Selama berada di Munchen, Jerman, kami menyisakan waktu khusus sehari untuk pergi ke Fussen, sebuah kota yang terletak di Distrik Ostallgau, perbatasan Jerman-Austria.

Luas daerah itu hanya 43,52 kilo meter persegi, dengan jumlah penduduk sekitar 15 ribu. Jauh lebih kecil dibandingkan dengan Kecamatan Singosari di Kabupaten Malang (luas 68,23 kilo meter persegi dan jumlah penduduk sekitar 180 an ribu jiwa).

Untuk menuju ke Fussen dari Munchen, butuh waktu hampir empat jam perjalanan dengan kereta api.

Ke Fussen, tujuan kami mengunjungi Istana Neuschwanstein. Apa istimewanya istana itu?  Ini adalah istana yang dibangun sejak 1868 oleh Raja Ludwig II Kerajaan Bavaria (sebuah wilayah free state di Jerman, dan beribukota di Munchen).

Keindahan istana ini menjadi inspirasi bagi Walt Disney ketika membuat bentuk istana untuk cerita-cerita dongengnya. Seperti Cinderella, Snow White and The Seven Dwarfs (Puteri Salju dan tujuh kurcaci), dan Sleeping Beauty (Puteri Tidur).

Istana ini juga menjadi inspirasi Walt Disney dalam mengadaptasi logo Disney.

Kami tiba di Stasiun Fussen menjelang tengah hari.  Suasana di luar stasiun bersalju. Suhu minus 8 derajat.  Sangat dingin. Dari Stasiun Fussen menuju ke Istana Neuschwanstein masih harus naik bus.  Disediakan bus berbayar, dihitung per orang. Yang menarik, mbayarnya langsung kepada sopir bus. Jadi tidak ada kondektur. Saat itu, kami harus ngantre.  Padahal, hari itu bukan hari libur.

Tiba di pemberhentian bus,  terlihat lah samar-samar dari jauh Istana Neuschwanstein yang indah itu.

IKON DISNEY: Istana Neuschwanstein dilihat lebih dekat.

Untuk bisa masuk ke Istana Neuschwanstein, harus membeli tiket. Dan butuh perjuangan tersendiri saat membeli tiket. Karena ternyata yang ngantre cukup banyak hingga mengular keluar ruangan tiket.  Hampir satu jam saya harus mengantre, demi mendapatkan tiket masuk ke Istana Neuschwanstein.

Begitu tiket sudah di tangan, untuk menuju ke Neuschwanstein, masih harus naik bus lagi. Atau, kalau ingin membayar lebih mahal, bisa naik kuda. Kami memilih naik bus. Perjalanan menuju ke istana menaik.

Kanan-kiri tampak pemandangan pepohonan yang didominasi pohon pinus yang daunnya ditutupi salju.

Begitu bus berhenti, apakah sudah sampai? Belum. Perjuangan belum selesai. Ternyata masih harus berjalan menanjak selama sekitar 15 menit untuk bisa sampai ke Istana Neuschwanstein. Nafas saya sampai terengah-engah.

Hingga tiba lah kami di areal dekat istana. Wow….keindahan istana itu serasa menghapus capek kami.

Menyaksikan keindahan istana itu, saya salut dengan selera Raja Ludwig II, sang inisiator istana tersebut.  Saya pun membayangkan, bagaimana sulitnya dulu istana ini dibangun yang lokasinya di lereng pegunungan Alpen? Bagaimana Raja Ludwig II bisa mendapatkan inspirasi untuk membangun istana semegah itu? Kemegahannya tetap terasa megah sampai sekarang, meski umur bangunan istana tersebut mencapai 149 tahun.

Membaca kisah Raja Ludwig II sangat lah menarik.  Ada sisi  uniknya, ada sisi eksentriknya, dan ada kisah tragisnya.

Ludwig II adalah putra dari Raja Maximilian II. Dia naik tahta di usia sangat muda, 18 tahun pada 1864, setelah ayahnya meninggal. Di usia nya yang belia itu, dia minim pengalaman.

Saat dia berkuasa, sistem pemerintahan di Bavaria sudah berubah. Tak lagi monarki absolut.  Yakni, roda pemerintahan dijalankan oleh sejumlah menteri negara dan parlemen. Peran raja hanya sebagai simbol kepemimpinan dan tidak banyak berperan dalam pemerintahan.

