Ke Eropa jika tidak ke Praha, Republik Ceko, rasanya rugi.  Ini adalah sebuah kota tua yang sangat indah pemandangan kotanya di Eropa Timur.

Karena itu, dari Berlin kami menuju ke Praha.  Perjalanan dengan kereta api menempuh waktu sekitar 4 jam. Naik kereta di Eropa itu enaknya selain nyaman, nyaris tidak terasa (baik suaranya maupun goncangannya), juga dilengkapi dengan wifi. Jadi, untuk menghemat paketan roaming telepon, kami memanfaatkan wifi di kereta yang sinyalnya lumayan kuat.

Di Praha kami sengaja tidak mencari hotel di dekat stasiun.  Sebab, kami mengincar untuk bisa menginap di Archibald at The Charles Bridge Hotel (ATCBH). Mengapa? Karena hotel ini selain memiliki arsitektur bergaya kuno, lokasinya sangat strategis karena terletak di area yang sangat dekat dengan Charles Bridge, salah satu destinasi wisata terfavorit di Praha.

(Nama ATCBH saya peroleh dari searching di internet. Karena itu, sangat dianjurkan, sebelum pergi ke Eropa, harus lebih dulu searching, sebagai bagian dari perencanaan).

Jika ingin menginap di ATCBH, harus membooking jauh-jauh hari sebelumnya. Tiga bulan sebelumnya, saya sudah membooking hotel itu. Kalau bookingnya semakin dekat dengan check-in, sulit sekali untuk bisa mendapatkan kamar.

Sebab, ATCBH yang berbintang 4 itu hanya punya 26 kamar yang terletak di tiga lantai bangunannya.  Memang bukan hotel yang besar. Tapi, nilai lebih hotel ini ada pada lokasinya yang sangat strategis sehingga termasuk hotel yang paling banyak diburu para wisatawan yang ingin menikmati Praha.

Dari ATCBH, jika ingin menikmati keindahan Kota Praha, cukup dengan berjalan kaki.  ATCBH terletak di bawah Jembatan Charles Bridge (CB).

CB adalah salah satu jembatan tertua di Eropa dengan panjang sekitar 621 meter, dan lebar sekitar 10 meter. Jembatan ini dibangun pada 1357 dan selesai pada 1402.  Di bawah CB mengalir Sungai Vltava yang sangat bersih, tertata dan indah dipandang.

CB menghubungkan dua distrik di Praha. Yakni Distrik Old Town dan Distrik Lesser Town. Yang juga sangat artistik di CB adalah, bangunan menara-menara yang dibangun di kedua sisi jembatan.

Di sisi Old Town, ada menara yang diberi nama: Old Town Bridge Tower. Menara ini dibangun pada 1370  dan selesai pada 1391. Menara ini dijuluki salah satu bangunan sipil bergaya gothic yang paling menakjubkan di dunia.  (Gaya arsitektur gothic mulai dikembangkan di Eropa pada pertengahan abad 12 dan berakhir pada abad 16).

Berjalan melintasi CB, pemandangannya sangat eksotik. Dari atas jembatan itu, kami menyaksikan panorama khas Kota Praha yang jika dipotret, seperti sebuah negeri dongeng.

Dari atas jembatan itu kami menyaksikan rumah yang atapnya warna-warni, serta puncak-puncak menara yang seperti menjadi kaki-kaki langit. Banyaknya menara di Praha membuat kota itu dijuluki sebagai kota 1000 menara.

SELALU RAMAI: Suasana di Jembatan Charles Bridge, Praha

Berjalan menyusuri CB tidak lah capek, alias menyenangkan. Jika berjalan di malam hari, bisa merasakan sensasi keindahan pemandangan yang dipadukan dengan aneka lampu bergaya vintage yang bertebaran di sepanjang jembatan itu. Jika berjalan di pagi hari atau siang hari, di sepanjang CB dipadati turis, seniman, dan berbagai macam penjual souvenir.

Di sepanjang jembatan tersebut juga terdapat deretan patung di kedua sisi. Patung-patung tersebut bergaya Baroque Style (sebuah gaya artsitektur yang mulai dikembangkan di Italia pada akhir abad ke-16).

Di antara patung-patung itu, saya melihat ada salah satu patung  yang paling banyak dikerumuni para turis.  Ternyata itu adalah patung dari St John of Nepomuk, seorang uskup. Dan ini adalah patung pertama yang dibikin di CB tahun 1683.

Ternyata ada kisah tragis di balik patung itu. St John adalah seorang uskup yang disiksa sampai meninggal pada tahun 1393. Dan saat itu jasadnya dilempar ke sungai dari atas CB.

