Suhu udara di Paris tak sedingin di Munchen.

Kami tiba di Paris pada siang, 24 Desember 2016, menjelang Natal.  Suasana di sudut-sudut Kota Paris dan di tempat-tempat perbelanjaan  tampak meriah dengan hiasan menyambut Natal.

Sayangnya, kami di Paris hanya tiga hari dua malam.   Kesempatan yang terbatas itu kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk menjelajahi Kota Paris.

Mengunjungi Menara Eiffel, adalah objek pertama yang kami datangi.

Kami mengunjungi Eiffel pada sore hari.  Sengaja sore hari, agar tidak terlalu lama ke malamnya. Menyaksikan Menara Eiffel di malam hari, sangat disarankan. Karena pada saat itu lah, pendaran lampu yang menaburi Menara Eiffel terlihat sangat indah. Kerlap-kerlipnya merata,  hingga di puncak menara yang tertinggi.

Puas berjalan-jalan di dekat Eiffel, kami lantas menuju ke areal di tepi Sungai Seine. Suasana di sana sangat indah. Sungainya pun bersih. Ini adalah sungai utama di Paris, dan termasuk perairan komersial.

HATI DAN JIWA PARIS: Sungai Seine pada sore hari menjelang malam.

Mengapa sungai Seine bisa seindah dan sebersih itu? Pertanyaan ini saya lontarkan kepada Aldric, pemuda yang saya temui ketika dia sedang melukis di daerah pinggiran Sungai Seine.

“(Sungai) Ini adalah hati dan jiwa kami,” jawab Aldric, yang mengaku mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di Paris ini.

Menurut data, sungai Seine memiliki panjang 776 kilo meter, mengalir melalui Paris dan masuk ke Selat Inggris di Le Havre. Lebih dari 69 persen panjang dari sungai itu bisa dilayari kapal-kapal komersial.

Di sepanjang Sungai Seine, di kanan-kirinya terdapat pedestrian bertingkat.  Ada pedestrian di bagian atas, dan ada yang di bawah. Sama-sama ramainya. Di dua pedestrian itu, selain banyak terdapat sejumlah counter yang menjual aneka souvenir dan makanan, juga terdapat para seniman lukis. Ada yang seniman professional, ada pula yang masih amatiran.

Mereka ketika saya lihat, kebanyakan menggambar objek Eiffel dengan latar belakang sungai Seine.

Hari berikutnya, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Versailles untuk mengunjungi Istana Versailles.  Ini lah salah satu istana terbesar, termegah dan terindah di dunia.

Kami berangkat pagi, dengan kereta api.  Jarak Kota Paris ke Kota Versailles, tak seberapa jauh.  Sekitar 20 kilo meter. Perjalanan dengan kereta api ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Tiba di Stasiun Versailles Rive Gauche, kami berjalan kaki menuju ke Istana Versailles. Tak seberapa jauh. Berjalan kaki kira-kira hanya 15 menit. Tak lama berjalan kaki, dari kejauhan, kami sudah bisa menyaksikan keindahan dan kemegahan Istana Versailles  yang berwarna kuning emas.

Versailles adalah kota kecil yang cukup tenang, jumlah penduduknya tak sampai 100 ribu.

Istana Versailles berdiri di atas lahan sekitar 800 hektare.  Cikal bakal istana itu, awalnya adalah pondok berburu yang didirikan Raja Louis XIII pada 1623.

Ketika tampuk kerajaan beralih ke Raja Louis XIV, dia lantas merombak seluruh bagian pondok berburu yang dibangun ayahnya.   Louis XIV mengubah pondok berburu menjadi sebuah istana.

Proses pembangunan kembali dimulai pada 1661, dan selesai pada 1678. Rupanya, Louis XIV belum puas. Pada tahun yang sama, dia memerintahkan tahap perbesaran istana, dan baru selesai pada 1715.  Berarti, Istana Versailles dibangun selama 54 tahun dan dilakukan secara bertahap.

Sejak 1682, Louis XIV memindahkan seluruh anggota istana dari Kota Paris ke Istana Versailles. Sejak itu, Istana Versailles dijadikan sebagai istana kediaman raja yang resmi. Istana tersebut ditinggali hingga Raja Louis XVI.  Raja ini menurut sejarah, menjadi korban dalam revolusi Prancis. Dia dihukum pancung bersama permaisurinya.

Konon, selama proses pembangunan istana Versailles yang memakan waktu puluhan tahun itu, menelan korban jiwa hingga ratusan pekerja. Puluhan ribu pekerja dilibatkan kala itu demi menyelesaikan pembangunan Istana Versailles. Mereka mayoritas didatangkan dari negara-negara jajahan.

