Kamis siang, 24 Maret lalu, hujan deras membasahi Jalan Dr Cipto, Kota Malang. Hujan mengguyur sejak pagi, tapi kios nomor 12 yang berada di jalan tersebut tidak pernah sepi dari pengunjung. Para pembeli keluar-masuk kios berukuran 3×3 meter tersebut.

Ditemani tiga pegawainya, perempuan berjilbab, Josephine Meita Sari terlihat sibuk meracik kupang dari pikulan yang berada di depan kios. Sari merupakan pemilik Kupang Kraton Hj Qomariah yang sudah berdiri sejak 52 tahun silam atau sejak 1964.

Sari merupakan generasi kedua yang mengelola setelah Hj Qomariah meninggal 1999 silam. Saat ini, perempuan 36 tahun ini mengelola bersama Gina Mukti, 59, yang tak lain adalah ibu kandungnya.

Setelah pengunjung lumayan sepi, Sari bercerita asal muasal Kupang Kraton yang sudah menjadi salah satu kuliner legendaris di Kota Malang. Ketika itu, di awal-awal pendirian, Hj Qomariyah berjualan dengan membawa pikulan besar di Pasar Kecamatan Kraton, Pasuruan.

Pikulan besar inilah yang hingga saat ini masih digunakan. Tujuannya adalah sebagai pengingat awal perjuangan almarhum sang nenek. ”Nenek saya hanya setahun berjualan menggunakan pikulan. Setelahnya nenek ditawari kios yang ada di Pasar Kraton usai mendapatkan program dari pemerintah,” jelas Josephine menceritakan perjuangan neneknya.

Di tempat itu, rupanya rezeki sang nenek semakin bertambah. Dengan mengandalkan bumbu sederhana plus petis khusus yang hingga sekarang masih mereka rahasiakan. Karena perpaduan inilah, pelanggan menyukai masakan Qomariyah.

Hingga tahun 1984, pelanggan semakin banyak. Bahkan, ada beberapa yang dari luar kota. Salah satunya ada pelanggan dari Kota Malang yang cukup rutin menikmati olahan Qomariah.

Pelanggan tersebut kemudian menawarkan kerja sama bisnis. Pelanggan ini menawarkan tempat. Gayung bersambut, Qomariah lalu menerimanya. ”Dari situ kemudian kami mulai berjualan di Malang dengan tetap mempertahankan kios di Pasar Kraton,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Mulanya kios dibuka di Jalan Cipto No 15, dari sini ternyata peminatnya lumayan besar. Karena pada waktu itu Qomariyah hampir tidak memiliki pesaing. Tiga tahun berselang, tepatnya pada 1987, kios yang mereka tempati tidak dikontrakkan lagi. Terpaksa mereka pindah ke Jalan Cipto Nomor 30. Pindah tempat ternyata tidak membuat pamor mereka redup.

Dengan berbagai persaingan yang mendera, bisnis Qomariyah juga sempat pindah ke Jalan WR Supratman Kota Malang. Hingga pada akhirnya pada tahun 1999, kios kupang lontong ini menetap di Jalan Cipto Nomor 12 yang ditempati hingga kini. ”Kios inilah yang paling banyak memberikan rezeki bagi keluarga kami. Jadi meski masih kontrak, kami tidak akan meninggalkan kios ini,” tegas wanita yang tinggal di Kraton Pasuruan tersebut.

Memang dari kios ini pamor Kupang Kraton Hj Qomariyah semakin meroket. Sebut saja mulai dari artis seperti Anang, Ashanti, Superman Is Dead, dan Asmirandah.”Kata Anang dan Ashanty enak, tidak menyangka ada di Malang, karena setahu dia adanya di Surabaya saja,” jelas Sari.

Selain para pesohor, ada sejumlah pejabat yang menjadi pelanggan. Bahkan, dulu kata Sari pernah Kapolda Jatim makan ke Kupang Kraton. Hanya saja dia lupa siapa nama kapolda tersebut. Tidak hanya itu, Kupang Kraton juga pernah masuk dalam buku Kuliner Legendaris Malang Kota yang berusia di atas 25 tahun. Soal harga juga terjangkau, yakni Rp 13 ribu dengan kuah yang memenuhi piring.

Ahmad Munandar, salah satu pembeli menambahkan, Kupang Kraton yang dilengkapi lontong, memiliki rasa enak dengan kuah segar. ”Rasanya enak kok, identik manis dengan rasa kupang yang gurih dan kuah yang segar,” jelasnya.

Dia mengaku sering berkunjung kemari, meski tidak rutin. Namun, dia mengakui soal rasa tidak jauh dengan beberapa kuliner sejenis yang ada di Pasuruan, Sidoarjo, maupun Surabaya.

Pewarta: Dedik Suhermanto
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono