Wonderful Indonesia

NTT — Event-event menarik kembali digelar di daerah perbatasan dalam meningkatkan kunjungan wisata perbatasan (crossborder). Salah satu yang paling aktif adalah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kembali menggelar kegiatan border tourism.

Di daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Timor Leste ini, digelar Rally Motor Wisata yang berlangsung selama dua hari pada 17 hingga 18 November 2017 kemarin. Event ini sukses menarik minat 100 pecinta rally motor baik dari Timor Tengah Utara maupun Timor Leste, menjelajahi eksotisme daerah perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

“Reli motor wisata perbatasan ini merupakan bagian dari paket kegiatan jelajah pesona Timor Tengah Utara dengan tujuan mengenal lebih dekat potensi pariwisata Timor Tengah Utara,” ujar Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Raymundus Sau Fernandes melalui Asisten Ekonomi dan Pembangunan Robertus Nahas.

Reli lintas ini terbagi dalam dua etape dengan panjang lintasan 187 kilometer berdurasi 13 jam. Reli dengan total hadiah lebih dari Rp 40 juta ini mengambil start di etape pertama dari Polsek Wini menuju Naekake, Jumat, (17/11).

Kemudian etape kedua, Sabtu, (18/11) dimulai dari Naekake (Kecamatan Mutis) menuju lapangan Oemanu Kefamenanu sebagai garis finis. Penilaian pemenang berdasarkan ketepatan waktu, kedisiplinan dan ketaatan memakai perlengkapan dalam berkendara.

Dari 100 peserta, akhirnya hanya tersisa 40 peserta yang berhasil bertahan hingga garis finish. Mereka terpaksa mundur di tengah perjalanan karena alasan teknis.

Robertus Nahas mengatakan, para peseta melewati empat destinasi wisata di perbatasan. Antara lain Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini yang berlokasi di Bukit Karang Tandus Manufunu. Orang sering menyebutnya “Little Texas Indonesia”.

Kemudian lokasi perbatasan Napan yang terdapat semburan lumpur dingin. Selain itu juga melintasi Mutis di mana Air Terjun Pah Koto berada serta destinasi budaya, Tola Mummi. Mayat berumur ratusan tahun. Terakhir daerah Eban terdapat daerah pengembangan Agro Wisata. “Itu semua seksi banget, alamnya indah. Coba kalai anda tidak percaya, datang saja ke sini. Masayarakat kami juga sudah open dengan wisatawan, jadi saya pastikan wisata di TTU, akan nagih dan kembali lagi,” katanya berpromosi.

Robertus menyampaikan, pengembangan pariwisata bukan semata-mata membenahi obyek wisata dan membangun infrastruktur pendukung. Tetapi promosi juga menjadi bagian krusial. Event di crossborder area ini sekaligus menjadi wadah untuk mendongkrak pamor destinasi wisata di wilayah Timor Tengah Utara.

“Bukan tidak mungkin dari cerita dan postingan para peserta reli motor di Timor Tengah Utara ini menjadikan alternatif pilihan para wisatawan mancanegara maupun domestik untuk berkunjung dan menikmati reli wisata di negara kita,” ujar Robertus Nahas yang juga diamini Kepala Bidang Penguatan Jejaring Kemenpar Hidayat.

Reli Motor Wisata Perbatasan 2017 berakhir secara resmi pada malam (18/11) di Lapangan Oemanu Kefamenanu oleh Kepala Dinas Pariwisata Timor Tengah Utara Agustinus Kasenube.

Agustinus mengatakan, Kabupaten Timor Tengah Utara saat ini memang terus membenahi diri terutama pada sektor pariwisata. Setelah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai satu dari empat kabupaten di Indonesia sebagai kawasan tata kelola wisata perbatasan, Dinas Pariwisata setempat dikatakannya berupaya menyiapkan sejumlah destinasi wisata unggulan.

“Salah satunya adalah di Wini ini yang menjadi titik start Reli Motor Wisata Perbatasan 2017,” ujarnya.
Seperti diketahui, Wini memang memiliki potensi wisata yang paling besar. Tingkat kunjungan wisatawanya, baik lokal maupun mancanegara sudah cukup tinggi.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengapresiasi terus tumbuhnya atraksi wisata di daerah perbatasan. Menghidupkan daerah terluar (daerah terdepan), memajukan ekonomi di daerah tertinggal, merupakan bagian dari misi Presiden Joko Widodo.

“Semakin ramai dengan kegiatan, maka kegiatan ekonomi di kawasan itu juga akan semakin hidup,” ujar Menpar Arief Yahya.

Ia pun mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menyambut berbagai kegiatan yang dilangsungkan di daerah perbatasan, utamanya di Kabupaten Timor Tengah Utara. Yakni masyarakat mulai berkreasi dengan membuat suvenir dan kuliner tradisional.

“Kalau mau memajukan sektor Pariwisata, harus berkolaborasi bersama-sama, semua unsur penthahelix Academician, Business, Community, Government dan Media (ABCGM). Semuanya harus bekerja sama dan kompak untuk menjaring wisman dari crossborder area,” jelasnya.

Arief juga mengapresiasi kegiatan yang bisa menghidupkan crossborder area itu. “Harmoni dan sinergi adalah kunci sukses kita. Kata kuncinya Indonesia Incorporated,” kata Arief.(*)