Walaupun Kedai Mie Sutoyo baru dibuka pukul 09.00 pagi, tapi tidak jarang sebelum itu pegawainya sudah sibuk mengantarkan pesanan. Ya, selain membuka warung, Kedai Mie Sutoyo mempunyai layanan delivery (pesan antar).

”Banyak sih pelanggan yang minta pesanannya diantar pukul 08.30 ke kantor,” ungkap Fangny Juwono, istri Muliady yang merupakan pemilik warung.

Di Kedai Mie Sutoyo, kebanyakan pelanggan adalah pegawai kantoran seperti dari Bank BNI dan Hotel Savana yang lokasinya berdekatan dengan warung. Banyak juga yang awalnya iseng-iseng coba. Seperti Yanti, warga yang tinggal di daerah Tidar.

”Tadi kebetulan pas lewat aja. Setelah mencoba, saya cocok sih. Bumbunya enak”, katanya kemarin (3/8).

Pelanggan cwie mie Sutoyo memang beragam. Mulai dari anak-anak hingga lansia. ”Mungkin karena cocok sama rasanya ya. Kan memang minya aman dikonsumsi. Untuk perut nggak bikin kembung, untuk tenggorokan juga enak. Apalagi sekarang tren hidup sehat sedang ramai,” kata Muliady.

Menariknya, ada pelanggan setia mereka yang berusia di atas 90 tahun. ”Ada dua lansia, yang satu sudah susah ngunyah, yang satu kalau makan harus diblender. Jadi, walaupun mereka sudah tua dan pencernaannya mungkin sudah lemah, tapi masih bisa makan cwie mie produksi kita”, ujarnya lagi.

Penikmat Kedai Mie Sutoyo juga banyak yang berasal dari luar kota. Bahkan, ada pula sejumlah pelanggan yang sampai membawa frozen (makanan beku) cwie mie yang juga diproduksi oleh Muliady.

”Sejak dua setengah tahun lalu, kita memproduksi frozen cwie mie karena banyak pelanggan yang minta. Dalam satu paketnya itu, kita siapkan mi, bumbu, dan ayam,” kata Fangny.

Saat wartawan koran ini berkunjung ke sana, mereka sedang menyiapkan pesanan 100 pak frozen cwie mie untuk dikirim ke Blora.

”Paling jauh itu ada yang bawa sampai ke Amerika, ke Inggris. Kalau Singapura malah setiap bulan. Kebanyakan mereka pernah makan di sini, terus suka, lalu pas pulang ke sini teman-temannya banyak yang nitip,” ujar wanita berkacamata ini.

Untuk satu paket frozen cwie mie berisi dua porsi dan dapat dibeli dengan harga Rp 40.000. ”Yang punya aja belum pernah ke Amerika. Malah minya sudah sampai ke mana-mana”, katanya lalu melepas tawa.

Pewarta: Tabita Makitan
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Darmono