Dari data Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, sebanyak 55 hotel beroperasi di Kota Batu (selengkapnya lihat grafis). Klasifikasinya pun lengkap, mulai dari hotel nonmelati hingga bintang lima. Penawaran segmentasi dan konsep pun beragam.

Anda mau pilih hotel di pusat kota? Ada banyak di sepanjang Jalan Patimura hingga Jalan Panglima Sudirman. Atau malah menjauhi pusat kota, misalnya hotel-hotel yang ada di seputaran Songgoriti.

Sebagai Kota Wisata, wajar bila hotel-hotel terus tumbuh di Kota Batu. Dalam dua tahun ini saja, delapan hotel baru dibangun. Tahun 2017 pun, sangat mungkin ada pengajuan-pengajuan pembangunan baru masuk ke Pemerintah Kota (Pemkot) Batu.

’Meledaknya’ okupansi hotel pada momen-momen high season, seperti libur Natal-tahun baru, barangkali menjadi magnet menggiurkan bagi pemilik modal. Tapi, apakah Kota Batu memang butuh penambahan hotel? Nanti dulu.

Memang, pada kenyataannya, saat momen long weekend, okupansi hotel-hotel di Kota Batu sangat tinggi. Bahkan, okupansinya bisa mendekati 100 persen. Tapi, momen seperti itu tidak selalu ada tiap bulan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu mengungkapkan, tidak tiap hari hotel-hotel bisa fully booked. Apalagi secara umum, okupansi rata-rata hotel-hotel di Kota Batu sepanjang 2016, ternyata rendah.  ”Sebab, kalau kita pukul rata, okupansi hotel di Kota Batu masih cukup rendah, sekitar 42 persen per tahun,” bebernya.

Dalam kacamata PHRI, angka 42 persen ini kurang sehat. Apalagi, untuk ukuran Batu yang notabene Kota Wisata. Kota yang katanya, dikunjungi 4 juta wisatawan per tahun.

Bambang menyatakan, tidak semua wisatawan yang datang ke Batu itu, menginap. Kebanyakan, sekitar 60 persen wisatawan tidak menginap atau sekadar mengunjungi objek-objek wisata di Kota Batu. Sementara sisanya, 40 persen wisatawan menginap.

Namun, sebanyak 40 persen atau 1,6 juta orang yang menginap ini, tidak semuanya menggunakan fasilitas akomodasi di Kota Batu. ”Hanya 40 persennya yang menginap di Kota Batu, selebihnya di Kota Malang,” ujar dia.

Jadi, bisa dikatakan, hotel-hotel Kota Batu hanya kebagian 640 ribu wisatawan. Oleh karena itu, sudah seharusnya ada moratorium pembangunan hotel di Kota Batu. ”Kalau semakin banyak hotel dibangun, dikhawatirkan akan malah membuat okupansi semakin menurun,” bebernya.

Terpisah, Kepala Disparta Sinal Abidin punya pandangan berbeda. Dia melihat, moratorium belum saatnya dilakukan.

Ketika Pemkot mengeluarkan izin pendirian hotel baru, ini juga sudah atas kajian. ”Tentu sudah melalui diskusi panjang, juga dengan wali kota. Istilahnya (hotel-hotel baru yang dibangun) sudah lolos audisi,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Perizinan Badan Penanaman Modal (BPM) Kota Batu Satriyo Wicaksono menjelaskan, selama ini pihaknya tidak sembarangan saat mengeluarkan izin pendirian hotel. ”Setidaknya, ada empat tahap yang harus dilewati,” kata dia.

Pada mulanya, sebelum izin masuk, BPM ’mem-briefing’ investor atau pihak yang mengajukan pendirian hotel baru. Di antaranya terkait rencana tata kota serta kriteria hotel yang bisa dibangun. ”Kami beri mereka gambaran, hotel bisa dibangun di mana, lalu prosedurnya seperti apa,” kata Satriyo.

Selain itu, investor harus melengkapi dokumen-dokumen terkait analisis dampak lingkungan (amdal) di Dinas Lingkungan Hidup. (dia/c4/muf)

 

Judul Sambungan:

Disparta: Belum Perlu Lakukan Moratorium