Setelah dari Paris, kami menuju ke Interlaken.  Perjalanan kali ini agak panjang, menempuh waktu hampir tujuh jam.  Selama perjalanan, kami sangat terhibur dengan pemandangan alam di kanan – kiri yang sangat indah. Ketika mendekati tiba di Interlaken, kami disuguhi pemandangan menakjubkan, yakni kawasan pegunungan Alpen yang indah.

Kami berhenti di Stasiun Interlaken Ost, dan langsung menuju ke hotel yang jaraknya sekitar 300 meter.  Nama hotelnya: Carlton Europe, terletak di pinggiran jalan utama Interlaken.  Suhu di Interlaken sekitar 5 derajat celcius. Pemandangan di depan hotel ini langsung sudah bisa menyaksikan pegunungan.

Kami berada di Interlaken hanya dua malam saja.

Mengapa harus ke Interlaken? Seperti saya singgung pada tulisan sebelumnya, ketika akan berangkat ke Eropa, kami lebih dulu mencari informasi seputar tempat-tempat yang layak untuk didatangi. Interlaken layak untuk didatangi, karena ini adalah salah satu kota terindah di Swiss, dan dianggap sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di dunia. Kota ini pernah dinobatkan sebagai salah satu kota terindah, teraman dan ternyaman di dunia.

Interlaken juga dianggap salah satu tempat terbaik di dunia untuk olahraga outdoor.  Misalnya ski, terjun payung, gantole, dan paralayang.

TERBUKA: Salah satu spot di Jungfraujoch yang banyak digunakan objek selfie.

Alasan lain mengapa harus ke Interlaken, karena dari sini, adalah jalur paling cepat jika ingin ke Jungfraujoch. Kami penasaran ingin ke Jungfraujoch, karena kawasan pegunungan itu dijuluki sebagai Top of Europe dengan ketinggian sekitar 3.500 meter.

Di Swiss, Interlaken adalah sebuah kota kecil yang luasnya hanya sekitar 4,4 kilo meter persegi, dengan jumlah penduduk hanya sekitar 2.600 orang. Mungkin, jika di Malang, ini hanya lah seluas wilayah RW.

Pekerjaan utama masyarakat di Interlaken adalah bekerja di percetakan, pembuat jam dan tekstil. Namun, pendapatan utama Interlaken bersumber dari sektor Pariwisata. Tak heran, meski luas wilayahnya tak sampai 5 kilo meter persegi, tapi di tempat ini banyak terdapat hotel yang menawarkan pemandangan kota dan pegunungan yang menakjubkan.

Hari pertama di Interlaken, kami gunakan untuk berjalan-jalan menikmati sudut-sudut kota. Di sepanjang jalan utama, tepatnya di Jalan Hoheweg, di kanan-kirinya berjejer toko-toko yang menjual tas-tas branded, dan hampir semuanya memajang jam tangan asli buatan Swiss.

Kata orang, kalau ingin membeli jam tangan buatan Swiss, beli lah di Interlaken. Niat hati ingin membeli, tapi begitu melihat harganya, niatan itu pun batal. Maka, kami pun hanya melihat-lihat saja berbagai macam koleksi jam tangan itu.

Sepanjang kami berjalan-jalan, sering kali berpapasan dengan turis-turis dari Asia, terutama China, Jepang dan Korea. Sayangnya, nggak bertemu dengan turis dari Indonesia.

Hari kedua di Interlaken, kami pergunakan hanya untuk mengunjungi Jungfraujoch, puncak tertinggi di Eropa.  Karena menurut petugas di desk informasi di stasiun Interlaken Ost, untuk mengunjungi Jungfraujoch, butuh waktu seharian.

Bagi Anda yang baru pertama kali pergi ke Jungfraujoch, jangan takut kesasar. Datang saja ke stasiun, maka di sana akan dijelaskan oleh petugas di bagian informasi, bagaimana rute-rutenya.

Sekaligus diberikan selembar kertas, berisi jadwal kereta api ke Jungfraujoch.  Pada selembar kertas itu juga dijelaskan di stasiun mana kita harus ganti kereta api. Pokoknya gampang, asal kita bisa berbahasa Inggris (minimal percakapan)  dan tidak malu bertanya.

