Dari Wina, kami menuju ke Munchen, Jerman.  Dari hotel di Wina, kami berangkat pagi, sekitar pukul 08.00. Sengaja berangkat pagi, agar di Munchen tidak terlalu sore. Jadwal kereta api yang akan membawa kami ke Munchen pukul 08.30, dan perjalanannya butuh waktu hampir empat jam.

Munchen adalah kota dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Jerman setelah Berlin dan Hamburg.

JEJAK KUNO: Penulis ketika berada di kawasan Marienplatz, Munchen.

Sebenarnya ada sedikitnya 10 destinasi favorit di Munchen yang direkomendasikan untuk didatangi.  Tapi, sayangnya kami hanya bisa mendatangi tiga saja. Yakni Marienplatz, Allianz Arena, dan Museum BMW.

Mengapa harus datang ke Marienplatz? Tempat ini berada di jantung Kota Munchen.  Hampir semua turis yang ke Munchen, pasti akan datang ke Marienplatz.

Marienplatz adalah sebuah kawasan tua yang dijadikan pusat kota Munchen sejak tahun 1158. Wow….berarti sudah berumur delapan abad lebih.  Berarti kawasan ini jauh lebih dulu ada ketimbang Kerajaan Singasari (berdiri tahun 1222).

Menurut cerita, sejak dulu, kawasan tersebut sudah dijadikan sebagai pusat perdagangan, dan menjadi tempat berbagai turnamen.

Salah satu bangunan yang ada di Marienplatz adalah menara Glockenspiel yang daya tariknya berhasil mendatangkan jutaan turis setiap tahunnya. Ini adalah semacam menara jam, salah satu yang terunik di dunia.  Menara jam ini dibikin pada awal abad ke-20.

Berada di Marienplatz, meski berjam-jam, tidak akan terasa. Banyak objek yang menarik dilihat. Misalnya, di sebelah utara, tampak gedung Balai Kota Baru (Neus Rathaus). Yang bagus dari gedung ini adalah menaranya.

Lalu sebelah Timur tampak gedung Balai Kota Lama (Altes Rathaus). Di dalam gedung ini terdapat aula dengan corak arsitektur gothic, ballroom yang luas, serta menara yang telah direnovasi.

Selain itu, juga ada zona pejalan kaki yang sangat longgar antara Karlsplatz dan Marienplatz. Di sepanjang jalan itu terdapat berderet-deret toko dan restoran.

MAHAL, MEWAH: Mobil BMW seri i8 yang dipajang di BMW Welt, Munchen

Objek lain di Munchen yang kami kunjungi adalah museum BMW (Bayerische Motoren Werke). Bagi kami, sangat rugi jika ke Munchen tidak mampir ke tempat ini.  Karena Munchen sangat identik dengan mobil mewah itu.

Bagi kami, meski belum punya mobil BMW, tapi setidaknya sudah pernah ke pusat kota yang bikin mobil tersebut.

Dari Marienplatz ke Museum BMW bisa naik trem. Perjalanannya sekitar 30 menit, empat kali pemberhentian.

Museum BMW letaknya bersebelahan dengan kantor BMW Welt (BMW Welt, dalam Bahasa Inggris artinya sama dengan BMW World).

BMW Welt  merupakan kantor pusat, sekaligus tempat pengiriman dan pameran koleksi terbaru untuk mobil dan motor.

Di Museum BMW yang dibangun pada 1973 ini bisa disaksikan sejarah panjang pembuatan mobil, motor, hingga turbin pesawat yang digunakan di masa lalu hingga keluaran terbaru. Di bagian dalam museum juga ada suatu areal untuk melihat tempat produksi secara langsung. Produksi mulai dari rangka, hingga menjadi mesin, sampai proses pengecatan bagian luar mobil.

Dari Museum BMW kami menuju ke Allianz Arena. Jika naik trem, tak seberapa jauh. Jaraknya sekitar 8 – 9 kilo meter.  Mengapa harus ke Allianz Arena? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, ini adalah stadion yang unik, karena bagian atapnya memiliki eksterior berlapis panel plastik ETFE yang bisa mengembang.

PERTAMA DI DUNIA: Stadion Allianz Arena yang eksterior atapnya bisa berubah warna.

Bagi yang belum mengetahui apa itu ETFE, ini adalah singkatan dari rumus kimia Ethylene tetrafluoroethylene. Dalam bahasa awam bisa juga disebut plastik berbasis fluor. Lebih jelasnya, ETFE adalah material transparan yang dapat menggantikan fungsi material kaca, plastik dan fiberglass. Selain itu, ETFE adalah material yang ringan, kuat dan ramah lingkungan karena diperoleh dari hasil daur ulang dan dapat terurai.

Dengan komposisi bahan seperti itu lah, sehingga membuat  warna eksterior di bagian atap Allianz Arena bisa berubah. Dan ini adalah stadion pertama di dunia dengan warna eksterior yang bisa berubah.

Kalau pagi sampai siang, warnanya putih, kalau malam warnanya menjadi kemerah-merahan. Bentuknya pun unik, mirip perahu karet. Karena itu, Allianz Arena juga dijuluki “Schlauchboot”, artinya perahu karet.

Alasan kedua mengapa harus ke Allianz Arena, karena ini adalah stadion yang selalu dijadikan tempat laga kandang klub sepak bola professional: FC Bayern Munich (FC Bayern Munchen) sejak musim 2005.

Alasan ketiga, karena di dekat Allianz Arena terdapat museum Bayern Munchen yang merekam jejak sejarah serta prestasi dari klub tersebut.

Jika ingin puas berjalan-jalan di Allianz Arena, maka jangan lah tergesa-gesa. Di sini lah enaknya berjalan-jalan ke Eropa secara swatour.  Jadi, bisa berpuas-puas untuk menangkap sisi-sisi menarik dari objek yang didatangi.

Di Munchen, kami tinggal selama tiga hari.  Memang, rasanya kurang tiga hari berada di kota itu. Tapi, kami masih harus melanjutkan perjalanan. Masih ada destinasi di kota-kota lain yang akan kami kunjungi. (bersambung/Twitter: @kum_jp/IG: kum_jp).