Berkeliling ke Eropa itu menurut saya paling enak pas musim dingin. Pertengahan hingga akhir Desember 2016, pada saat kami pergi kala itu, kebetulan sedang puncak-puncaknya musim dingin. Sehingga, bisa merasakan sensasi turunnya salju di beberapa kota, meski suhu dingin sampai menusuk tulang, hingga -12 derajat.

Untuk melawan suhu dingin hingga minus derajat itu, maka sangat dianjurkan untuk mengenakan baju yang berlapis-lapis. Saya sendiri sampai harus melapisi tubuh saya dengan dua jaket.  Lalu jangan lupa penutup kepala dan telinga.

Karena suhu yang sangat dingin, jika kepala dan telinga tidak ditutupi, maka akan berdampak pada sakitnya telinga (karena saya sempat merasakannya).  Juga sangat dianjurkan membawa sarung tangan.

Dari Praha, kami melanjutkan perjalanan ke Wina, Austria.  Mengapa Wina? Kota ini sangat dianjurkan untuk dikunjungi.  Sebab, ini lah kota di Eropa Tengah yang memiliki sistem pemerintahan yang baik, tata letak kotanya strategis dan bersih, sehingga kota ini dijuluki kota yang cantik luar-dalam.

Perjalanan dengan kereta api dari Praha ke Wina menempuh waktu sekitar 6 jam-an. Kami mendapat informasi, bahwa suhu di Wina akan lebih dingin ketimbang di Praha.

Dan ternyata benar. Suhu di Wina saat itu mencapai – 6 derajat celcius. Padahal, di Praha berkisar rata-rata 5 derajat celcius.  Dan di Wina, sedang gencar-gencarnya turun salju.

Turunnya salju membuat kami tidak bisa leluasa berjalan-jalan ketika mengunjungi Istana Schönbrunn. Karena pada saat itu pemandangan istana sedang tertutup salju yang pekat. Sehingga menghalangi kami untuk sekadar berfoto-foto.

Schonbrunn adalah istana yang dibangun pada 1713 sebagai kediaman musim panas keluarga kekaisaran. Saat ini ditinggali oleh presiden pada saat musim panas.  Di istana ini terdapat 1441 kamar, dan 45 kamar di antaranya dibuka untuk umum, dan menjadi destinasi wisata favorit.

Khusus untuk musim dingin, keluarga presiden tinggal di Istana satunya: Hofburg.

Di Austria, gedung-gedung lama peninggalan sejarah menjadi ikon tersendiri. Kebanyakan berpusat di Wina.  Dan istimewanya Wina adalah, di kota ini, antara kawasan kota tua yang artistik dan kawasan kota modern  yang futuristik bisa dipadukan secara apik tanpa meninggalkan kesemrawutan.

Mengunjungi Austria, juga sekaligus menapak tilasi sejarah, karena negara ini merupakan tempat kelahiran musisi ternama seperti Schubert, Johann Strauss I dan Brahms.

Sedangkan bagi Mozart dan Beethoven, Wina adalah kota yang penting karena di sini lah mereka meniti karirnya hingga puncak kejayaannya dan sampai meninggal.  Karena itu, Wina yang melahirkan musik Waltz ini dijuluki sebagai kota musik di barat.

Mumpung di Wina, kami menyempatkan berkunjung ke Salzburg.  Kota ini setidaknya punya dua keistimewaan. Pertama, Salzburg adalah kota tua dengan arsitektur bergaya baroknya yang masih dipertahankan sampai sekarang. Makanya, kota ini sejak 1997 terdaftar  di UNESCO sebagai situs kebudayaan dunia.

Kedua, punya pemandangan alam yang khas dengan latar belakang pegunungan Alpen.  Ketiga, Salzburg adalah kota tempat kelahiran komponis  kondang dunia Wolfgang Amadeus Mozart.

Makanya, bagi kami, sayang sekali ketika sudah berada di Wina tidak mampir ke Salzburg.

Kami ke Salzburg dengan kereta api.  Perjalanan dengan kereta api menempuh waktu sekitar 2 jam 30 menit dengan jarak sekitar 300 kilo meter.

Tiba di Salzburg, dari stasiun kereta api, kami memilih naik trem untuk menuju ke kawasan Makartplatz. Ini adalah daerah yang dulu adalah tempat tinggal Mozart.

Di Salzburg, selain disediakan peta di toko-toko dan stasiun, kita juga bisa bertanya kepada warga setempat jika ingin pergi ke sebuah tempat. Pasti akan dijawab dengan ramah. Asal, yang ditanya bisa berbahasa Inggris. Karena tidak semua warga setempat menggunakan bahasa Inggris.

Dari lokasi pemberhentian trem, kami memilih jalan kaki untuk menuju ke Makartplatz.

Enaknya bepergian ke Eropa di musim dingin itu, meski kita berjalan kaki di siang hari, tidak terasa gerah. Apalagi selama berjalan kaki itu kami melewati Sungai Salzach yang membelah Kota Salzburg. Pemandangannya begitu indah.

Sungainya bersih sih…, bertambah indah dilengkapi dengan pemandangan Pegunungan Alpen.

Sungai yang bersih, pemandangan yang indah, serta di kanan kiri sungai itu terdapat deretan bangunan berarsitektur kuno…wuihhh….sebuah tempat yang mengesankan.

Di sungai itu ada satu jembatan. Yang menarik, di kanan kiri pagar jembatan itu dipenuhi dengan gembok. Kami menyebutnya Jembatan Gembok Cinta. Karena di dekat gembok-gembok itu bertebaran lambang hati yang menjadi simbolnya cinta. Setelah puas berfoto-foto di sungai itu, kami menuju ke daerah tempat kelahiran Mozart.

JEJAK MUSISI KONDANG: Penulis di depan rumah Mozart di Salzburg

Rumah Mozart berada di Jl Getreidegasse No 9. Rumah bertingkat tiga yang didominasi warna kuning itu dijadikan museum, diberi nama: Mozart Geburthaus (rumah kelahiran). Untuk bisa masuk ke museum itu harus membayar 15 Euro per orang.

Di rumah itu lah, Mozart lahir pada 27 Januari 1756. Berarti, hingga kini, rumah tersebut berumur 260 tahun.  Tapi keaslian ruangan, kondisi bangunannya, masih sangat terawat sampai saat ini.

Begitu mulai masuk ke rumah tersebut, kita seakan diajak berjalan ke lorong waktu, dibawa ke era ratusan tahun lalu, ketika Mozart dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya di rumah itu.

Kami menyaksikan sebuah ruangan berukuran 4 x 4 meter, di dalamnya terdapat satu tempat tidur single, serta meja dan kursi. Itu lah kamar Mozart ketika masa kanak-kanak.

Di lantai yang sama, kami melihat kondisi dapur, tempat ibunya Mozart biasa memasak yang tampak masih utuh. Kami juga masuk ke sebuah ruangan yang lebih kecil, dimana di situ lah Mozart dilahirkan.  Setiap ruangan di rumah itu memang terasa sempit. Maklum, rumah Mozart tersebut lebarnya tak lebih dari 7 meter.

Di dinding-dinding rumah itu, dipajang foto-foto lukisan minyak masa kecil Mozart, biola, surat-surat Mozart kepada orang tuanya, dan penggalan hidup Mozart. Juga ada silsilah keluarga.

Di sudut ruangan lainnya, kami melihat piano kecil. Tertulis keterangan di sana, bahwa ini lah piano yang digunakan Mozart belajar memainkan piano pertama kalinya.  Sayangnya, selama melihat-lihat di dalam rumah Mozart, pengunjung dilarang keras memotret. Di setiap sudut ada penjaga yang mengawasi ketat setiap pengunjung.

