradisi ini justru dipercaya dapat mempererat hubungan kekeluargaan. Serta menjauhkan hal-hal yang memicu pertengkaran antar sesama keturunan Tengger. Sebab, setelah usia bermain Ojung, kedua pemain berjabat tangan dan berpelukan. Menandakan meski telah saling melukai, tidak ada dendam diantara mereka.

Biasanya, luka bekas Ojung akan diobati dengan cara tradisional. Yakni dengan menggunakan kulit pisang yang matang.

Perlu diketahui, selain Suku Tengger di Gunung Bromo, tradisi Ojung juga kerap dilakukan oleh warga Bondowoso dan masyarakat Pulau Madura.

Oleh: Lizya Oktavia Kristanti