Warung STMJ Nabila bisa menjadi salah satu referensi perburuan kuliner di akhir pekan. Bahan-bahan alami yang digunakan menjadi andalan.

Warung STMJ Nabila di Jalan Raya Landungsari, Kota Malang, masih riuh dengan pelanggan saat wartawan koran ini berkunjung Rabu malam lalu (1/11). Sekitar 15 orang sedang menikmati STMJ di warung yang luasnya hanya sekitar 3×6 meter persegi tersebut.

Warung STMJ Nabila yang berada persis di sebelah barat pertigaan Terminal Landungsari ini memang selalu ramai setiap malam. Warung ini juga legendaris karena sudah berumur 17 tahun atau berdiri sejak 2000 silam. Yang menjadi ciri khas warung ini adalah rempah-rempahnya yang begitu terasa. Ketika diseruput, rasa jahenya begitu terasa.

Layaknya warung STMJ yang lain, komposisi utama STMJ ini adalah susu segar, telur ayam kampung, madu, dan jahe. Hanya saja, salah satu yang membedakan adalah jenis susunya. Di tempat ini, susu langsung dari perasan sapi yang kemudian direbus selama tujuh jam untuk membunuh bakteri.

Sementara di warung milik Imron Rosyadi ini, jahenya ditumbuk secara manual dan diganti setiap hari. Aneka macam bahan untuk STMJ tersebut lalu dikocok dengan mixer sehingga warnanya menjadi kuning kental.

Tidak seperti minuman jahe kebanyakan, warna STMJ di tempat ini cenderung kuning seperti jus jeruk yang dicampur susu. Untuk urusan rasa, empat bahan yakni susu, madu, jahe, dan telur, seolah menyatu dan tidak ada yang lebih menonjol. Jadi, rasanya benar-benar maknyus. ”Dari awal, saya memang menyajikan minuman yang alami. Saya lihat, saat ini banyak orang mengonsumsi makanan,  tapi malah sakit karena produknya tidak alami,” kata Imron kepada Jawa Pos Radar Malang.

Untuk produk, bisa dibilang produk STMJ ini merupakan produk antarkota. Susu segar dipasok dari Batu, madunya dipesan dari Blitar, telurnya bekerja sama dengan pengepul telur Tulungagung. Sementara jahenya dari pemasok di Malang. ”Kebanyakan yang memasok teman-teman saya sendiri,” imbuh pria 45 tahun ini.

Bagi Imron, warung STMJ ini penanda perjuangannya dalam merintis usaha. Dia mendirikan STMJ ini pada tahun 2000 atau beberapa bulan setelah dia mundur dari perusahaan finance. ”Dunia kerja tidak sepuas berbisnis, ya karena gajinya waktu itu hanya bisa menutup cicilan motor. Akhirnya, saya mencoba untuk menerapkan ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Apalagi Tlogomas ini area yang ramai, saya pun mencari produk yang pas dan menurut saya STMJ-lah yang pas,” imbuhnya.

Perjuangan usaha STMJ-nya tidak melulu mulus. Pada tiga bulan pertama, dia harus berjuang mencari pelanggan. Namun, karena ketelatenannya, ada 150 pembeli tiap harinya. ”Kebanyakan mereka adalah mahasiswa, tapi juga tidak jarang dari keluarga, mulai dari bapak sampai anaknya ke sini semua,” imbuh alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Hingga saat ini, STMJ Nabila belum membuka cabang. Namun, untuk usaha lain, memang kebanyakan di bidang usaha kuliner. Total, ada delapan cabang usaha kuliner dari berbagai produk. Di antaranya, Tasnim Resto, Tasnim Tea & Coffee, usaha kentang, dan masih banyak lagi. Sebagian besar cabangnya berada di mal-mal, seperti Mal Olympic Garden (MOG), Malang Town Square (Matos), Cyber Mall, @MX, Mall Dinoyo, hingga Malang Plaza. ”Sejak 2004, omzet STMJ ini bisa dipakai untuk menyewa stan di Matos,” kata suami dari Mashudayah ini.

Pewarta: nr3
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Rubianto