Dari Interlaken, kami menuju ke dua kota lagi.  Yakni, Milan (Italia) dan Zurich (Swiss). Di Milan, kami menginap dua malam. Sedangkan di Zurich hanya sehari.

Kami tiba di Milan menjelang akhir tahun 2016. Tepatnya pada 28 Desember 2016. Dari Interlaken menuju Milan, perjalanan kereta api ditempuh dalam waktu sekitar 4,5 jam.

Mengapa ke Milan? Ini adalah salah satu kota favorit di Italia. Dan Milan adalah salah satu pusat mode dunia.

Kami tiba di Milan siang hari, sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Dari stasiun, kami langsung menuju ke hotel. Jaraknya sekitar 300 an meter.  Sehingga cukup dengan berjalan kaki. Karena sudah masuk waktu dhuhur, kami salat terlebih dahulu. Ashar kami jamak taqdim sekalian.

Meski di Milan dua hari dua malam, tapi kesempatan untuk berjalan-jalan di Kota Milan hanya sehari saja. Karena besoknya, kami harus ke Kota Monterosso, untuk mengunjungi Cinque Terre. Yakni sebuah kawasan pedesaan di Italia, yang cantik, indah dan khas, yang berdiri di tepi karang-karang terjal di tepi Laut Mediterania.  Cinqui Terre telah terdaftar sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO karena keunikannya.

Waktu sehari di Kota Milan, hanya kami gunakan untuk berjalan-jalan di Piazza Duomo. Yakni semacam alun-alun yang berada di pusat Kota Milan. Ke Milan, tidak lah lengkap jika tidak berkunjung ke tempat ini. Duomo juga sering dijadikan sebagai tempat transit pertama oleh para turis.

Dari Hotel Madison tempat kami menginap, kami naik trem menuju ke Duomo. Untuk naik trem, harus membeli tiket terlebih dahulu. Harga rata-rata tiket trem di Milan 4,5 euro per orang. Itu sudah untuk pulang-pergi.

Tidak sulit naik trem menuju ke Duomo, sebab ini termasuk destinasi favorit.

Begitu tiba di Duomo, kami langsung menyaksikan hamparan alun-alun yang dikelilingi bangunan-bangunan bergaya neo-classic. Bangunan yang paling menarik perhatian saya adalah sebuah gereja yang berdiri megah. Ini lah gereja yang bangunannya bercorak gothic bernama Milan Cathedral.

Katedral katholik ini disebut-sebut terbesar kedua di dunia, yang memiliki panjang hingga 157 meter, tinggi 108 meter, dan mampu menampung sekitar 40 ribu orang di dalamnya.

Antara Piazza del Duomo dan Milan Cathedral saling terkait erat. Piazza del Duomo merupakan alun-alun yang sarat dengan perjalanan sejarah perkembangan Kota Milan, dengan Milan Cathedral sebagai pusatnya. Di kawasan ini terdapat berbagai bangunan bersejarah seperti patung Vittorio Emanuele (Raja Italia), Museum Duomo dan Museum of Contemporary Art.

Dari catatan sejarah disebutkan, Milan Cathedral dibangun pertama kali pada 1386 oleh seorang uskup agung bernama Antonio da Saluzzo. Konsep yang dibikin pada saat itu rayonnant late gothic (gotic akhir rayonnant) yang merupakan perpaduan arsitektur Prancis dan Italia.

Puncak menara utama baru dibangun pada 1762 dengan menambahkan beberapa patung. Dan bangunan gereja sebagian besar selesai pada 1880-an. Wow….berarti gereja itu dibangun secara bertahap, hingga 500 tahun. Begitu telatennya membangun gereja. Ini, butuh konsistensi yang tinggi.

Selain melihat-lihat bangunan neo-classic di kawasan Duomo, kami akhirnya tergoda untuk berbelanja, ketika berjalan-jalan di deretan toko di sana. Di Duomo memang banyak terdapat outlet, butik dan deretan toko.

Ada satu outlet yang menarik perhatian kami. Yakni Terranova. Outlet yang menjual berbagai macam pakaian ini berada tak jauh dari Milan Cathedral, sekitar 200 – an meter.

Yang menarik dari Outlet Terranova ini adalah harganya yang termasuk murah. Di sini, T Shirt ada yang dijual dengan harga 5 Euro (setara dengan Rp 72500, dengan kurs 1 Euro = Rp 14.500). Sangat murah.

Karena rata-rata harga T Shirt di Eropa yang saya temui selama berada di Eropa paling murah antara 15 Euro – 20 Euro. Kualitasnya tidak jelek-jelek amat. Dan T Shirt itu bukan made in China lho. Tapi made in Italy.

