Kami di Dusseldorf, Jerman hanya beberapa jam.  Itu pun hanya berjalan-jalan di sekitar bandara. Selanjutnya kami langsung menuju ke Berlin dengan kereta api.

Di Berlin, kami menginap di Hotel Meininger. Sekitar 200-an meter dari Central Station, tempat kami tiba dari Dusseldorf.  Kami belum pernah menginap di Meininger. Kalau pun kami memilih hotel itu, alasan utamanya karena lokasinya paling dekat dengan stasiun.  Sehingga kami tidak perlu naik kendaraan. Cukup dengan berjalan kaki. Itung-itung sambil berolahraga. Jalan kaki sambil mendorong koper. He he he.

Dari stasiun menuju ke Hotel Meininger, sebenarnya bisa saja bertanya kepada setiap orang yang dijumpai. Tapi, kami memilih untuk memanfaatkan smartphone. Yakni melalui aplikasi google maps. Melalui aplikasi ini kami mendeteksi lokasi hotel, dan melalui google maps pula kami berjalan mengikuti arah yang ditentukan.

Karena itu, penting bagi Anda jika bepergian ke Eropa, pastikan bahwa handphone yang digunakan bisa dimanfaatkan untuk penunjuk jalan dengan memanfaatkan google maps. Karena ini memang sangat membantu.

Kebetulan, kami sekeluarga sama-sama menggunakan Telkomsel. Dan selama di Eropa, melalui paket hemat roaming yang sudah ditentukan oleh Telkomsel, kami sangat terbantu. Dan Telkomsel bisa terkoneksi dengan operator di semua negara dan semua kota yang kami datangi.

Dan bagi yang muslim, smartphone bisa digunakan untuk mendownload aplikasi untuk mengetahui arah kiblat dan jadwal waktu sholat di setiap kota atau setiap negara di Eropa yang didatangi.

Setiap kali tiba di sebuah kota atau negara, pertama yang kami lakukan adalah mendapatkan jadwal shalat lima waktu. Dan setelah tiba di hotel, mencari arah kiblat.

Di Berlin, objek utama yang kami datangi adalah tembok Berlin. Bagaimana kami menuju ke tempat itu, padahal sebelumnya belum pernah ke sana? Bekalnya ini: Membaca peta, jangan segan-segan bertanya, dan memanfaatkan fasilitas google maps.  Karena itu, setiap tiba di kota, penting bagi kami untuk mendapatkan lebih dahulu peta dari kota itu. Untuk mendapatkan peta kota di setiap kota di Eropa, bukan hal yang sulit. Bisa didapat di stasiun, atau pun di hotel.

Suasana di dalam tembok Berlin yang saat ini sudah dijadikan taman.

Setelah tiba di lokasi Tembok Berlin, ternyata tembok itu tak setinggi yang saya kira.  Tingginya kira-kira 4 meter. Dan menurut data, tembok ini dibangun sepanjang 155 kilo meter, membelah Kota Berlin.

Imajinasi saya langsung menuju ke suatu era, sekitar 57 tahun silam,

ketika perang dingin sedang panas-panasnya. Yakni, saat dua kekuatan besar yakni blok barat yang dipimpin Amerika Serikat dan blok timur yang dipimpin Uni Soviet saling berebut pengaruh di kancah pergaulan dunia. Jerman termasuk salah satu negara yang terbelah akibat rebutan hegemoni tersebut.  Ada Jerman Timur yang ngeblok ke Uni Soviet (komunis), dan Jerman Barat yang ngeblok ke Amerika Serikat.

Saya banyak membaca tentang Tembok Berlin yang dibangun sejak 1961 ini. Saat itu, tembok yang dibangun oleh Jerman Timur ini dijaga dengan sangat ketat.  Tujuannya, agar tidak ada warga dari Jerman Timur yang lari ke wilayah Jerman Barat.  Maklum, sebelum tembok itu dibangun, sedikitnya 3,5 juta warga Jerman Timur yang bermigrasi dan membelot ke Jerman Barat. Makanya, agar tidak ada lagi yang bermigrasi dan membelot ke Jerman Barat, dibangunlah tembok Berlin. Untuk penjagaan yang sangat ketat, di tembok itu dibangun 302 tower pengawasan.

Dari sejarah yang saya baca, ketika tembok Berlin berdiri, saat itu banyak warga dari Jerman Timur yang ingin kabur ke Jerman Barat yang kehidupannya lebih bebas dan lebih makmur.  Tapi tak semuanya bisa lolos.

Tahun 1989, mulai lah terjadi gejolak sipil di Jerman Timur. Banyak rakyat di sana yang melakukan unjuk rasa. Mereka memberontak dengan keberadaan Tembok Berlin yang menjadi simbol adanya perubahan sistem negara yang ngeblok ke Uni Soviet.

Pada 4 November 1989, sekitar 500 ribu warga Jerman Timur berkumpul di sebuah lapangan di Alexanderplatz. Mereka berdemonstrasi mengutuk berdirinya Tembok Berlin yang dalam perkembangannya menelan ratusan nyawa. Tercatat, selama 28 tahun tembok Berlin berdiri, sedikitnya 200 orang tewas tertembak. Mereka adalah para pelarian dari Jerman Timur yang mencoba kabur ke Jerman Barat melintasi tembok tersebut.

Puncaknya, pada 9 November 1989, massa mulai berani menjebol tembok Berlin.  Dan pada saat itu, pemerintah Jerman Timur tak berdaya melarang.  Januari 1990, tembok Berlin diruntuhkan secara resmi oleh militer Jerman Timur.  Dan akhirnya, pada 3 Oktober 1990, terjadi peristiwa bersejarah, yakni bersatunya kembali Jerman.

Jadi, Tembok Berlin adalah bukti dari salah satu kisah kelam Jerman.  Kalau pun saat ini tembok tersebut dibiarkan berdiri, alasannya bisa jadi untuk pengingat, agar kesalahan sejarah tidak terjadi lagi. Selain itu, Tembok Berlin juga dijadikan ssebagai objek wisata sejarah.  Pemandangan di balik tembok itu cukup indah. Ada taman-taman yang sarat dengan tanaman bunga. Juga ada sungai yang sangat bersih.

Kami bersyukur, bisa melihat dari dekat Tembok Berlin yang bersejarah itu.  Tembok yang menjadi simbol hancurnya komunisme di dunia. Tembok yang menjadi bukti, bahwa sebuah negara yang asalnya satu, dipisahkan oleh ideology, sehingga pecah menjadi dua, dan seiring perjalanan waktu akhirnya bersatu lagi. (bersambung/twitter: @kum_jp/IG: kum_jp)