KULONPROGO – Pesona Kalibiru membawa keluarga Raja Monolog Butet Kartarejasa dan kawan-kawan menghabiskan waktu akhir pekan di tempat tersebut. Butet beserta istri dan cucunya bermalam pula di salah satu wisata alam yang terdapat di daerah kabupaten Kulon Progo, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

Pemeran Sentilun ini bersama komunitasnya punya kegiatan rutin setiap Minggu pagi yang dia sebut Sarekat Ngobong Kalori. Ini adalah kegiatan “jelajah desa” dengan berjalan kaki di pagi hari untuk membakar kalori. Kegiatan ini berpindah-pindah lokasi. Tempat-tempat yang eksotis di wilayah Jogja sering menjadi “sasaran” komunitas ini.

Akhir pekan kemarin, kawasan Kalibiru yang berada di ketinggian 450 meter di atas permukaan laut (mdpl) mereka pilih. Kebetulan salah satu anggota Sarekat Ngobong Kalori asli warga Kalibiru.

“Untungnya salah seorang warga Sarekat Ngobong Kalori, Suwarno Wisetrotomo, asli putra daerah Kalibiru, Hargowilis, Kulonprogo. Maka apa boleh buat, dia bersama bininya Mbak Rini, terdaulat sebagai tuan rumah dengan tugas khusus: memanjakan semua warga SAREKAT yg sejak Sabtu sore menginap di situ,” ungkap Butet.

Butet juga “beruntung” sebelum kegiatan “jelajah desa” ditemui oleh penguasa Kulonprogo alias Bupati Hasto Wardoyo. Dalam dialog santai dengan Hasto terungkap bagaimana kebijakan dokter kandungan ini dalam mengelola Kulonprogo yang sebentar lagi memiliki bandara internasional yang baru. Hasto berharap mendapat masukan dari para seniman dan budayawan yang ada di komunitas Sarekat Ngobong Kalori ini.

Mengenai Kalibiru, Butet menyampaikan apresiasi positifnya. Butet mengatakan Wisata Alam Hutan Kemasyarakatan Kalibiru yang berada di Perbukitan Menoreh Kulonprogo Yogyakarta merupakan contoh gotong royong yang baik.

Aktor pemeran Oom Pasikom ini menyebut Kalibiru sebagai Teladan Gotong Royong. “Memang, desa Kalibiru sekarang beken. Namanya mendunia sejak beberapa tahun terakhir, gara-gara warganya dengan cerdik dan kreatif mengolah potensi keindahan alamnya sebagai spot-spot foto yang keren. Saban hari ratusan wisatawan datang untuk berfoto. Desa jadi lebih hidup. Roda ekonomi berputar kencang, setidaknya hingga kini 200-an orang bersandar pada aktivitas pariwisata ini,” tegas Butet.

Butet melanjutkan, semua itu bermula dari inisiatif warga. Wujud dari keinginanan warga untuk mengubah nasib secara bersama-sama. “Di situ tak ada monopoli. Semua dikerjakan rame-rame dan swadaya murni. Peran pemerintah menyusul kemudian. Semangat gotong royong di Kalibiru bukan slogan kosong. Tapi telah jadi jiwa warga,” tandas Butet.

Butet dan keluarga, kemudian adiknya Djadug Ferianto dengan satu putrinya, serta anggota kelompoknya gantian berfoto ria di spot Kalibiru. Dari puncak ini, pengunjung dapat melihat pemandangan perbukitan di Bukit Menoreh sekaligus dapat melihat waduk Sermo dari atas bukit.

Bahkan jika cuaca cerah nampak di kejauhan putihnya ombak pantai selatan juga kelihatan. Dari puncaknya juga, jika melihat ke arah timur terlihat hamparan dataran luas hingga nan jauh ke timur. Jika anda menginap malam, anda berkesempatan melihat sunrise dari puncaknya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengaku senang dengan kehadiran banyak tokoh, budayawan, seniman dan public figur di destinasi wisata. Itu akan semakin menguatkan bahwa destinasi wisata Indonesia berbasis masyarakat, semakin tumbuh subur dan langsung dirasakan manfaatnya.

Pariwisata, kata Menpar Arief, memang industri yang paling cepat, mudah dan murah menghasilkan pendapatan, baik buat masyarakat maupun negara. “Murah, karena biaya promosinya hanya 2% dari total proyeksi revenue. Mana ada bisnis yang budget promosinya hanya 2% seperti itu?” kata Arief Yahya.

Menpar Arief yang asli Banyuwangi ini juga meyakini, potensi terbesar “portofolio bisnis” bangsa ini ada di pariwisata. Dalam tiga tahun terakhir, trend nya menanjak. Sedangkan bisnis lain, peringkat 1-2-3 turun. “Dalam bisnis itu proyeksi lebih penting daripada performance. Sekarang bagus, ke depan bagaimana? Pariwisata menunjukkan trend yang sangat meyakinkan,” kata Arief Yahya. (*)