Yang membuat menarik di outlet ini selain harganya relatif murah, modelnya pun juga keren. Saya membeli dua hem lengan panjang, yang masing-masing harganya 15 Euro. Murah meriah, memang…tapi kan belinya di Milan? Salah satu pusat mode dunia (he he he).

MIRIP JODIPAN: Salah satu sudut di kampung nelayan di Cinqui Terre

Hari kedua di Milan, kami manfaatkan untuk melanjutkan tour ke Cinqui Terre. Untuk menuju ke kawasan itu, harus menuju ke Kota Monterosso. Kota ini terletak di wilayah Liguria, Provinsi La Spezia. Dari Milan ke Monterosso kami naik kereta api, menempuh perjalanan hampir tiga jam.

Sepanjang perjalanan, kami merasa sedang menjelajah untuk masuk ke kawasan pedesaan di Italia.  Monterosso memang sebuah kota kecil yang luas wilayahnya hanya sekitar 11,25 kilo meter persegi, dengan jumlah penduduk hanya sekitar 2000 jiwa.

Tiba di Stasiun Monterosso, mata ini langsung sudah menangkap pemandangan pantai yang indah dan eksotik, dengan batu-batuan karang di pinggir-pinggirnya.

Ini lah kawasan Cinqui Terre, yang artinya lima desa. Dan Monterosso adalah salah satunya. Monterosso lebih sering disebut kota ketimbang desa, karena lebih ramai dibandingkan empat desa lainnya. Keempat desa lain itu adalah Riomaggiore, Manarola, Corniglia, dan Vernazza.

Jika ingin ke empat desa itu, dari Monterosso menuju ke arah selatan. Bisa berjalan kaki (kalau kuat). Jika tidak, bisa naik kereta api. Tidak ada jalur mobil di sana. Yang ada hanya jalur kereta api dan pedestrian.

Pedestrian itu terletak di pinggiran pantai. Sehingga, sambil berjalan kaki, bisa menyaksikan pemandangan pantai yang eksotik. Pengunjung juga akan melewati taman nasional Cinqui Terre yang indah.

Cinqui Terre adalah kumpulan desa-desa nelayan di Italia. Dulu, desa-desa itu sangat terisolasi, dan hanya bisa dicapai lewat laut. Bangunan di desa itu berdiri di atas batu karang. Baru lah setelah dibuka jalur kereta api yang membelah gunung tahun 1870 an, akses menuju ke desa-desa itu mulai terbuka.

Jalanan menuju ke desa-desa itu sempit dengan paving block. Tampak rumah-rumah bertingkat dengan warna-warni meriah seperti kuning, merah muda, jingga, dan kecoklatan. Saya langsung teringat dengan kampung Jodipan di Kota Malang, yang bangunan rumah-rumah di sana juga dicat warna-warni.

Cinque Terre jarang dimasukkan dalam rute-rute wisata biro perjalanan yang menawarkan destinasi Eropa. Umumnya hanya negara- negara dan kota-kota besar dan terkenal yang ditawarkan.  Padahal, menurut saya, tidak lah sulit jika ingin ke Cinqui Terre. Dan berwisata di sini, tidak rugi. Selain bisa menikmati keindahan pantai, juga bisa menyaksikan bagaimana sebuah desa nelayan, bisa diatur begitu tertib, rapi dan indah.

Berjalan-jalan menikmati kawasan Cinqui Terre, tak terasa, hari pun menjelang sore. Kami harus balik ke Milan. Kami memilih kereta api paling akhir dari Monterosso.

Keesokan harinya, kami bertolak ke Kota Zurich (Swiss). Kami harus ke kota ini, karena kami balik ke Indonesia dari sini.

Kami berangkat ke Zurich dengan kereta api pagi hari. Berangkat pukul 09.25, tiba di Zurich pukul 12.51. Hampir empat jam.

Di Zurich kami hanya punya waktu sehari. Karena besoknya (31/12) harus bertolak balik ke Indonesia.

ZURICH LAKE: Danau di pusat Kota Zurich.

Di Zurich, tidak ada destinasi wisata yang ikonik. Kalau pun ingin menikmati wisata, bisa datang ke Zurich Lake. Yakni danau yang lokasinya dekat dengan pusat kota. Hanya itu menurut saya destinasi wisata alam yang bisa dinikmati di Zurich.

Zurich adalah kota terakhir di Eropa yang kami kunjungi. Banyak hikmah yang bisa dipetik, selama 15 hari berkeliling ke Eropa. Ide-ide menarik juga bisa saya dapatkan dari kunjungan ke setiap kota di Eropa itu.

Pendeknya, meski harus menguras tabungan demi bisa berjalan-jalan ke Eropa, dibandingkan dengan manfaatnya, sangat lah sebanding.  (habis/Twitter: @kum_jp/IG: kum_jp).