[Catatan] Mencari Celah Baru: Pasar Tradisional Sebagai Potensi Wisata

Jika anda pernah pergi ke Paris, Prancis, atau setidaknya membaca buku travelling tentang Paris, anda akan banyak menemui monumen bersejarah khususnya di 3e arrondissement. Di distrik itu, anda akan berjumpa dengan musium (le Musee) picasso, gang (Le passage) Molière, bahkan pasar (le Marché) tradisional des Enfants-Rouges. Pasar tradisonal?

Tak perlu terkejut dengan ibukota Prancis itu, yang selalu menghargai ide-ide kecil maupun besar, dari sejarah hingga seni, dan termasuk menjadikan pasar tradisional sebagai monumen sejarah. Adalah Geoffroy d’Assy, seorang filantrofi, yang melakukan renovasi pasar tradisional Marché des Enfants-Rouges dan pengembangannya, serta mendaftarkan pasar tradisional Marché des Enfants Rouges pada inventaris monumen sejarah pada 1982. Bagi filantrofi itu, pasar tradisional Marché des Enfants-Rouges tak hanya tempat untuk menjual bahan pangan, melainkan suatu potensi wisata yang mampu membantu mengembangkan Paris sebagai ibukota. Dan pada tahun 2000, le Marché des Enfants-Rouges direnovasi dan dikonstruksi ulang sebagai pasar gourmet dan dibuka kembali.

Jauh sebelum Geoffroy d’Assy melakukan renovasi, pada abad 16, pasar tersebut telah dibangun dan ditutup sebelum revolusi Prancis yang termahsyur itu. Nama pasar tertua di Paris yang diambil dari kisah anak-anak yatim berpakaian merah dan pasar tradisional yang berada dibalik gerbang itu, tak hanya menawarkan makanan siap saji dari seluruh dunia, atau jus-jus segar, daging buah-buahan, keju-kejuan, bahkan bunga-bunga hingga produk kesenian. Pasar yang buka dari pagi hingga pukul tujuh malam itu tentu saja akan menjadi satu konsep brilian andaikan diakulturasikan dengan konteks ke-Indonesia-an atau kedaerahan bagi pasar-pasar tradisional di Indonesia khususnya Kota Malang sendiri.

Di era modern ini, pasar tradisional harus bersaing dengan jenis pasar lain yang kemunculannya tak mampu dibendung, seperti pasar modern berupa plaza, mall, atau mini market. Eksistensi pasar tradisional untuk menjaga peran dalam fungsinya yang tak hanya sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, atau proses tawar-menawar komoditas barang bagi pelaku-pelaku dalam kelompok sosial menengah-bawah, melainkan juga tempat pembelajaran baik dalam disiplin ilmu sosial-budaya, disiplin ilmu ekonomi, disiplin ilmu arsitektur, dan bahkan mampu menjadi suatu ruang publik yang bisa dimanfaatkan menjadi potensi wisata.

Potensi wisata itu mampu diciptakan dalam berbagai aspek, misal aspek dalam dan aspek luar. Aspek dalam adalah bagaimana pemerintah kota atau para stakeholder memberikan pendidikan bahkan pemahaman khusus serta memacu kepercayaan diri para pedagang dan para pembeli bahwa pasar tradisional tak kalah oleh pasar modern, sehingga diharapkan para pedagang dan para pembeli di pasar tradisional mampu memberikan daya saing terhadap pasar modern meskipun segmentasi pembelinya berbeda. Aspek dalam bisa dimunculkan melalui konteks politik-ekonomi bagi pasar tradisional yang dirasa perlu untuk dilihat kembali oleh pemerintah kota atau para stakeholder melalui gagasan salah satu founding people kita, Mohammad Hatta yang telah mewartakan dalam, Pengembangan Pengusaha Kecil: Salah Satu Aspek Ekonomi Terpimpin:

“Di dalam ekonomi terpimpin itu harus dicapai kedaulatan ekonomi masyarakat dan bangsa kita seiring dengan kedaulatan politik kita yang sepenuhnya telah kita miliki ini. Kedaulatan ekonomi ini sesuai dengan cita-cita kita untuk tidak tergantung pada ekonomi atau kekuatan asing. Kedaulatan ekonomi itu dapat secara riil kita miliki, jika kita melaksanakan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 secara konsekuen. Kedaulatan ekonomi berisikan kemampuan masyarakat dan bangsa untuk mengambil sikap dan keputusan dengan semangat berdikari, memiliki individualitas dan otoaktivita, berkepribadian, memiliki harga diri dan mempunyai kepercayaan pada diri sendiri. Inilah yang dimaksudkan dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini perlu dilaksanakan di dalam pengembangan dan pembangunan pengusaha kecil.
Di dalam ekonomi terpimpin, pertumbuhan pendapatan nasional secara riil tidak selayaknya dipandang dari segi aggregative thinking. Tujuan pertumbuhan pandapatan nasional harus menjadi satu dengan memperbesar kemakmuran rakyat secara seadil-adilnya, secara merata sesuai dengan cita-cita Undang-Undang Dasar 1945. Ekonomi terpimpin menuju kepada realisasi ‘jalur-jalur pemerataan’ seperti yang didengung-dengungkan sekarang ini adalah harapan kita semua, dan sekaligus merupakan keterikatan dan tantangan yang realisasinya tidak boleh tertunda-tunda lagi.”

Sementara itu, pada aspek luar ialah konsep revitalisasi pasar tradisional yang menciptakan suasana nyaman bagi para penghuninya, baik para pedagang dan para pembeli. Akhir-akhir ini kita telah mengetahui bagaimana polemik Pasar Merjosari dan Pasar Dinoyo Terpadu. Memang tak mudah untuk mencari satu pencapaian yang memiliki asas win-win solution dari semua pihak yang terkait. Namun, paling tidak, pememerintah kota atau para stakeholder harus berani untuk memutar otak yang lebih kreatif agar pasar tradisional menjadi lebih hidup serta menarik, dan konsep revitalisasi pasar tradisional menjadi hal penting. Ir. Heinz Frick telah sedikit memberikan gagasannya dalam karyanya, Arsitektur dan Lingkungan:

“Untuk mewujudkannya, kita harus mengarah pada sasaran yang lebih jauh, yakni sistem pembangunan lingkungan yang optimal secara ekologis, biologis, psikologis dan sosial. […] Jikalau kita hendak mendapatkan kehidupan yang bahagia dan bebas dari ketegangan, seharusnya kita mengurangi ketegangan yang ada antara individu dan masyarakat, manusia dan sistem bangunan, manusia dan perkotaan, manusia dan tumbuh-tumbuhan, manusia dan binatang dan seterusnya. Perkembangan ideal di masa depan secara biologik ialah integrasi yang baru dengan yang lama, yang besar dengan yang kecil, yang alamiah dengan yang manusiawi.”

Pada akhirnya, sedikit wacana ini hanyalah salah satu sudut pandang penulis di mana menjadikan pasar tradisional tak hanya sebagai tempat bertemunya para pedagang dan pembeli, atau proses tawar-menawar komoditas barang, namun menjadikan pasar tradisional sebagai potensi wisata atau monumen bersejarah seperti Marché des Enfants-Rouges di Paris yang mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi kota sekaligus merangsang minat para generasi muda untuk mengenali sosial-budaya dalam pasar tradisional dalam kemasan yang lebih artistik, sehingga pasar tradisional tetap terus hidup dan menjadi lawan tanding bagi pasar modern berupa plaza, mall, atau mini market.

Oleh: Iqbal Khoirurroziqin – Penulis tinggal di Malang dan Yogyakarta.
Foto: Tripadvisor