Harta karun tersembunyi itu memilih berdiri dengan sederhana. Bagaimana tidak, meski sudah berumur puluhan tahun, Griya Eskimo jauh dari kesan mewah. Kafe di Jalan Gresik Nomor 3, Kota Malang, ini dari luar seperti hunian biasa.

Tidak ada deretan kursi dan meja di Griya Eskimo yang berada persis di belakang Universitas Katolik Widya Karya Malang ini. Papan bertuliskan Griya Eskimo juga tersembunyi. Baru ketika masuk ke dalam rumah, terlihat aktivitas pelanggan. Kemarin (20/7), sejumlah pelanggan terlihat asyik menikmati segelas es krim dan beberapa kue.

Aroma kue yang baru selesai dipanggang seolah menari-nari memanjakan pelanggan. Di tempat ini, total ada tujuh meja yang masing-masing meja diisi empat kursi. Ruang tersebut sebenarnya merupakan teras rumah pemiliknya Jeane Tondokusumo.

”Sejak 28 tahun yang lalu, ya tempatnya di sini, di rumah saya,” kata perempuan 68 tahun ini.

Dia lantas bercerita. Semuanya berawal saat dia merasakan es krim homemade Eskimo produksi Surabaya. ”Kok rasanya enak ya. Nggak ada pengawetnya, jadi untuk anak-anak pasti aman,” kata Jeane.

Singkat cerita, dia ditawari oleh orang Surabaya tersebut untuk menjual es krim itu di Kota Malang. Karena itu, dia menamakan tempatnya Griya Eskimo.

Sejak berdiri, Griya Eskimo menawarkan rasa es krim yang tidak biasa dan cenderung jadul (kuno). Bentuknya persegi panjang dan hanya dibungkus dengan plastik. Varian es krimnya banyak yang masih memakai istilah asing, seperti cassata, krokant, dan pezzi duri. Cassata adalah es krim dengan rasa moka, stroberi, slagroom (lapisan paling atas dari susu), dan cokelat. Satu buah es krimnya seharga Rp 16.000.

Soal rasa, es krim Eskimo memang beda. Es krimnya bisa langsung lumer di mulut sejak gigitan pertama. Karena tanpa bahan pengawet, sama sekali tidak terasa ada pengawetnya. Rasa susu yang kuat tidak membuat serak tenggorokan. Jadi, es krim Eskimo ini sangat cocok dikonsumsi anak-anak.

”Kalau di sini rasa es krim yang cepat habis itu moka dan vanila”, ungkap wanita kelahiran Surabaya, 15 Desember 1949 ini.

Salah satu menu es krim yang dia buat adalah Eskimo Special yang terdiri dari tiga scoop ice cream (rasa moka, rhum raisin, slagroom) ditambah whipped cream dan saus stroberi di atasnya. Sebagai pelengkap, ada taburan nougat dan beberapa potong buah stroberi. Untuk nougat dan saus stroberi, semuanya buatan tangan Jeane. Satu gelas es krim spesial ini dijual dengan harga Rp 27.500.

Selain es krim, menu yang wajib dicoba di Griya Eskimo adalah berbagai kuenya (pastry). Sejak muda, Jeane memang hobi membuat kue, terutama kue-kue klasik khas Eropa. Awalnya, dia hanya membuatkan pesanan untuk kalangan terdekat. Namun, atas dorongan teman-temannya, dia akhirnya berani menjual kue-kue buatannya ke kalangan luas.

”Ini yang banyak dicari orang. Dan saya selalu memastikan bahwa kue-kuenya selalu fresh dibuat setiap hari dari jam 8 pagi”, ungkap ibu dua anak yang sekarang sudah mempekerjakan 10 orang ini.

Salah satu kue andalan Griya Eskimo adalah Éclair, yaitu sejenis kue sus dengan isi vla dan baluran cokelat di atasnya.

”Banyak yang suka sama vlanya. Memang saya bikin vlanya nggak pakai mixer. Ya ngaduk pakai tangan sampai sekitar 1,5 jam. Seperti bikin jenang begitu”, tambah Jeane.

Selain Éclair, ada belasan jenis snack lain yang dibuat setiap hari oleh Jeane. Di antaranya, rhum horn (cum-cum), kue amandel mente, roselio atau putu Belanda (isi vla, mete, kismis, dan buah peach), saucijs brood (isi daging), sus galantine (isi telur daging, keju, acar), elementel (pastry isi keju), kippen (pastry isi ragout ayam), dan worscheese (pastry sosis keju), dan lain-lain.

”Jeane juga sering menerima pesanan kue untuk acara wisuda hingga wedding. ”Pernah saya bikin pesanan sampai 1.000 kue. Mulai untuk wisuda sampai untuk acara pernikahan,” pungkasnya.

Pewarta: Tabita Makitan
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Darmono