KOTA BATU – Tingginya jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Apel ini ternyata tak berdampak pada sektor usaha perhotelan skala kecil. Bahkan, berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, kondisi 14 hotel kecil memprihatinkan, alias ’hidup segan mati tak mau’.

Padahal, masing-masing hotel tersebut rata-rata memiliki 30–70 kamar. Sedang, tingkat kunjungan antara 150–300 orang per bulan atau 5–10 orang tiap hari.

Untuk diketahui, jumlah wisatawan yang berkunjung di kota dingin ini, mencapai 3,9 juta orang pada 2015 dan 4,2 juta orang pada 2016. Sedang tahun ini, jumlah kunjungan ditargetkan naik 10 persen.

Jawa Pos Radar Batu mendatangi beberapa hotel untuk menggali informasi tentang penyebab mati surinya 14 hotel tersebut. Salah satunya, Hotel Palem Sari, di Jalan Raya Punten Nomor 2, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji.

Dari luar, hotel yang berlokasi di tepi Jalan Raya Bumiaji ini, tampak sepi. Di pintu gerbang, juga tak ada satpam yang berjaga.

Begitu juga saat tiba di ruang lobi hotel, tak ada satu orang pun. Beberapa kali wartawan koran ini mengucapkan salam, juga tak berbalas.

Baru beberapa menit kemudian, muncul perempuan dari belakang ruang lobi. ”Kalau mau tanya-tanya tentang hotel, langsung ke bapaknya saja (manajer hotel). Ditunggu sebentar, saya panggilkan,” kata karyawan tersebut saat Jawa Pos Radar Batu menyampaikan keinginan untuk wawancara dengan pihak hotel, beberapa hari lalu.

Sementara itu, Firman Ali, manajer operasional Hotel Palem Sari membenarkan bahwa hotel yang dipimpinnya sepi pengunjung. Hal ini terjadi sejak 2015 lalu.

Menurutnya, pengunjung hotelnya sekitar 150–300 orang per bulan atau 5 hingga 10 orang per hari. Padahal, di tempatnya, ada 37 kamar yang disewakan.

Praktis, ada 27–32 kamar yang tidak terisi atau ’terjual’ tiap bulan. ”Ini (hotel-hotel kecil sepi, Red) terjadi banyak faktornya,” terang Firman.

Salah satunya, lanjutnya, hal itu terjadi karena banyak hotel besar yang banting harga. Bahkan, pada saat low season, hotel besar ini membanderol harga seperti hotel kecil.

Sedang, harga hotel kecil itu per malam hanya berkisar Rp 200 ribu–Rp 570 ribu untuk kapasitas 6 orang. ”Jelas hotel kecil kalah. Sebab, dari segi fasilitas yang ditawarkan, mereka (hotel besar) unggul,” imbuh pria 45 tahun ini.

Tak hanya itu, lanjutnya, dari segi finansial atau modal untuk pengembangan, hotel kecil juga kalah jauh. Sebab, sebagian besar hotel kecil, termasuk yang dipimpinnya, dimiliki warga asli Batu. ”Dari segi modal, tak sebesar mereka (hotel besar). Kebanyakan hotel kecil yang punya orang pribumi,” ungkap dia.

Hal senada disampaikan Eny Yuliastuti, manajer Hotel Monalisa di Jalan Raya Selecta, Bumiaji. Menurut dia, ketatnya persaingan dengan hotel besar yang membuat hotel kecil sulit berkembang. ”Mau gimana lagi, kalau pas low season hotel baru (hotel besar) harganya sama (dengan hotel kecil, Red),” tambah perempuan 52 tahun ini.

Terpisah, Sugeng Haryanto, pemilik hotel Palem Sari juga mengeluhkan hotel baru yang banting harga. Sehingga, kondisi itu membuat hotel kecil kesulitan untuk ’meraih’ pasar. ”Kalau hotel besar tarifnya kecil, pasti orang pilih hotel besar,” keluh dia.

Lebih lanjut, hal ini juga membuat dirinya harus benar-benar efisien dalam menggunakan biaya operasional. Bahkan, dia masih menangguhkan untuk merenovasi pengecatan hotelnya.

Namun, meski sepi, Sugeng enggan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Lantaran, dia ingin membantu warga sekitar dalam menciptakan lapangan kerja. ”Saya kasihan dan nggak tega untuk PHK, lebih baik saya pangkas biaya perawatan,” jelas dia.

Hanya saja, saat disinggung tentang keinginan mendatangkan investor guna pengembangan hotel, Sugeng tak punya niat. Dia bakal berusaha keras dengan kondisi yang ada agar hotelnya tetap ’hidup’. ”Lebih baik saya perbanyak pemasaran lewat pameran PHRI dan agen travel (daripada datangkan investor, Red),” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua PHRI Kota Batu Bambang Setia Dharma mengungkapkan, dari 66 hotel di  kota Batu, sekitar 14 hotel sedang ’sekarat’. Lantaran, bangunannya sudah tua dan tampak kurang terawat serta fasilitas kalah dengan hotel besar.

Sehingga, hal ini bakal membuat wisatawan berpaling ke hotel besar. Apalagi, dari fasilitas, juga jauh dibandingkan hotel besar. ”Apalagi, lokasi hotelnya (hotel kecil) juga jauh dari tempat wisata,” ungkap pria yang juga pemilik Boutique Hotel Villa Kampung Lumbung Batu tersebut.

Hanya saja, Bambang optimistis, hotel kecil itu mampu bersaing ke depan, tapi syaratnya manajemen hotel mau lebih kreatif. Salah satu caranya, dengan membuat konsep hotel yang punya karakter dan keunikan sendiri.

Pasalnya, sekarang, orang yang datang ke hotel tak hanya untuk menginap, tapi juga untuk selfie. ”Kesempatan ini yang harus dimanfaatkan hotel agar bisa bertahan dan bersaing,” tandas dia.

Pewarta: Dian Kristiana
Penyunting: Imam Nasrodin
Foto: Radar Malang