MALANG – Memiliki kawasan strategis sebagai  penunjang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS), Kabupaten Malang akhirnya ditunjuk menjadi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menjadi pusat Badan Otorita Bromo Tengger Semeru (BTS).
Penunjukkan itu telah disampaikan pekan lalu (4/9) dalam rapat koordinasi antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang bersama Deputi Pengembangan Destinasi dan Industri Kemenpar. ‘’Sebenarnya kawasan penunjang TN BTS itu kan empat daerah, nah ternyata Kabupaten Malang lebih siap sebagai Kantor Pusat Badan Otorita TN BTS, karena memiliki lahannya,’’ kata Made Arya Wedhantara, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Jumat (8/9).
Empat daerah menjadi kawasan penunjang TN BTS selain Kabupaten Malang adalah Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, dan Lumajang. Kemenpar yang dipimpin Menpar Arief Yahya itu telah menetapkan TN BTS merupakan salah satu destinasi wisata di antara wilayah 10 Bali baru.
Untuk itulah, kata Made, Kabupaten Malang telah menyiapkan lahan seluas 150 hektar di Kecamatan Wonosari. Tanah itu milik Kabupaten Malang peninggalan Belanda yang dimanfaatkan untuk perkebunan teh. ‘’Di situ akan dibangun kawasan perkantoran Badan Otorita BTS,’’ ujarnya.
Potensi wisata yang akan dikembangkan, selain perkebunan teh juga wana wisata religi Gunung Kawi. Karena kawasan itu juga bersinggungan dengan kawasan Gunung Kawi. Dari keseluruhan luas lahan yang tersedia, 50 hektare di antaranya akan diambil alih oleh Badan Otorita untuk mereka kelola. Sisanya tetap berada di bawah pengawasan Kemenpar.
Meski demikian, lanjut Made, tetap ada sinergi dengan pemerintah daerah dalam bentuk penyertaan modal. Dengan adanya kawasan penunjang wisata BTS itu maka ujungnya adalah pertumbuhan masyarakat di sekitarnya. Karena disitu nanti akan banyak hotel, home stay, restoran, kuliner. ‘’Perkembangan kawasan itu akan lebih cepat pertumbuhannya, karena dimonitor langsung Kemenpar,’’ ujarnya.
Made juga menambahkan, saat ini pihaknya sudah mulai melakukan verifikasi yang menunjang sisi bisnis dan pariwisata untuk dikembangkan khususnya di lokasi wisata religi Gunung Kawi. Diantaranya kesenian lokal sekitar Gunung Kawi, makanan khas masyarakat setempat yang bisa dijual untuk para wisatawan. ‘’Kami perlu melakukan itu, karena nantinya akan ketemu kuliner, dan kesenian khas masyakarat sekitar Gunung Kawi, yang nantinya bakal menjadi ciri khas di kawasan baru itu,’’ pungkasnya.(*)