Begitu masuk ke halaman Istana Versailles, kami merasa takjub. “Betapa megahnya istana ini. Betapa indahnya istana ini. Dan betapa luasnya istana ini,” seperti ini lah ungkapan-ungkapan spontan bernada takjub berkelindan dalam benak saya.

Wajar, untuk membangun istana semegah, seindah dan seluas ini, butuh waktu selama 54 tahun.

Di lingkungan istana itu,  terdapat taman-taman yang indah, ditanami bunga-bunga berwarna-warni. Penataan tamannya dibikin simetris. Selain itu juga terdapat beberapa spot dimana di dalamnya terdapat air terjun, serta patung-patung dengan pahatan yang sangat detail dan halus.

Jika Istana Versailles sampai dicatat dalam daftar World Heritage Site UNESCO, tidak lah mengherankan. Sebab, selain bernilai sejarah tinggi, istana tersebut juga sangat indah, megah, dan tertata.

Ingin tahu berapa kamar di dalam istana yang bangunannya seluas 63.154 meter persegi itu? Ada 2300 kamar. Dari sejumlah kamar ini, terdapat 1.000 kamar yang saat ini digunakan sebagai museum.

Puas berjalan-jalan menikmati kemegahan Istana Versailles, kami kembali ke Paris.  Di Paris kami beristirahat sebentar untuk salat Dhuhur yang kami jamak dengan Ashar.

DULU BENTENG: Museum Louvre, Paris, di malam hari.

Selanjutnya, kami menuju ke objek berikutnya: Museum Louvre.  Ini adalah salah satu museum terbesar dan paling banyak dikunjungi di dunia, dan memiliki bentuk bangunan yang unik.

Dari rekam jejak yang saya baca, Louvre pada awalnya dirancang oleh Philip Augustus II pada abad ke-12. Saat itu, Louvre difungsikan sebagai benteng pertahanan.

Lama-lama, bangunan Louvre diperluas secara bertahap. Hingga menjadi sebuah istana, tempat bersemayamnya raja-raja Prancis. Di masa pemerintahan Raja Louis XIV, tepatnya pada 1682, Louvre dijadikan sebagai tempat penyimpanan berbagai koleksi kerajaan.

Selama revolusi Prancis (tahun 1789 – 1799), Louvre diubah menjadi museum untuk menyimpan berbagai benda berharga, hingga kini.

Puas melihat-lihat Louvre, kami berjalan kaki menuju ke ikon-ikon Kota Paris.  Objek pertama adalah Place de La Concorde.  Ini adalah alun-alunnya Kota Paris, yang dirancang oleh Ange Jacques Gabriel pada 1755.

UNTUK HIBURAN: Bianglala yang terdapat di sekitar Place de La Concorde, Paris.

Ada bianglala besar di alun-alun itu. Lebih besar dari bianglala yang ada di alun-alun Kota Batu.  Pada malam hari, ada pasar malam. Para pedagang kaki lima menjual bermacam-macam makanan, jajanan serta souvenir khas.

Dari Place de La Concorde, kami ke Champs Elysees (lapangan Elysium).  Tempat ini dalam bahasa Prancis dijuluki: La plus belle avenue du monde (Jalan terindah di dunia).

Ini adalah sebuah avenue cukup luas, di dalamnya terdapat bioskop, kafe, dan sederetan toko untuk barang-barang branded dan mewah.  Harga tanah di lokasi ini termasuk yang termahal di dunia setelah Fifth Avenue di New York.

Ingin tahu seberapa mahalnya? Untuk menyewa toko seluas 100 meter persegi, dikenai tarif USD 1,25 juta (sekitar Rp 16,5 miliar dengan kurs USD 1 = Rp 13.200). Berarti per meternya Rp 165 juta. Tarif ini sudah beberapa tahun lalu. Sekarang, pasti harganya sudah naik berlipat-lipat.

Dari Champs Elysees, kami menuju ke ikon Kota Paris berikutnya, yakni Arc de Triomphe. Ini adalah monumen yang berbentuk seperti gapura dan berdiri tepat di tengah kawasan Place de I’Etoile dan di ujung Barat kawasan Champs Elysees.  Jika diterjemahkan, Arc de Triomphe berarti Gerbang Kemenangan.

Monumen ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte untuk merayakan kemenangan tentara Prancis yang dipimpin Napoleon saat berperang melawan Austria. Selain untuk merayakan kemenangan, Arc de Triomphe dibikin juga untuk mengenang jasa para tentara yang mati di medan perang. Karena itu, nama-nama tentara yang mati diabadikan di monumen tersebut.

DIBANGUN NAPOLEON: Tugu kemenangan Arc de Triomphe

Arc de Triomphe mulai direncanakan pembangunannya sejak 1806. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mewujudkan monumen tersebut. Untuk bikin pondasi dasarnya saja, butuh waktu sekitar dua tahun. Saking lamanya membangun Arc de Triomphe, Napoleon keburu meninggal. Dia belum sampai bisa menyaksikan monumen itu selesai dibangun.

Di Jawa Timur, tepatnya di Simpang Lima, Gumul, Kediri, ada gapura yang dibikin persis menyerupai Arc de Triomphe.

Berjalan kaki  dari Louvre,  ke Place de La Concorde, lalu ke Champs Elysees, kemudian ke Arc de Triomphe, tak terasa kami menempuh jarak hampir 4 kilo meter.  Tidak terlalu lelah, karena selama perjalanan, kami berhenti beberapa kali.

Selain beristirahat, kami juga menikmati pemandangan dan suasana Kota Paris pada malam hari. Ini lah sebuah kota yang lanskap-nya benar-benar ditata sangat indah, rapi, dan ada nilai-nilai filosofisnya.

Pedestrian yang kami lalui lebar-lebar, sehingga nyaman digunakan bagi para pejalan kaki.

Jika ditarik garis di peta, ikon-ikon Kota Paris yang kami datangi tadi, arahnya membentuk garis lurus ke arah Tenggara.

Di sini lah menariknya. Mengapa menarik? Saya pernah membaca sebuah artikel, yang menyebutkan bahwa ikon-ikon utama di pusat Kota Paris (mulai dari Louvre, Place de La Concorde, Champs Elysees, dan Arc de Triomphe) posisi-posisinya mengikuti pola garis lurus ke arah Tenggara.

Pertanyaannya, mengapa pola garis lurusnya tidak mengikuti arah mata angin utama (Utara, Selatan, atau Barat, Timur) yang umumnya menjadi patokan arah poros tradisional? Padahal, Kota Paris dinyatakan sebagai kota tempat melintasnya garis bujur utama atau meridian utama?

Menurut artikel yang saya baca tadi, ada dugaan pola garis lurus sengaja dibikin mengarah ke Tenggara karena menyesuaikan dengan arah kiblat. Di Prancis, arah kiblatnya adalah Tenggara.

Dan dalam artikel itu juga disebutkan, bahwa merujuk pada Qibla Locator (penentu arah kiblat), posisi Champs Elysees memang hampir sejajar dengan arah kiblat untuk Kota Paris, dan hanya berselisih 5 derajat. Arah kiblat Paris berada pada azimuth 119 dengan jarak pisah ke Kakbah sejauh 4.500 kilo meter. Kesesuaian ini cukup mengherankan, mengingat banyak masjid kuno di seluruh daratan Eropa yang arahnya tidak berimpit dengan arah kiblat.

Jika memang analisa ini benar, lantas siapa yang sengaja mengarahkan ke kiblat?  Napoleon Bonaparte. Sebab, ikon-ikon utama Kota Paris tadi (Place de La Concorde, Champs Elysees, dan Arc de Triomphe) dirancang dan dibangun di masa-masa dia berkuasa (1769 – 1821).

Jika memang benar demikian, mengapa Napoleon mengarahkan pola garis lurus ikon-ikon pusat Kota Paris tadi ke kiblat? Konon, Napoleon ketika bertugas sebagai perwira Prancis di Mesir, dia sangat terkesan dengan Islam dan juga sangat terkesan dengan ka’bah sebagai pusat kiblatnya muslim sedunia. Bahkan, konon, Napoleon meyakini, ka’bah adalah pusatnya bumi.

Makanya, begitu dia berkuasa, dia lantas mengimplementasikan kekagumannya terhadap Islam tadi dalam berbagai aspek, mulai dari penyusunan Code Napoleon hingga urusan tata kota Paris, termasuk pembangunan Champs Elysees.

Benarkah seperti ini adanya? Bisa iya, bisa tidak. Yang paling tahu, ya Napoleon sendiri.  Yang jelas, ini hanya lah sebuah analisa, dan  salah satu versi sejarah.  Bagi saya, bisa mengunjungi ikon-ikon utama Kota Paris, adalah pengalaman yang sangat berharga. Karena sekaligus bisa menapak tilasi jejak sejarah kebesaran Prancis. (bersambung/Twitter: @kum_jp/IG: kum_jp).