Salah satu peserta dengan kostum cosplay tampak berjalan di depan Bupati Malang Rendra Kresna dan tamu undangan kemarin (19/11).

KABUPATEN – Puluhan ribu warga memadati sepanjang jalan lintas selatan (JLS) di kawasan Pantai Bajulmati dan Pantai Ungapan kemarin pagi (19/11). Mereka menyaksikan kirab budaya yang diikuti 79 tim peserta dari organisasi perangkat daerah (OPD) dan seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Malang. Inilah pesta bagi warga dalam rangkaian Hari Jadi ke-1257 Kabupaten Malang.

Beragam kreasi ditampilkan peserta kirab yang menjadi bagian dari ajang Malang Beach Festival tersebut. Mulai dari miniatur rumah, miniatur kapal, dan berbagai macam hewan seperti sapi, gurita, dan lain sebagainya tampak menghiasi di sepanjang jalan.

Seperti yang ditampilkan tim dari Kecamatan Kromengan. Pada kesempatan kali ini, konsep yang dipilih adalah bajak laut. Di mana kapal yang dinaiki oleh bajak laut ini dipimpin seorang perempuan. Maklum saja, camat Kromengan memang seorang perempuan, yakni Shanti Purwaningtyas.

Kepada koran ini, Shanti menjelaskan, ada 50 orang yang dilibatkan dalam kirab bertema bajak laut tersebut. Untuk mengubah truk menjadi kapal membutuhkan waktu sekitar satu bulan.

”Konsep ini kami pilih karena acaranya memang diadakan di pantai. Jadi, saya ambil konsep bajak laut ini,” terang Shanti.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara menyatakan, gelaran kirab budaya tahun ini berjalan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Ke depan, sesuai mandat dari bupati, event kirab yang dikemas ala Rio de Janeiro Carnival Brazil itu bisa menginternasional.

”Memang ada keinginan dari bupati agar bisa masuk agenda internasional. Untuk itu, kami terus berbenah agar keinginan tersebut bisa terealisasi,” paparnya saat ditemui sela-sela memantau kegiatan karnaval kemarin.

Untuk bisa masuk menjadi agenda internasional masih diperlukan banyak tahap. Oleh karena itu, Pemkab Malang sudah mengawalinya dengan gelaran Malang Beach Festival. Nantinya tidak hanya satu atraksi yang disuguhkan, tapi harus banyak yang bisa dinikmati dan dipilih para wisatawan.

”Pawai ini kan hanya salah satunya, untuk event lainnya juga banyak. Ini kelebihan yang dimiliki Kabupaten Malang lewat Malang Beach Festival ini,” tutur Made.

Dia juga menambahkan, jika dibandingkan dengan daerah lainnya, pawai budaya itu sendiri tidak menonjolkan model cosplay (costume and play) maupun baju-baju. Tapi, lebih pada karakter dan potensi dari setiap kecamatan dan perangkat daerah. Jadi, perlu pembenahan lagi kalau mau dijadikan agenda internasional.

”Kami beda di konsepnya, ini lebih ke arah menonjolkan potensi. Tapi, tahun ini sudah bagus kualitasnya. Jadi, tidak hanya bicara soal kuantitas, tapi juga membahas tentang kualitas,” katanya.

Salah satunya yang ditampilkan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Malang. Kasi pemasaran hasil peternakan Didik Agus Mulyono menuturkan, konsep yang ditampilkan kali ini memang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan tahun lalu. Di mana konsep yang dipilih, yaitu moda transportasi tradisional. Untuk merealisasikan tema tersebut, kendaraan truk disulap menjadi moda transportasi tradisional pada zaman Majapahit dulu atau cikar. Bahkan, lengkap dengan patung sapi yang terbuat dari styrofoam dan dikendalikan oleh pengemudi yang ada di bagian atas truk.

Di bawah alunan musik, semua peserta dari perwakilan dinas peternakan dan kesehatan hewan, menari senada dengan dentuman melodi.

”Kami mempersiapkan konsep ini sekitar dua minggu, sedangkan peserta yang ikut berpartisipasi saat ini terdapat sekitar 30 orang,” kata Didik saat ditemui seusai tampil di hadapan bupati kemarin.

Sementara itu, tidak semua kreativitas dari tim yang ikut berpartisipasi selalu identik dengan potensi maupun ciri khas yang dimiliki di daerah atau OPD masing-masing.

Pewarta: Hafis Iqbal& Ashaq Lupito
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Falahi Mubarok