Interior Museum Musik Indonesia di Kota Malang.

KOTA MALANG – Kesan sepi kental terasa saat memasuki Gedung Kesenian Gajayana. Apalagi jika sedang tidak ada pementasan seni. Di lantai dua bangunan tua tersebut, terdapat ruang yang terpisahkan oleh sekat. Di depan pintu masuk, bertuliskan Museum Musik Indonesia (MMI) beserta harga tiket masuk (HTM) sebesar Rp 5 ribu untuk dewasa. Sedangkan anak-anak, bebas biaya masuk.

Memasuki MMI, pengunjung bakal disambut 22 ribu koleksi. Mulai dari kaset, CD, piringan hitam, alat musik, majalah, hingga kostum yang pernah digunakan para musisi saat di atas panggung.

Semua koleksi tersebut dapat memanjakan mata para penikmat musik. Terlebih, semua tertata dengan baik dan rapi di tiap raknya. Bergantung pada jenis media dan negara asal. Bahkan, tersedia satu rak khusus untuk musisi Malang. Rak tersebut bertuliskan Gnaro Ngalam. Bahasa walikan khas Malang yang berarti Orang Malang.

Tak hanya memanjakan mata, penikmat musik juga bisa mendengarkan musik tersebut secara langsung. MMI telah mendigitalisasi 14 ribu judul lagu dari 210 ribu lagu yang tersedia disana. Caranya cukup mudah. Sebab dapat diakses melalui gadget masing-masing. Tinggal nyalakan wifi, ketik alamat web yang sudah disediakan, maka puluhan ribu judul lagu akan muncul dan siap memanjakan telinga.

Selain itu, MMI juga dilengkapi studio mini. Dimana peralatan bandnya lumayan lengkap. Pengunjung juga bisa memainkan alat-alat musik yang tersedia disana.

Ada juga beragam merchandise yang disediakan. Mulai dari kaos, CD, korek api, dan lain sebagainya. Barang-barang inilah yang menjadi penyokong biaya operasional MMI. Sebab, MMI belum mempunyai investor. Jadi, akan sangat baik jika pengunjung merelakan sedikit uang untuk membeli merchandise. Sebab, hal tersebut dapat membantu kelangsungan hidup MMI.

Museum ini juga menjadi langganan jujukan para musisi saat bertandang ke Kota Malang. Sebut saja Dara Puspita, Grace Simon, White Shoes & The CC, Yovie Widianto, Burgerkill, Anang Hermansyah, Leo Kristi, dan masih banyak lagi. Kalangan pejabatpun juga tak ketinggalan. Salah satunya Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf yang datang pada 2016 lalu.

Triawan sendiri cukup berjasa bagi MMI. Pengaruhnya berhasil membantu MMI mendapat tempat baru. Pasca kontrak tempat lama di Perumahan Griyasanta habis. Sehingga akses mendapat ruang di Gedung Kesenian Gajayana dipermudah oleh pemerintah kota Malang.

Saat ini, MMI sedang giat mengumpulkan alat-alat musik tradisonal nusantara. Guna memperkaya koleksi di dalamnya. Dengan tangan terbuka, MMI siap menerima sumbangan alat musik jenis apa saja.

Terkait kunjungan, secara rata-rata MMI menerima tamu sebanyak 10 orang per hari. Sebab, tak banyak orang tahu Kota Malang mempunyai museum musik. Padahal, MMI adalah satu-satunya museum musik di Indonesia.

Lebih miris lagi, MMI lebih dikenal oleh warga negara asing. Bahkan menjadi tempat penelitian. Sejauh ini, sudah ada 3 orang Amerika dan 1 orang Belanda yang melakukan penelitian tentang MMI.

*Tulisan ini tayang di Sriwijaya Inflight Magazine edisi Juni 2017.

Oleh: Lizya Oktavia Kristanti