Untuk jam keberangkatan ke Jungfraujoch, paling pagi adalah pukul 06.35. Selanjutnya, akan ada kereta berikutnya yang siap berangkat setiap 30 menit. Setelah jam 06.35, kereta berikutnya pukul 07.05, lalu pukul 07.35, dan seterusnya. Jadwal terakhir berangkat adalah pukul 14.05.

Sedangkan untuk jadwal kereta pulang dari Jungfraujoch, paling akhir adalah pukul 16.43.

Sayangnya, tiket Eurail Pass tidak bisa dipergunakan untuk naik kereta menuju ke Jungfraujoch.  Kita harus membeli tiket tersendiri di loket khusus di Stasiun Interlaken Ost. Tiket itu sudah termasuk tiket kereta api PP (pulang-pergi), serta tiket masuk ke Jungfraujoch.

Kami berangkat dari Stasiun Interlaken Ost pukul 09.35. Menempuh perjalanan ke Jungfraujoch, sama dengan mendaki gunung dengan kereta api. Di sini lah asyiknya.  Selama naik kereta api, kami pun tidak melewatkan untuk melihat-lihat pemandangan di kanan-kiri yang didominasi pegunungan.

Di antara pegunungan itu terdapat deretan pohon Pinus yang dahannya ditutupi salju. Juga tampak rumah-rumah kayu di lereng bukit, dengan atap penuh salju, dan jalanan penuh salju. Kami juga menyaksikan dari kereta, berseliweran orang sedang bermain ski.

Di dalam kereta, hampir separuhnya penumpang  adalah mereka yang akan bermain ski.  Ini terlihat dari pakaian, atribut dan peralatan ski yang mereka bawa.

Selama perjalanan, kami harus ganti kereta api dua kali. Pertama, dari Stasiun Interlaken Ost menuju ke Stasiun Lauterbrunnen. Waktu tempuhnya sekitar 20 menit. Ganti kereta api kedua adalah di Stasiun Kleine Scheidegg.

Dari sini, baru menuju ke Jungfraujoch.  Total lama perjalanan menuju ke Jungfraujoch dari Interlaken Ost adalah sekitar dua jam. Itu sudah termasuk waktu menunggu jadwal di setiap pergantian kereta.

Mengapa harus ganti kereta sampai dua kali?  Karena jalurnya naik. Butuh kereta khusus yang didesain untuk naik ke puncak tertinggi di Jungfraujoch.

Yang sempat deg-degan naik kereta adalah ketika melewati jalur Kleine Scheidegg – Jungfraujoch. Rutenya ekstrem. Hampir 70 derajat menanjaknya. Beruntung, cuaca pada hari itu sangat cerah.

Di jalur yang terakhir menuju ke Jungfraujoch ini, sebagian besar perjalanan ditempuh melewati terowongan yang digali menembus formasi batuan granit Gunung Eiger. Selama 30 menit, kereta menyusuri terowongan sepanjang 7,3 kilo meter itu.

Kami lega, ketika kereta berhenti di stasiun Jungfraujoch. Ini lah stasiun tertinggi di Eropa. Yakni, terletak di ketinggian hampir 3.454 meter di atas permukaan laut.

Tiba di Stasiun Jungfraujoch, sudah ada petunjuk arah untuk ke spot-spot wisata selama berada di Jungfraujoch. Jadi, pengunjung tinggal mengikutinya saja.  Ikuti saja tulisan “Tour” yang dipasang di sejumlah titik.

Kompleks wisata Jungfraujoch adalah sebuah kompleks yang separuhnya dibangun di dalam gunung, di bawah lapisan batuan granit dan es abadi (permafrost).

Bangunan utama disebut Berghaus, terdiri atas lima lantai. Di dalamnya terdapat restoran, toko cinderemata, hingga fasilitas riset ilmiah.

Bagi yang suka dengan coklat, disarankan untuk membeli coklat di sana. Di salah satu spot yang dilewati pengunjung, ada satu lantai khusus yang menjual aneka macam coklat dengan berbagai macam ukuran dan harga. Rasanya pun berbeda. Tidak eneg. Ada gurihnya. Di tempat ini pengunjung juga bisa menyaksikan bagaimana coklat diproses.

