Enaknya bepergian ke negara-negara di Eropa, di sana sarana transportasi masalnya sangat nyaman, mudah, dan tepat waktu. Asal, bisa membaca peta, bisa membaca rute untuk jalur-jalur transportasi masal di dalam kota (subway, trem), dan berani mencoba.

Jangan takut kesasar. Karena kalaupun kesasar, asal tahu nama hotel tempat kita menginap, bisa bertanya kepada siapa saja yang ditemui di jalan. Orang Eropa umumnya ramah dan welcome terhadap turis asing. Paling gampang kalau kesasar, berikan kartu nama hotel ke sopir taksi, pasti dia bisa mengantar kita.

Khusus untuk kereta di Eropa, sistemnya terkoneksi antarnegara dan antarkota. Kecepatannya pun rata-rata sama. Yakni bisa mencapai di atas 300 kilometer per jam. Kondisi di dalam kereta juga bersih. Terutama toiletnya. Tak jauh berbeda dengan toilet di pesawat terbang.

Yang perlu diperhatikan ketika menggunakan Eurail Pass, sebelum naik kereta harus mengetahui lebih dulu jadwal keberangkatannya. Untuk tahu jadwalnya, bisa datang di stasiun kereta. Dan jika sudah tahu jadwalnya, jangan sekali-sekali terlambat. Lebih baik lebih awal datang. Apalagi jika kita membawa koper-koper besar.
Karena jadwal kereta di Eropa tepat waktu. Terlambat satu menit saja akan langsung ditinggal. Tak ada ampun.

Di tempat reservasi tiket yang ada di stasiun, kami harus membeli seat jika ingin mendapatkan tempat duduk. Bagaimana jika tidak membeli seat? Boleh saja. Tapi, harus siap-siap diusir oleh penumpang lain yang membeli seat. Kami pernah dalam satu perjalanan terpaksa harus berpindah-pindah tempat duduk sampai tiga kali ketika mencoba tidak membeli seat.

Sejak itulah, untuk kenyamanan (biar nggak diusir ketika sedang enak-enaknya duduk), kami selalu membeli seat setiap kali naik kereta. Harga seat-nya bervariasi, mulai 3 Euro–32 Euro. Bergantung jarak dan waktunya.

Kami mengalami peristiwa pahit, gara-gara lupa tidak menulis di kolom ”journey details” pada tiket Eurail. Di kolom ”journey details” itu ada yang harus diisi, setiap kali akan naik kereta. Harus diisi di kolom day (tanggal), month (bulan), time (jadwal keberangkatan kereta), from (kota tempat keberangkatan), dan to (kota tujuan).

Ceritanya, saat itu kami baru kali pertama naik kereta. Yakni ketika akan menempuh perjalanan dari Dusseldorf menuju Berlin. Kami lupa tidak menulis kolom-kolom isian tadi. Maka, ketika tiket kami diperiksa petugas, kami mendapat masalah. Bahkan, kami sampai disuruh turun saat kereta berhenti di stasiun antara. Kami ditegur keras. Bahkan, kami diminta membayar denda. Jika tidak, maka akan dilaporkan ke polisi.

Waduh… ternyata begitu seriusnya pelanggaran yang kami lakukan. Gara-gara lupa tidak mengisi kolom di ”journey details” pada tiket kereta, kami sampai nyaris harus berurusan dengan polisi. Akhirnya kami terpaksa harus membayar denda. Per orang 40 Euro. Jadi, kami harus membayar 120 Euro (sekitar Rp 1.740.000 dengan kurs 1 Euro = Rp 14.500).

Yang agak aneh, kami tidak diberi nota atau kuitansi pembayaran denda itu. Saya sempat minta, tapi si petugas tadi menolaknya sambil marah-marah. Tanpa alasan yang jelas. Kami pun terpaksa mengalah. Daripada urusannya lebih panjang.

Bagi kami, ini menjadi pelajaran berharga, agar tidak boleh lupa lagi menulis kolom isian di tiket kereta. Bagi yang baru kali pertama berkeliling ke kota-kota di Eropa dengan kereta (seperti kami), tak perlu merasa khawatir atau takut kesasar.

Karena moda transportasi kereta di Eropa sudah sangat teratur dan tersistem dengan baik. Pada tiket seat yang kita beli, sudah jelas tertulis kode nama keretanya, jam keberangkatan dan relnya ada di jalur berapa.

Di Jerman dan Austria, bahasa yang ada di tiket kereta dan di papan-papan informasi (board) adalah bahasa Jerman. Bagi yang tidak bisa berbahasa Jerman (seperti saya) nggak usah takut.

Bukankah ada Google Translate? Nah… ketik saja informasi pada tiket atau pada board yang pake bahasa Jerman tadi, masukkan ke
dalam Google Translate. Maka akan keluarlah artinya.

Pada tiket seat yang dibeli, juga sudah tertera nama stasiun tempat kita akan berhenti. Dan enaknya pada sistem kereta di Eropa, sekitar 20 menit sebelum berhenti di stasiun berikutnya, sudah diingatkan melalui layar informasi digital yang ada di setiap gerbong kereta. Jadi, asal kita tidak tertidur, pasti tidak akan kelewatan dengan stasiun yang dituju.

Bepergian naik kereta di Eropa dengan membawa koper-koper besar ukuran bagasi pesawat terbang? Mengapa tidak? Ini yang kami lakukan. Kami sekeluarga membawa empat koper, yang masing-masing berukuran 24 inci (43 x 23 x 63 cm), dan dua tas ransel.

Dan tidak ada masalah selama berkeliling dengan kereta. Sebab, di setiap gerbong kereta di Eropa, selalu ada tempat khusus bagi koper-koper besar. Tempat khusus koper itu ada yang di tengah-tengah gerbong, ada yang di belakang gerbong.

Stasiun di Eropa juga sangat memanjakan para traveler yang menggunakan koper. Jika ingin sekadar pergi ke kota-kota di dekat stasiun, koper bisa dititipkan di stasiun. Ada tempat khusus penitipan koper.

Selain itu, di kebanyakan stasiun di Eropa selalu ada lift maupun eskalator. Kalaupun tidak ada lift dan eskalator, ada jalur menaik. Sehingga sangat memudahkan untuk berpindah-pindah atau berjalan bagi traveler yang membawa koper besar. Karena nggak perlu angkat-angkat koper. Karena itu, membawa koper yang ada rodanya, sangat dianjurkan. (bersambung/Twitter: @kum_jp; IG kum_jp)