Sejak tahun 1970-an, warung tersebut sudah berada di gang buntu. Bedanya, tahun 70-an lalu, almarhum Riama, pemilik pertama warung tersebut menjual rujak. Titik, salah seorang pengelola warung menceritakan jika keadaannya dulu kurang lebih sama dengan keadaan warung yang saat ini.

Dari dulu Riama selalu mengajari agar hidup sederhana.”Ibuk selalu berpesan, opo onoe ae lah (apa adanya sajalah, Red),” kata Titik. Dari dulu hingga saat ini, warung bercat kuning ini masih beralaskan ubin. Ada dua kursi panjang dan beberapa kursi plastik.

Ada satu kamar tidur dan dapur kecil berukuran satu kali 2,5 meter. Terdapat tiga kompor arang dan tempat cuci piring. Hanya tempat cuci piring saja yang direnovasi. Selebihnya tidak. Titik setiap harinya memasak dan menyiapkan makanan di warung itu.

Untuk aktivitas sehari-hari, pukul delapan malam dia mulai memasak sate komoh dan semur daging. Biasanya, dia selesai pukul sebelas malam. ”Kalau banyak pesanan, biasanya saya sampai tidak tidur,” kata dia.

Pagi harinya setelah subuh, dia berbelanja ayam dan sayur yang dimasak untuk pagi hari. Warga sekitar sampai hafal dengan kebiasaannya lantaran sudah berpuluh-puluh tahun.

Dia juga mengatakan, pelanggan tidak pernah ada yang komplain mengenai tempat. Mereka lebih mengutamakan cita rasa yang ditawarkan Warung Nasi Campur Gang Buntu tersebut.

Setiap harinya, selain dua saudaranya, dia juga dibantu oleh anak bungsunya, Nur Aini. ”Saya bersyukur kok. Yang penting saya amanah, melanjutkan usaha ibu,” kata dia. Dia juga mengungkapkan, anak dan cucunya banyak yang hobi masak sepertinya

Pewarta: Rae Sheila
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono