Vice President PT Indana Paint Steven A. Sugiharto memasang batu pertama di proyek jembatan kaca, kemarin (9/5).

MALANG KOTA – Setelah tertunda hampir empat bulan, pembangunan jembatan kaca di Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) akhirnya terlaksana. Kemarin (9/5), peletakan batu pertama dilakukan Wali Kota Malang Moch. Anton bersama Vice President PT Indana Paint Steven A. Sugiharto selaku pendana.

Pembangunan jembatan senilai Rp 1,1 miliar yang menghubungkan kawasan KWJ dengan Kampung Tridi Kesatrian itu direncanakan tuntas pada 15 Juli 2017. Hadir dalam peletakan batu pertama itu di antaranya Sekkota Idrus Achmad dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Hadi Santoso.

Wali Kota Malang Moch. Anton menjelaskan, pembangunan jembatan tersebut nantinya diharapkan mengakomodasi kebutuhan wisatawan. Sehingga para wisatawan tidak lagi ber-swafoto di Jembatan Buk Gludug maupun Jembatan Embong Brantas dan juga di jembatan rel kereta api. Selama ini beberapa kasus kecelakaan ringan maupun berat terjadi akibat wisatawan yang tidak waspada saat melakukan swafoto.

”Jembatan kaca ini tidak hanya untuk mempercantik kedua kampung tematik tersebut, tapi juga untuk keamanan dan kenyamanan wisatawan. Nanti, arus lalu lintas juga tidak akan terganggu dan risiko kecelakaan bisa dikurangi,” ujarnya usai meletakkan batu pertama fondasi jembatan tersebut.

Anton meminta masyarakat ikut merawat fasilitas jembatan sepanjang 21 meter yang didanai oleh produsen cat Decofresh tersebut. Sehingga jembatan ini bisa menambah kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke KWJ maupun Kampung Tridi.

Bertambahnya fasilitas tersebut, diharapkan diikuti pola pikir dan pola sikap warga dalam menerima tamu. Sehingga, perkembangan perekonomian masyarakat sekitar dapat semakin meningkat. ”Kami harap pada 15 Juli mendatang sudah bisa di-launching dan digunakan untuk lalu lintas wisatawan yang datang ke Kampung Warna-Warni maupun Kampung Tridi,” ujar Anton.

Karena dana utama sudah dari sponsor, Pemkot Malang berencana menambah fasilitas lain. Misalnya lampu. ”Jadi tidak hanya dapat dinikmati siang hari, tapi juga di malam hari,” tambahnya. Pembangunan jembatan kaca sempat diragukan. Pasalnya, pembangunan dilakukan di atas debit air di Sungai Brantas yang cukup deras dan selalu mengalami banjir tahunan.

Meski begitu, Anton menegaskan jembatan itu dipastikan aman. Sebab, telah melalui beberapa pengujian oleh para ahli dan juga sudah diizinkan oleh Dinas Pengairan Provinsi Jawa Timur. ”Semuanya sudah diperhitungkan dan itu juga menjadi alasan lamanya izin tersebut keluar. Tapi semua sudah siap dan dipastikan aman,” katanya.

Dia mengakui, masalah banjir tahunan awalnya sempat dikhawatirkan. Namun setelah dilakukan beberapa kali pengujian, hasilnya tidak berbahaya. Sebab, jembatan itu sendiri menurutnya dibangun setinggi 427 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sedangkan banjir tertinggi yang pernah tercatat yakni setinggi 422 mdpl.

Sebagai perbandingan, tinggi jembatan rel kereta api di dekat lokasi mencapai sekitar 444 mdpl. ”Jadi sudah pasti, semua ada kajian dari tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan dinas PU,” urai Anton.

Pewarta: Nurlayla Ratri
Penyunting: Abdul Muntholib
Foto: Bayu Eka