Didik Nini Thowok, seniman tari nasional, tampil menghibur dalam acara Gumebyar Pesona Gunung Kawi kemarin (19/9).

KABUPATEN – Nama Gunung Kawi sudah kesohor di berbagai penjuru negeri sebagai salah satu destinasi wisata ziarah (religi). Namun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang tidak langsung puas begitu saja.

Untuk memaksimalkan segala potensi yang ada, pemkab menggelar event Gumebyar Pesona Gunung Kawi yang resmi dibuka kemarin (19/9).

Dalam acara yang dihelat dalam rangka menyambut peringatan Tahun Baru Islam 1439 Hijriah tersebut, selain digeber berbagai kesenian tradisional, juga disajikan beragam makanan berbahan dasar tela (telo). Mulai dari puding, gethuk, sambal goreng, bakpia, opak gambir, pai, siomay, dan bakwan. Selain itu, ada selendang mayang, jus, rempeyek, onde-onde, dodol, bakmi, pastel tutup, rendang, dan masih banyak makanan lainnya.

Wakil Bupati (Wabup) Malang H.M. Sanusi dalam sambutannya berharap, Gunung Kawi bisa mengambil bagian sebagai penguat status kabupaten yang unggul dalam bidang pariwisata.

”Presiden RI Joko Widodo telah menetapkan Kabupaten Malang sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata unggulan nasional,” ujar Sanusi kemarin.

Sebagai dampak dari dikukuhkannya Kabupaten Malang sebagai bagian dari Pesona Indonesia, Jokowi menargetkan satu juta wisatawan yang datang ke masing-masing destinasi wisata itu.

”Dengan rincian setiap wisatawan mancanegara harus membelanjakan uang senilai USD 100 atau Rp 1,324 juta (jika kurs 1 dolar=Rp 13.240). Jadi, akan ada uang senilai total Rp 1,3 triliun yang masuk ke daerah,” terang Sanusi.

Nah, tugas pemerintah daerah nantinya, masih kata Sanusi, adalah memanfaatkan pundi-pundi anggaran tersebut untuk menekan angka kemiskinan di daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara menuturkan bahwa Gumebyar Pesona Gunung Kawi yang digelar hingga Kamis (21/9) ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap kelestarian kearifan lokal masyarakat Gunung Kawi.

”Ada dua target yang ingin kami usung lewat kegiatan ini, yaitu kuliner dan budaya,” kata Made.

Dijumpai di sela-sela acara, Made menuturkan bahwa pihaknya ingin mengangkat telo Gunung Kawi sebagai ciri khas kuliner andalan.

”Pariwisata tidak bisa lepas dari kuliner. Untuk memperkaya variasi produk andalan inilah, saya meminta kepada semua perwakilan PKK dari seluruh kecamatan untuk memamerkan semua produk berbahan baku telo,” terang Made.

Alhasil, puluhan kreasi jajanan maupun makanan utama pun disajikan ibu-ibu PKK yang datang dari seluruh penjuru wilayah Kabupaten Malang. Semua masakan tersebut berbahan baku telo. Dengan munculnya sajian kuliner berbahan dasar telo, Made berharap, masyarakat Gunung Kawi sebagai tuan rumah bisa menjadi inspirasi.

Selain kuliner, dalam gelaran gumebyar tersebut juga digelar lomba kreativitas tari. ”Kami datangkan langsung maestro penari nasional Didik Nini Thowok untuk membantu dalam hal penilaian,” ujar Made.

Menyesuaikan dengan latar belakang masyarakat Gunung Kawi yang masih sarat dengan nilai-nilai budaya, Made berkeinginan agar tari yang merepresentasikan daerah itu nantinya menjadi karya seni yang bedhoyo atau sakral.

Sementara itu, dalam agenda pembukaan kemarin, Didik Nini Thowok juga tidak absen dalam menampilkan pertunjukan yang eksotis. Membawakan tarian yang berjudul tari Pancasari, keluwesan geraknya dalam mengikuti alunan musik tak hentinya mengundang perhatian penonton. Tidak tanggung-tanggung, dalam penampilannya, Didik berganti kostum sebanyak empat kali berturut-turut.

Dibawakannya tarian Pancasari, menurut Didik, mewakili keanekaragaman yang juga tecermin di kompleks Gunung Kawi. ”Ada umat Islam dan ada Tionghoa, nyatanya selama ini semua masyarakat bisa hidup berdampingan secara rukun,” kata Didik.

Seperti tergambar dalam tarian tersebut, Didik juga menyelipkan simbol-simbol budaya dari beberapa etnis. Hal ini sekaligus menjadi tantangan bagi masyarakat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

”Jadikan perbedaan itu sebagai pemersatu, bukannya alat untuk saling mengadu domba,” tambahnya.

Pewarta: Farik Fajarwati
PenyuntingL Kholid Amrullah
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Falahi Mubarok