MALANG KOTA – Harus diakui, sektor akomodasi di Kota Malang tumbuh subur dalam beberapa tahun belakangan. Pertumbuhan itu tak hanya terjadi pada hotel-hotel berbintang maupun hotel melati, tapi juga hostel yang menyasar segmentasi turis backpacker.

Berdasarkan data yang dihimpun wartawan koran ini, sedikitnya terdapat lima hostel yang eksis di Kota Malang. Hostel-hostel itu menawarkan tarif yang murah meriah. Tarifnya antara Rp 75 ribu–Rp 155 ribu semalam.

Salah satunya Butik Capsule Hostel. Penginapan yang berada di wilayah Kelurahan Rampal Celaket ini memiliki dua kamar berukuran besar.

Kamar di lantai satu dikhususkan bagi tamu laki-laki. Di kamar tersebut terdapat kasur bertingkat yang bisa menampung 12 orang.

Sementara kamar di lantai dua diperuntukkan bagi tamu perempuan. Kasur bertingkat di kamar tersebut bisa menampung hingga 20 orang.

Selain kasur dengan model bertingkat seperti itu, fasilitas yang bisa diperoleh tamu di antaranya, sarapan pagi, wifi, kamar mandi luar, televisi kabel, hingga sewa gratis sepeda gunung. Fasilitas itu cukup sebanding bila melihat tarifnya Rp 100 ribu per malam.

Salah seorang pegawai Butik Capsule Hostel menyatakan, penginapan yang dia kelola itu sudah memiliki pangsa pasar tersendiri. Kebanyakan adalah wisatawan backpacker atau bisa disebut juga wisatawan berbujet minim. ”Dari lokal ada, mancanegara juga ada,” ujarnya.

Setiap harinya, rata-rata ada 15 tamu yang menginap di Butik Capsule Hostel. ”Belakangan, yang menginap bukan hanya turis. Tapi, juga calon mahasiswa yang mendaftar masuk ke perguruan tinggi (PT) di Kota Malang. Ada yang menginap satu hari, ada pula yang satu minggu,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Dwi Cahyono mengakui bahwa hostel memang sudah punya pangsa pasar tersendiri. Baik itu turis maupun calon mahasiswa PTN di Kota Malang. Dengan tarif kamar yang murah, tamu bisa memperoleh fasilitas yang dapat mengakomodasi kebutuhan mereka.

Dwi menyampaikan, tren penginapan berbujet murah itu belakangan memang naik daun. Tak hanya di Kota Malang, tapi juga kota-kota lain di tanah air. Terutama kota-kota yang memiliki banyak perguruan tinggi.

”Trennya seperti itu, apalagi untuk kalangan mahasiswa. Apalagi mereka hanya membutuhkan waktu satu hingga dua hari untuk menginap,” paparnya. Menurut dia, kalau memang pangsa pasarnya mahasiswa, penginapan jenis tersebut akan tumbuh.

Dwi juga menyatakan, setiap jenis hotel memiliki segmentasi sendiri-sendiri. Mulai dari hotel kelas melati, guest house, dan lain-lainnya. Menurut dia, saat ini pelaku industri hotel telah banyak melakukan inovasi.

Dari segi fasilitas pun juga terus ditingkatkan. ”Paling tidak untuk kenyamanan dan keamanan. Itu untuk yang umum saja,” jelasnya. Dwi mengungkapkan, di Kota Malang sendiri masih belum banyak hotel semacam itu.

Pewarta: Fisca Tanjung
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Bayu Eka