Setidaknya ada dua spot yang sangat berkesan bagi kami. Pertama, ketika melewati sebuah terowongan salju. Tempat ini dinamai Ice Palace (istana es). Melewati terowongan itu, serasa berada di dalam gua salju. Di sini harus berhati-hati, karena lantainya licin.  Di sana terdapat patung-patung penguin yang dipahat dari bongkahan es.

ICE PALACE: Terowongan salju di dalam gunung Jungfraujoch

Spot lain yang tak kalah mengesankan ketika berada di bagian paling tinggi dari puncak pegunungan di Jungfraujoch. Di sana, pengunjung bisa berada di luar, menyaksikan tingginya puncak Jungfraujoch.

Suhunya sangat dingin, hingga -12 derajat celcius. Disarankan untuk menggunakan penutup kepala dan juga penutup telinga. Jika tidak, maka kepala bisa terasa pusing.

Selama berkeliling dari satu spot ke spot lainnya, pengunjung bisa membaca beberapa keterangan yang dipasang di tembok, yang menceritakan tentang bagaimana proses Jungfraujoch dibangun.

Ternyata untuk membangun jalur kereta api hingga ke puncak tertinggi Jungfraujoch, butuh waktu 16 tahun. Proyek ini digagas pertama kali oleh pengusaha kaya Swiss Adolf Guyer Zeller.

Guyer yang kala itu dijuluki sebagai Raja Kereta Api di Swiss ini memulai proyek ambisiusnya membangun jalur kereta api di Jungfraujoch itu pada 1896. Pada saat ini lah dimulai pembangunan konstruksinya.

Tentu ini bukan proyek yang mudah. Butuh biaya yang tidak sedikit, serta butuh pengorbanan yang berat.

Untuk membiayai proyeknya ini dia sampai mendirikan Bank Guyerzeller AG pada 1894 (bank ini diakuisisi oleh HSBC sejak 2004). Pada sisi lain, konon, ratusan nyawa pekerja melayang selama proyek tersebut dibangun.

Yang paling sulit dari proyek pembangunan Jungfraujoch adalah ketika harus membuat terowongan yang menembus dua gunung batu: Yakni Gunung Eiger dan Monch untuk mencapai puncak Jungfraujoch.

Selama proses pembangunan, beberapa stasiun dibikin. Hingga akhirnya, pada 1 Agustus 1912, stasiun terakhir berhasil dibangun, yakni stasiun Jungfraujoch yang terletak di bagian paling tinggi dengan ketinggian 3.454 meter. Pada saat itu lah, rel kereta api menuju ke puncak tertinggi Jungfraujoch secara resmi beroperasi.

Sayangnya, saat proyek prestisius ini diresmikan pengoperasiannya, sang penggagas Adolf Guyer tak bisa menyaksikannya. Dia meninggal di usia 60 tahun pada 1899. Tercatat, biaya untuk proyek tersebut menghabiskan anggaran waktu itu 16 juta francs (mata uang Swiss). Jika dikurskan dengan kurs rupiah saat ini, jumlahnya setara dengan Rp 213.680.000.000. Jumlah ini, pada masa itu, tentu lah jumlah yang tidak sedikit.

Alhasil, berkat gagasan Adolf Guyer, kita bisa naik hingga ke puncak tertinggi di Eropa tanpa harus susah-susah mendaki. Begitu berada di puncak tertinggi di Jungfraujoch, berkali-kali kami mengucapkan Takbir dan Tasbih.  Allahu Akbar….alam itu menunjukkan kemahabesaran Allah. Subhanallah….begitu indahnya ciptaan Allah.

Berada di Jungfraujoch, sekaligus juga bisa mengambil hikmah, bahwa sebuah ikhtiyar yang sungguh-sungguh, akan bisa mewujudkan hal-hal yang dianggap mimpi bagi kebanyakan orang, menjadi kenyataan. (bersambung/Twitter: @kum_jp/IG: kum_jp).