St John disiksa atas perintah Wenceslaus, Raja Romawi dan Raja Bohemia karena menolak membocorkan rahasia.  Rahasia itu adalah pengakuan dosa dari Ratu Bohemia yang pernah disampaikan kepada sang uskup.

Kisah tragis yang dialami St John itu diabadikan dalam bentuk relief dan ada di bawah patung sang uskup.

ARTISTIK: Tengkorak manusia yang disusun secara rapi dan mengesankan di Bone Church Praha.

Setelah puas menyusuri pemandangan di CB, di hari berikutnya kami mengunjungi objek wisata lain di Praha. Yakni di Sedlec Ossuary, Kutna Hora, sebuah kota yang berjarak sekitar 80 kilo meter arah Timur dari Praha.

Kali ini, kami tidak bepergian sendiri, melainkan ikut tour yang sudah dipaketkan dari hotel.  Ada beberapa objek yang didatangi dengan mengikuti tour ini.

Tapi, yang paling menarik perhatian saya adalah di Sedlec Ossuary (SO) itu, atau disebut juga Bone Church.  Sesuai namanya, ini adalah sebuah gereja yang di dalamnya penuh dengan tulang, kerangka, dan tengkorak manusia.

Dari informasi yang diberikan si tour guide, kerangka, tulang dan tengkorak yang ada di dalam gereja itu berasal dari nyawa 40 ribu orang.

Begitu masuk gereja itu, tumpukan tulang dapat ditemukan dalam formasi yang fantastis di seluruh gereja.  Dimulai dari jejeran tengkorak yang digantung mengelilingi sepanjang jalan masuk ke gereja.

Lalu ada bentuk menyerupai piala yang dibikin dari tulang pinggul dan femur (kaki bagian atas). Juga ada semacam chandelier (tempat lilin) berukuran besar yang dirangkai dari tulang-tulang manusia.

Saya sempat merinding begitu masuk ke dalam gereja itu. Baru kali ini saya menyaksikan tumpukan tulang dan tengkorak manusia dari dekat.

Saya paling merinding ketika berada di depan sebuah tempat, dimana di dalamnya dipenuhi dengan tumpukan tengkorak manusia yang ditata sangat rapi dan mengikuti pola tertentu.

SEJARAH KELAM: Komposisi tengkorak dan ratusan tulang manusia menjadi tempat lampu yang indah di Bone Church Praha

Di satu sisi saya merasa ngeri, tapi di sisi lain saya menyukainya karena objek mengerikan itu dirangkai, dan ditata secara artistik.  Mungkin ini yang disebut ngeri-ngeri sedap.

Saya lantas membayangkan, bagaimana dulu perasaan orang yang merancang dan membuat tulang-tulang dan tengkorak tersebut, hingga menjadi sebuah karya seni seperti itu?

Menurut cerita, asal muasal dari tempat itu (SO) adalah bermula pada abad ke-14 (1347 – 1351), ketika seluruh Eropa diserang wabah Black Death.  Yakni pada saat itu Eropa diserang oleh suatu pandemi hebat yang membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa.

Nah, di Kutna Hora sendiri, akibat dari wabah tersebut, membuat 30 ribu penduduknya mati. Mereka dikubur di pemakaman Sedlec, dekat gereja SO.

Setelah diserang wabah penyakit, tahun 1419 – 1434 terjadi malapetaka lain. Pada saat itu terjadi Perang Hussite (The Hussite Wars). Yakni perang salib katolik Roma terhadap reformasi Bohemian. Akibat peperangan ini, 10 ribu nyawa melayang. Dan semua jasadnya juga dikubur di pemakaman Sedlec.

Di abad ke-15, banyak tulang di areal pemakaman Sedlec itu yang digali untuk membuat jalan bagi sebuah gereja bercorak gothic.  Tulang-tulang, kerangka dan tengkorak itu lantas ditumpuk dan ditempatkan di sebuah piramida dalam osuarium (tempat untuk menampung tulang) baru yang terletak di bawah gereja SO tadi.

Tahun 1870 seorang pemahat kayu Ceko bernama Frantisek Etak diminta untuk membuat kreasi dari tumpukan tulang itu menjadi sebuah karya artistik. Maka, jadilah pemandangan ngeri-ngeri sedap di dalam gereja SO itu.

Kini, SO telah menjadi objek wisata yang termasuk cukup banyak didatangi turis asing. Sedikitnya 200 ribu turis mendatangi SO setiap tahunnya.

Ternyata, sebuah objek wisata itu tak harus sesuatu yang indah dan menyenangkan. Tempat yang mengerikan, tragis, bisa juga menjadi objek wisata yang berkesan dan berbeda. Dan itu ada di Praha. (bersambung/twitter: @kum_jp/IG: kum_jp).