Dengan sistem ini, memungkinkan Ludwig II bebas mengembangkan ide, mimpi, dan melakukan semua hobinya, tanpa dipusingkan urusan negara.

Sejak kecil, Ludwig II memang sering mengeluhkan tentang aturan protokoler kerajaan yang dia anggap sangat ketat, membatasi dan membosankan. Ini lah yang kelak saat dewasa, membuat dia mempunyai pribadi yang eksentrik.

Ludwig II sejak kecil sudah menyukai dunia arsitektur. Dia paling suka bermain dengan balok-balok batu atau kayu yang dia susun menjadi sebuah bangunan menyerupai istana.

Saat remaja, dia sangat terkesan dan tergila-gila dengan pementasan opera romantis Lohengrin yang ditulis seniman bernama Richard Wagner.  Ludwig II sangat mengagumi Wagner.

Bisa jadi, di satu sisi sangat menyukai dunia arsitektur, di sisi lain kerap terobsesi dengan kisah-kisah imajinasi dalam opera Wagner, membuat Ludwig II terobsesi membangun sebuah istana. Dimana bentuk dari istana itu, sudah menancap di dunia khayalnya.

Maka, begitu dilantik menjadi raja, maka Ludwig II langsung ingin mewujudkan istana yang ada dalam dunia khayalnya itu. Tahun 1868, mulai lah Ludwig II membangun istana yang menjadi obsesinya.

Padahal, saat itu, situasi politik di negaranya sedang tidak menentu. Prussia dan Austria sedang terlibat perang. Bavaria pun ikut terlibat, dengan memihak Austria. Dalam perang ini, Austria kalah. Bavaria lantas berganti memihak Prussia.

Selanjutnya, Prussia terlibat perang menentang Prancis. Sehingga, Bavaria pun kembali terlibat dalam peperangan. Seringnya terlibat dalam peperangan, membuat kas Bavaria menipis.

Di saat-saat seperti ini, Ludwig II justeru membangun istana impiannya.  Meski dia membangun istana itu dengan harta pribadinya, tetap saja yang dilakukan Ludwig II mengundang reaksi nyinyir dari para pejabat-pejabatnya. Tapi, Ludwig II cuek. Dia tetap membangun istana impiannya itu.

Dimulai pembangunan pada 1868, dan mulai bisa ditempati pada 1880. Ludwig II memberi nama istananya itu:  Neuschwanstein. Nama ini sangat erat kaitannya dengan kisah kepahlawanan Satria Angsa (Swan Knight Hero) di masa Jerman Kuno dalam opera Lohengrin karya Wagner, seniman idola Ludwig II.  Ini lah yang membuat di dalam ruangan istana itu cukup banyak terdapat lukisan angsa maupun patung angsa.

Istana Neuschwanstein memang sangat indah, megah, namun sangat kuat kesan kekanak-kanakannya. Sebab, Ludwig II memang merancangnya berdasarkan khayalan di masa kecilnya tentang sebuah kastil  di negeri dongeng.

Untuk bisa masuk ke istana itu, kami harus mengantre. Dan sistem antreannya sangat tertata.

Masuk ke istana itu dibatasi jumlah orangnya. Jadi, masuk bergantian secara berkelompok.  Satu kelompok antara 25 – 30 an orang.

Di tiket masuk ke istana itu  sudah diatur, kita termasuk rombongan tour yang ke berapa, dan jam berapa baru bisa masuk.

Tiket kami tertulis, termasuk dalam rombongan tour yang ke- 499.  Wow….berarti kami adalah rombongan yang ke-499 yang mengunjungi istana itu.  Jika satu rombongan rata-rata 30 orang, berarti sampai pada kami, sedikitnya ada 14.970 pengunjung yang datang ke istana tersebut pada hari itu.

Selain sudah ditulis nomor rombongan tour, di tiket juga ditulis jam masuk. Jadi, pengunjung baru bisa masuk pada jam yang sesuai yang tertulis pada tiket. Jangan coba-coba nyerobot. Karena jika bukan jamnya, tiket kita tidak akan bisa membuka pintu yang dibuka dengan sistem menggesekkan tiket itu.

