BANTUL – Tak hanya wisatawan asing yang tertarik aktivitas menanam padi dan membajak di sawah di Desa Wisata Candran. Para mahasiswa pun banyak yang kesengsem. Seperti yang terlihat Senin (24/7) sebanyak 322 mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogya asyik “bermain lumpur” sambil belajar bertani.

Sebelum terjun ke sawah, didampingi dua dosen pembimbingnya, ratusan mahasiswa itu belajar manajemen pariwisata dan pengelolaan desa wisata. Mereka diterima Ketua Desa Wisata Candran Krista Bintara bersama tim desa wisata yang memiliki Museum Tani Jawa Indonesia itu.

Di hadapan para mahasiswa, Krista Bintara menjelaskan tentang sejarah desa wisata Candran, Museum Tani Jawa Indonesia, atraksi wisata berbasis pertanian sebagai daya tarik desa wisata Candran, tatakelola tempat wisata, dan cara mengemas atraksi wisata yang menarik bagi wisatawan.

Menurut Krista Bintara, museum menjadi pusat kegiatan masyarakat Candran yang sadar wisata sekaligus menjadi tempat berbagi ilmu antara pemandu Desa Wisata Candran dengan wisatawan. “Desa Wisata Candran dan Museum Tani Jawa Indonesia merupakan komponen wisata yang saling melengkapi dan saling mendukung satu sama lain. Para wisatawan Eropa sangat senang dengan aktivitas pertanian dan kehidupan sehari-hari warga Candran,” katanya.

Usai mendapat penjelasan, para mahasiswa itu terjun ke sawah. Dipandu oleh kru Desa Wisata Candran yang sangat terlatih dalam olah pertanian dan mengemasnya sebagai atraksi wisata, para mahasiswa itu pun bisa mendapat ilmu langsung di lapangan.

Selain bercocok tanam, para mahasiswa itu juga mengikuti cooking class, melukis gerabah dan pertunjukan Nini Thowong.

Desa Wisata Candran adalah desa yang masih mempertahankan keaslian tradisi dan budaya petani jawa. Desa Candran masih melestarikan kegiatan ritual Jawa: kenduri, nyadran, wiwitan, dan lain-lain. Desa Wisata Candran menyajikan suasana pertanian dan pedesaan yang sejuk dan indah.

Menpar Arief Yahya menyebut atraksi wisata ke desa dengan berbagai aktivitas kampung, seperti menanam padi, membajak sawah, memanen, dan sebangsanya akan semakin diminati. Sensasinya sulit ditemukan di negara-negara seperti Singapore.

“Jangankan menanam padi, membajak sawah, berdiri di atas lumpur dan pematang sawah? Mereka menyentuh tanah saja jarang? Mereka tinggal di apartemen di gedung berlantai, karena itu atraksi seperti itu masih punya daya pikat yang tinggi,” kata Arief Yahya.

Sementara di Indonesia, hampir semua daerah punya atraksi yang bisa dikemas dengan tradisi dan budaya lokal. Bukan hanya sekedar bermain-main di lumpur sawah. “Kembangkan, dan buat paket yang semakin menarik! Pasarnya ada!” katanya.