Siapa pun (sebenarnya) bisa ke Eropa secara swatour (merencanakan sendiri tour-nya). Bahkan, bisa berkeliling ke negara-negara di Eropa.

Asal, pertama direncanakan dengan matang. Kedua, menabung. Ketiga, harus bisa bahasa Inggris (minimal percakapan sehari-hari). Dan keempat, ini yang penting: Harus berani. Berani bertanya dan berani mencoba.

Itulah setidaknya pengalaman saya bersama keluarga ketika pergi ke Eropa 15–31 Desember lalu secara swatour. Kami merencanakan kepergian itu sejak Juni 2016. Saat itu, kami sudah membuat itinerary (rencana perjalanan).

Ada 13 kota di enam negara yang akan kami tuju. Secara berurutan adalah: Dusseldorf (Jerman), Berlin (Jerman), Praha (Ceko), Wina (Austria), Munchen (Jerman), Salzburg (Austria), Fussen (Jerman), Paris (Perancis), Interlaken (Swiss), Jungfrau (Swiss), Milan (Italia), Monterosso (Italia), dan Zurich (Swiss).

Atas dasar apa menentukan kota-kota tujuan di negara-negara tersebut? Pertama, pertimbangan lokasi. Kedua, pertimbangan keunikan, kekhasan sebuah kota dan sejarah.

Pertimbangan lokasi, kami sengaja memilih negara-negara yang berdekatan. Keenam negara yang kami tuju itu (Jerman, Ceko, Austria, Perancis, Italia, dan Swiss) lokasinya kebanyakan berbatasan. Jadi, kalau harus menempuh perjalanan darat, tidaklah terlalu jauh.

Pertimbangan berikutnya adalah keunikan atau kekhasan. Sebelum ke Eropa, kami lebih dulu mempelajari kota-kota yang akan didatangi. Misalnya, mengapa harus ke Berlin? Karena kami ingin tahu tembok Berlin. Kami ingin tahu, bagaimana kondisinya setelah tembok itu tak lagi difungsikan sebagai pembatas antara Jerman Barat dan Jerman Timur.

Kami juga mengunjungi Interlaken, karena ini adalah sebuah kota kecil di Swiss yang pernah dinobatkan sebagai salah satu kota terindah, teraman, dan terbersih di dunia. Selain itu, Interlaken adalah lokasi terdekat jika ingin menuju ke Jungfrau, pegunungan di Swiss yang dijuluki Top of Europe (puncak tertinggi di Eropa).

(Lebih lengkap tentang keunikan dan kekhasan masing-masing kota, akan diulas pada tulisan selanjutnya).

Pertimbangan lain adalah sejarah. Di antara kota-kota yang akan kami datangi, ada yang sarat dengan nilai sejarah. Boleh dibilang, perjalanan kami salah satu tujuannya adalah napak tilas sejarah. Misalnya, kami mengunjungi Salzburg, karena ini adalah kota tua di Austria tempat kelahiran komponis kondang Wolfgang Amadeus Mozart.

Sebelum berangkat ke Eropa, saya lebih dahulu mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi seputar lokasi yang akan didatangi. Ini adalah bagian dari perencanaan.
Bepergian ke Eropa yang direncanakan lebih awal, punya beberapa manfaat. Pertama, bisa mendapatkan tiket pesawat yang harganya lebih murah.

Saya beruntung, ke Eropa kali ini bisa mendapatkan tiket pesawat Singapore Airlines (SQ) dengan harga yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan jika saya pesan mendekati hari H keberangkatan.

Rute penerbangan saya: Berangkat dari Surabaya–Singapura–Dusseldorf (Jerman). Sedangkan untuk pulangnya, dari Zurich (Swiss)–Singapura–Surabaya. Enaknya penerbangan dengan rute ini, saya hanya transit satu kali saja di Singapura. Itu pun tidak terlalu lama.

Keuntungan kedua jika perencanaan dilakukan seawal mungkin, kita bisa mendapatkan hotel yang ”strategis”. Yang dimaksud dengan ”strategis” adalah, dekat dengan stasiun. Ukuran dekat di sini, tidak lebih dari 300 meter.

