Es Campur Pak Said sudah menjadi jujukan wisatawan dan juga warga Kota Batu. Oleh karenanya, tidak heran jika saban hari rata-rata ada seratus mangkuk es yang terjual. Jumlah ini tentu terbilang banyak, apalagi Mochamad Said jualan hanya memakai gerobak.

Salah satu kunci sukses Said dalam berjualan adalah dia selalu mengedepankan kualitas yang tidak membahayakan kesehatan para pembelinya. Karena inilah, ketika Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu menggelar razia makanan sehat, Es Campur Said tidak pernah diperiksa karena petugas dinkes sudah percaya pada Said.

Dia bercerita, pada sekitar tahun 1973, ketika itu di Kota Batu sedang marak-maraknya penyakit muntah berak atau muntaber. Karena inilah, ketika itu dinkes sangat gencar memeriksa pedagang es.

Namun, ketika giliran Said, dia lolos tanpa harus diperiksa. Alasannya, karena para petugas sudah percaya dengan kualitas es yang dia buat. Selain itu, para petugas sudah langganan membeli es campur. ”Soalnya mereka (petugas, red) juga langganan beli es di sini,” kata Said sambil tertawa.

Karena untuk menjaga kualitas, Said juga memikirkan kesehatan konsumen. Jika menggunakan bahan-bahan seperti pemanis buatan dan tidak steril, dia takut konsumen meninggalkannya.

Menurut dia, menjaga kepercayaan konsumen sudah jadi sebuah komitmennya dalam menjual jajanan. ”Orang membeli pasti tidak mau rugi. Jadi kami berusaha memuaskan pelanggan supaya balik lagi,” kata dia.

Dia berharap, kualitas es campurnya tetap dipercaya oleh kosumen. Lalu bisa jadi jujukan kuliner oleh wisatawan. Menurut dia, meski suhu Kota Batu dingin, tapi es campurnya selalu diminati wisatawan. Karena inilah, Said selalu rutin membuka es campurnya dari jam sembilan pagi hingga lima sore.

Pewarta: Irsya Richa
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Falahi Mubarok