MALANG KOTA – Tidak berlebihan bila menyebut Kota Malang sebagai surganya bisnis kafe. Pada kuartal pertama 2016 ini, pertumbuhan kafe mencapai 100 persen bila dibanding tahun sebelumnya.

”Pertumbuhan bisnis makanan luar biasa berkembang pesat,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Cabang Malang Indra Setiyadi kepada Jawa Pos Radar Malang, kemarin (29/4).

Dia mengatakan, bisnis kafe bisa berkembang lebih pesat dengan adanya strategi pemasaran. Salah satunya lewat campur tangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang. ”Harus ada promosi. Karena itu (kafe) merupakan salah satu sumber pendapatan daerah,” ucap Indra.

Artinya, promosi tidak hanya dilakukan oleh si pelaku bisnis. Tapi juga harus dibarengi dengan upaya dari pemerintah. Salah satunya lewat disbudpar.

Indra mengatakan, bisnis yang bergerak di sektor makanan dan minuman harus menjadi prioritas ke depannya. Sebab, bisnis tersebut memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi dan neracanya selalu positif walaupun perekonomian sedang tidak stabil. ”Di Malang sendiri, pertumbuhan kafe mencapai 100 persen. Misal, tahun lalu kafe berjumlah 10, sekarang bisa dua kali lipatnya,” paparnya.

Soal tren, belakangan tengah menjamur coffee shop dan beerhouse. Tren ini bisa muncul karena Malang merupakan kota pendidikan. Banyak mahasiswa yang senang pergi ke kafe. ”Itu menjadi sasaran empuk bagi para pelaku bisnis makanan dan minuman,” beber Indra.

Dengan semakin berkembangnya infrastruktur dan potensi wisata, maka bisnis kafe makin berkembang pula. ”Banyak kafe-kafe baru bermunculan. Meskipun baru, peminatnya terus meningkat,” ucap dia.

Indra menjelaskan, pertumbuhan bisnis kafe diprediksi masih bergairah hingga tutup tahun ini. ”Apalagi dengan datangnya era MEA, para pelaku bisnis semakin banyak berinovasi,” kata Indra.

Salah satunya dengan memunculkan berbagai macam varian makanan dan minuman baru yang belum pernah ada sebelumnya. ”Masyarakat juga tidak segan mengeluarkan sejumlah uang hanya untuk menikmati hidangan di suatu restoran atau kafe,” ungkapnya.

Sementara itu, Humas Apkrindo Daniel Indra Pribadi menambahkan, Kota Malang menegaskan diri sebagai kota kreatif lewat bisnis kafe. ”Bisa jadi seperti Kota Bandung,” terangnya.

Meskipun Kota Malang tidak mempunyai potensi wisata alam, namun dengan adanya wisata kuliner, tidak menutup kemungkinan hal itu mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke Malang. Oleh Karena itu, dia berharap, para pelaku bisnis kafe bisa terus mengeluarkan inovasi. Sehingga tidak melulu mainstream seperti kafe-kafe pada umumnya.

Pewarta: Fisca Tanjung
Penyunting: Indra Mufarendra
Foto: Bayu Eka