BIKIN NAGIH: Pengunjung Ketagihan dengan ES Ceklok yang semakin mantap

Nama untuk es puter ini cukup  unik, Es Ceklok. Nama Ceklok diambilkan dari scoop yang digunakan untuk menyerok es dari panci panjang ke gelas saji. Karena nama cetakannya yang berbentuk seperti sendok cekung inilah, membuat usaha es yang dimiliki oleh Tugiman Rohmat Raharjo tersebut dinamakan Es Ceklok.

Tugiman atau yang biasa disapa Pak Ceklok itu menjelaskan, dia sudah mulai berjualan es ini sejak tahun 1978. Awalnya, dia  berjualan di sekitar Jalan Dr Cipto. Selama sekitar tiga tahun hingga tahun 1981-an. Namun atas saran beberapa pelanggannya yang juga guru di sekolah Kolese Santo Yusup, dia pindah ke kawasan Blimbing. ”Pelanggan saya bilang, lebih ramai di sekolah kawasan Blimbing,” jelas dia.

Namun, dia tidak serta merta pindah ke depan sekolah Hwa Ind. Sebelumnya, laki-laki 62 tahun ini melakukan survei lapangan terlebih dahulu. Namun ternyata lokasinya masih belum ramai. Masih didominasi sawah, sehingga dia memutuskan untuk berjualan keliling di sekitar Blimbing. ”Baru tahun 1989 saya jualan di depan Hwa Ind.  Karena sudah mulai ramai, banyak kos-kosan,” terangnya.

Es puter yang lezat ini awalnya tidak memiliki variasi rasa sebanyak sekarang. Saat ini Es Ceklok sudah memiliki empat varian rasa. Yakni cokelat, stroberi, vanilla, dan aneka buah lainnya.

Dulunya hanya rasa kopyor seperti yang biasa dijual pedagang es puter pada umumnya. ”Tapi pelanggan memberikan saran kepada saya untuk memberikan variasi rasa. Akhirnya saya turuti saran dari pelanggan,” terang dia saat bebincang dengan wartawan koran ini.

Tugiman menjelaskan, penting baginya untuk menuruti saran dari pelanggan. Utamanya soal rasa. Pasalnya, pelanggam yang dia miliki, menurutnya, memiliki kesensitifan pada rasa.

Tugiman mengatakan, dulu rasa dari es puternya tidak seenak sekarang. Namun karena saran dari pelanggan, rasanya semakin manis. ”Pelanggan saya itu memang soal rasa nomor satu. Rasa dan kualitas tinggi, harga tidak masalah,” terang dia.

Selain memberikan empat pilihan rasa, es ini juga dilengkapi dengan sagu mutiara, potongan pudding dan roti tawar. Semakin lezat saat ditambahkan dengan topping dan juga susu cokelat.  Sehingga rasanya semakin nikmat.

Mulai dulu hingga sekarang, Tugimin menjelaskan, tidak pernah mengubah rasa dan komponen dalam esnya. ”Saya takut rasa es saya berubah dan pelanggan jadi kapok,” tandas dia.(dian ayu antika hapsari/c1/lid)