Pada tiket kami tertulis jadwal masuk pukul 16.15. Sayangnya, selama berada di dalam istana, pengunjung dilarang keras memotret. Ada banyak petugas yang mengawasi. Memotret dengan handphone pun tidak diperbolehkan.

KARYA RAJA BELIA: Penulis dengan latar belakang Istana Neuschwanstein dari kejauhan

Sebelum masuk ke ruangan istana, setiap pengunjung diberikan earphone (alat pendengar). Ada pilihan bahasa yang disediakan. Yang jelas, tidak ada pilihan Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris, China, Latin dan Jerman.

Melalui alat tersebut, pengunjung diberikan penjelasan ketika masuk ke setiap ruangan di setiap lantai yang ada di dalam istana itu.

Misalnya, ketika masuk ke sebuah ruangan, oleh suara yang ada di alat dengar tadi dijelaskan bahwa ruangan tersebut adalah kamar tidur sang raja. Di sana terdapat ranjang besar dengan tiang kayu di keempat ujungnya, serta di bagian atasnya penuh dengan ukiran gambar semua katedral di Bavaria.

Masuk ke ruangan lainnya, dijelaskan oleh suara melalui alat dengar, bahwa ruangan itu diberi nama The Throne Room (ruang tahta). Di sana penuh dengan hiasan lukisan hampir di seluruh temboknya. Pada lantai dihiasi dengan mozaik.

Ada pula ruangan yang diberi nama The Singers Hall yang dibangun khusus untuk pertunjukan musik dan drama. Dua hal ini, musik dan drama,  memang sangat disukai oleh Raja Ludwig II.

Perjalanan mengelilingi ruangan demi ruangan di Istana Neuschwanstein memakan waktu hampir satu jam. Memang cukup melelahkan. Apalagi untuk naik ke setiap lantai, harus melalui tangga.

Tapi, rasa lelah itu menjadi tidak terasa ketika menyaksikan pemandangan di dalam setiap ruangan. Apalagi dilengkapi dengan penjelasan yang disampaikan melalui alat pendengar tadi. Pengunjung seakan-akan diajak menyelami kisah Raja Ludwig II dan sejarah pembangunan istana tersebut.

Ketika sudah berada di lantai paling atas dengan ketinggian sekitar 150 meter, pengunjung bisa melihat pemandangan yang ada di luar istana. Benar-benar indah. Rasa lelah langsung hilang.

Dari ketinggian itu, kami menyaksikan langit yang sedikit berawan, gunung dengan sedikit salju di pucuknya, danau yang biru, hutan yang masih lebat, serta tampak samar-samar sebuah air terjun. Benar-benar seperti berada di negeri dongeng.

Itu lah keindahan Istana Neuschwanstein. Bagi Anda yang akan berkeliling ke Eropa, jangan lewatkan untuk mendatangi objek ini.

Sayangnya, kehidupan pribadi Raja Ludwig II, tak seindah Istana Neuschwanstein yang dia bangun. Menurut cerita, Raja Ludwig II ditemukan meninggal secara misterius dalam keadaan tenggelam di  Danau Starnberg pada 1886.

Hingga kini kematiannya masih tersaput misteri. Apakah dia dibunuh, mati tenggelam, atau sengaja bunuh diri? Dugaan dibunuh muncul, sebab, pada saat itu parlemen di Bavaria mayoritas tidak menyukai Ludwig II.

Salah satunya, karena dia dianggap lebih mementingkan urusan pribadi ketimbang memikirkan urusan negara. Selain itu, Ludwig II dianggap banyak menghabiskan anggaran negara.

Tapi, terlepas dari itu, Ludwig II telah meninggalkan sebuah karya yang sangat fenomenal. Dengan karyanya itu, sampai saat ini, namanya masih sering disebut-sebut sebagai bagian dari sejarah yang tak terlupakan.

Istana Neuschwanstein telah menjadi salah satu ikon andalan pariwisata di Jerman. Setiap tahun, sedikitnya 1,3 juta turis asing berbondong-bondong mengunjungi istana tersebut. (bersambung/Twitter: @kum_jp/IG: kum_jp).