Mengapa hotel harus dekat dengan stasiun? Karena kami berencana berkeliling Eropa dengan kereta api.

Hotel harus dekat dengan stasiun, agar jika tiba di satu kota atau satu negara, dari stasiun menuju ke hotel bisa dengan berjalan kaki. Begitu pula ketika akan menuju ke stasiun, dari hotel saat akan ke kota atau negara selanjutnya, juga cukup dengan berjalan kaki. Di kota-kota di Eropa, cukup banyak hotel yang terdapat di sekitar stasiun.

Jauh sebelum berangkat ke Eropa, kami mencari hotel yang dekat stasiun dengan cara searching di Google. Lalu kami lihat melalui Google Map untuk mengetahui jarak dan lokasinya, seberapa dekat dengan stasiun. Kami pun mencari yang terdekat. Begitu dapat lokasi hotel yang cocok, kami langsung mem-booking-nya melalui online. Untuk memesan hotel di dekat stasiun, memang harus dilakukan seawal mungkin. Jangan mendadak.

Bagaimana dengan kereta api di Eropa? Kami memanfaatkan EuRail. Fasilitas ini merupakan kerja sama berbagai operator kereta api antar negara di Eropa. EuRail memungkinkan wisatawan mancanegara menggunakan satu tiket terusan untuk berkeliling ke negara-negara di Eropa selama jangka waktu tertentu.

Fasilitas EuRail diperuntukkan bagi wisatawan dari negara di luar Eropa. Dan memesannya harus di luar Eropa, berdasarkan asal negara pemesan.

Kami memesan langsung EuRail melalui kantor perwakilannya di Surabaya. Setahu saya, di Indonesia, pemesanan EuRail secara langsung hanya ada di Jakarta dan Surabaya. Sebenarnya, pemesanan EuRail bisa juga dilakukan secara online dengan membuka lebih dulu website-nya (www.eurail.com). Tapi, saya lebih sreg untuk memesan langsung saja. Di Surabaya, pemesanan EuRail bisa datang langsung ke Golden City Mall.

Ada empat jenis EuRail Pass yang disediakan. Pertama, Global Pass yang bisa menjangkau hingga 28 negara. Kedua, Select Pass yang hanya mencakup maksimal 4 negara yang saling berbatasan. Ketiga, Regional Pass yang mencakup dua negara saja. Dan keempat, One Country Pass yang hanya untuk satu negara.

Masih ada dua pilihan lagi, yakni, apakah memilih continuous atau flexible. Kami memilih yang Global Pass continuous karena kami akan pergi ke lebih dari empat negara, dan hampir setiap hari menggunakan kereta api. Karena itu kategori continuous yang kami pilih.

Yang menarik, EuRail memberikan fasilitas dan diskon berdasarkan usia. Bagi anak-anak, jika usianya di bawah 12 tahun bebas biaya alias gratis. Sedangkan bagi dewasa, jika ingin mendapatkan diskon 15 persen bisa mengambil kategori saver pass. Yakni, dua dewasa digabung menjadi satu tiket. Syaratnya, harus bepergian bersama-sama. Kategori dewasa adalah usia 26 tahun ke atas. Sedangkan untuk kategori Youth, berkisar antara 12–26 tahun.

Kami berempat hanya membayar untuk tiga orang. Karena anak kami nomor dua masih berumur 6 tahun. Sedangkan saya dan istri mengambil saver pass, karena itu mendapat diskon 15 persen. Anak pertama saya berumur 16 tahun, dia mengambil tiket tipe Youth.

Dan di dalam tiket tersebut juga harus ditulis pada saat reservasi, selama berapa hari bepergian ke Eropa menggunakan kereta api.

Jadi, jika ingin bepergian ke Eropa secara swatour, efektif, dan efisien, langkah pertama adalah: Seawal mungkin membuat perencanaan perjalanan, mengurus visa, reservasi tiket pesawat, reservasi hotel, dan reservasi kereta api melalui EuRail. Untuk reservasi kereta api melalui EuRail sebaiknya dilakukan setelah mendapatkan visa Schengen. (bersambung/Twitter: @kum_jp/IG: kum_jp).

Swatour ke Eropa, Buat Perencanaan Seawal Mungkin