Pentol Keju-Jamur Andalan, Tak Pernah Rahasiakan Resep

Pada usianya yang sudah 29 tahun, Warung Bakso Putra Sempol sudah kenyang dengan persaingan di kota yang terkenal sebagai kota bakso ini. Inovasi dan selalu tau kemauan pelanggan, menjadi kunci sukses.

Warung Bakso Putra Sempol di Jalan Jaya Mulya Nomor 378, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, memang jauh dari kesan mewah. Warung ini ada di sebuah gang. Penanda paling mudah adalah masuk dari gang yang ada di depan Mall Dinoyo City (MDC) di Jalan MT Haryono, Kota Malang.

Setelah masuk dari gang yang ada di seberang MDC itu, sekitar seratus meter kita akan menemukan perempatan yang di tengah-tengahnya ada tong. Setelah itu, belok ke arah selatan. Nah, berjarak sekitar 50 meter, kita akan menemukan warung bakso sederhana yang selalu riuh dengan pembeli.

Ketika wartawan Jawa Pos Radar Malang berkunjung ke tempat ini kamis (5/5) lalu, sejumlah pembeli menikmati bakso yang kuahnya sedang mengepul panas. Aneka macam pentol menjadi andalan bakso ini.

Ya, agar berbeda dengan warung bakso pada umumnya, warung ini mengandalkan pentol dengan aneka varian. Ada bakso yang berisi jamur, keju, dan cabai. Tentu saja, ketika digigit, pentol tersebut menawarkan sensasi kenikmatan yang berbeda.

Selain itu, menu lain juga tidak kalah menggoda. Ada goreng pangsit, goreng pedas, goreng usus, goreng sayur, siomay original, siomay pedas, tahu bakso, mi, kepala ayam, dan jeroan.

Warung bakso milik Sugito ini sudah berdiri 1987 lalu. Sehari-hari Sugito ditemani lima karyawannya dalam membuat dan menyajikan bakso kepada para pelanggan. ”Sejak tahun 1984 sebenarnya saya sudah mulai belajar membuat bakso, tapi masih ikut orang. Baru tahun 1987 mulai jualan mandiri,” kata Sugito.

Awalnya, pria 53 tahun ini berjualan berkeliling menggunakan gerobak. ”Pertama jualan tidak di sini, tapi di Jalan Mayjen Panjaitan Gang 15 masih didorong pakai gerobak,” tambah Sugito.

Setelah satu tahun berjualan keliling, Sugito yang ketika itu masih membujang, lalu pindah berjualan di Jalan Jogja (sekarang Jalan Veteran) dengan menggunakan tenda kaki lima. ”Saya jualan di depan SMA 8 selama dua tahun sebelum digusur,” terang dia mengenang awal mula perjuangannya.

Setelah mengalami penggusuran, Sugito kembali berjualan ke Jalan Mayjen Panjaitan dan kembali mendirikan tenda di depan bengkel las yang berada di dekat gerbang Universitas Brawijaya Malang sekarang.

Di lokasi tersebut, selain menjual sendiri bakso buatannya, Sugito juga mulai mengembangkan usahanya dengan memberdayakan lima orang pedagang bakso keliling. ”Di sana saya jualan selama 20 tahun, sambil merintis yang di sini (tempat jualan saat ini),” terang Sugito.

Takdir kembali berkata lain, lokasi berjualan yang bukan miliknya, menuntut ayah empat anak tersebut harus kembali pindah lokasi jualan di tempat dia membuka kedai saat ini. ”Waktu itu juga masih nunut di tempat orang,” imbuhnya.

Jika sebelumnya Sugito menamai bakso buatannya Putra Harapan, sejak pindah ke Jalan Jaya Mulya, Sugito mengubah nama kedainya menjadi Bakso Putra Sempol.

Pahit manis kehidupan yang dialami oleh Sugito, membuat kakek satu cucu tersebut banyak belajar dari pengalaman. Sugito tidak segan-segan membagi ilmunya kepada siapa saja yang ingin belajar cara membuat bakso kepadanya.

Tidak jarang juga Sugito dipanggil untuk memberikan pelatihan kepada warga untuk usaha membuat bakso. ”Tidak ada yang saya tutup-tutupi. Semua yang saya tahu akan saya ajarkan kepada yang ingin belajar supaya barokah,” tegasnya.

Selain dijual sendiri, Sugito memasarkan bakso buatannya ke pedagang-pedagang bakso kaki lima. Pernah suatu ketika Sugito memiliki 28 outlet pelanggan yang mengambil bakso dari tempatnya.

Namun saat ini karena berkurangnya jumlah tenaga, Sugito hanya melayani kebutuhan lima outlet yang tersebar di Kota Malang. ”Bahannya saja mereka ambil dari saya, tapi untuk merek dagang, saya serahkan pada penjualnya sendiri,” pungkasnya.(iik/c1/riq)