Intinya, di museum itu, kita hanya melihat-lihat ruangan dan benda-benda yang ada kaitannya dengan Mozart. Meski hanya itu saja yang dilihat, museum Mozart menjadi salah satu destinasi favorit yang dikunjungi jutaan turis setiap tahunnya.

Gara-gara ada museum Mozart, di sekitarnya telah berubah menjadi deretan toko souvenir, hotel, dan restoran. Semuanya, memberikan embel-embel “Mozart” sebagai media promosinya.  Itu lah Mozart, sosok yang sudah memberikan karya  fenomenal dalam hidupnya.  Dia meninggal di usia muda, 35 tahun, tapi hidupnya yang pendek mampu melahirkan karya-karya yang fenomenal, dan karya-karyanya masih dapat dinikmati hingga saat ini.

Dari museum Mozart, sayang jika tidak melanjutkan perjalanan ke Benteng Hohensalzburg.  Menuju ke benteng itu, tak seberapa jauh. Kami memilih berjalan kaki. Hohensalzburg terletak di sebuah bukit tertinggi di Salzburg, dan dibangun pada tahun 1077. Menurut cerita, benteng ini masa pembangunannya cukup lama, hingga 600-an tahun.

Baru selesai pada tahun 1681.  Karena kemegahannya, benteng ini disebut sebagai benteng terbesar di seluruh daratan Eropa Tengah.  Berada di benteng ini, pengunjung bisa naik trem yang akan membawa hingga ke puncak tertinggi benteng. Per orang membayar tiket 11 Euro PP (pulang pergi). Dari tempat ini, kita bisa menyaksikan Kota Salzburg dari atas. Menakjubkan.

Salzburg memang mengesankan. Karena itu, sangat rugi, jika ke Eropa, tidak mampir ke kota terbesar ke empat di Austria ini.

BERANGKAT GRATIS: Halte tempat berhentinya shuttle bus di Wina yang membawa turis ke Parndorf.

Satu lagi di Austria yang tidak boleh dilewatkan adalah Parndorf. Ini adalah tempat belanja yang sangat lengkap untuk barang-barang branded, dengan harga yang lebih murah (setidaknya jika dibandingkan dengan membeli di Indonesia).  Lebih murahnya antara 30 persen – 60 persen (jika di outlet sedang sale).

Gucci, Prada, Aigner, Michael Kors, Guess, Timberland, Fossil, Geox, Samsonite, dan lain-lain. Ini lah merek-merek yang outletnya berderet-deret berada di Parndorf, menempati lahan seluas 42.120 meter persegi.  Total ada 160 merek terkenal yang dijual di areal tersebut.

Parndorf tidak berada di tengah kota Wina. Tapi berlokasi di sebuah desa, di daerah Neusiedl am See, Burgenland, sekitar 50 kilo meter dari Wina.

Butuh waktu sekitar 45 menit jika ingin ke sana dengan bus. Pemerintah Wina menyediakan shuttle bus bagi para turis yang ingin ke Parndorf dari Wina.  Dimana halte yang khusus menyediakan shuttle bus ke Parndorf? Ada di seberang gedung State Opera.

Dengan shuttle bus itu, berangkatnya gratis. Tapi pulangnya harus membayar.  Per orang 14 Euro.  Ini lah cerdiknya Pemerintah Austria.  Turis diberi kemudahan untuk membelanjakan uangnya dengan cara diberikan fasilitas shuttle bus gratis.

Tapi pulangnya, disuruh membayar. Jangan-jangan, tarif 14 Euro itu sebenarnya adalah tarif yang sudah dihitung untuk PP (pulang pergi). Tapi, dibikin seakan-akan gratis saat berangkat.  Disuruh bayar saat pulang. Sekali lagi, ini termasuk cara yang cerdik.  (bersambung/Twitter: @kum_jp/IG: kum_jp).