Sumringah lan panen duit. Ya, itulah singkatan dari kata ”Sumpit” dari warung mi Sumpit yang sudah berdiri sejak 1999 silam ini. Mula-mula, nama warung ini adalah Warung Berkat. Akan tetapi, ada kejadian menarik yang membuat pemilik warung, Pujiono Widya, memutuskan mengganti nama warungnya dengan nama warung mi Sumpit.

Hal itu terjadi pada 2002 lalu. Saat itu ada orang Jogjakarta yang kebetulan makan di warungnya. ”Kayaknya warungmu ini nggak pas dinamakan ’Berkat’. Cocoknya pakai nama ’Sumpit’, singkatan dari sumringah lan panen duit,” kata Pujiono mengenangnya.

Sesuai akronim dari nama warungnya, warung di Jalan Utama Panglima Sudirman, Kota Batu, ini seolah menjadi ”mesin” uang bagi Pujiono dan keluarganya. Setiap hari, pengunjung selalu ramai untuk menikmati mi di warungnya. Padahal, warung ini begitu sederhana. Para pelanggan hanya disambut oleh empat meja panjang.

Menu andalan dari mi Sumpit ini adalah Pangsit Mie Spesial seharga Rp 15 ribu. Isinya terdiri dari mi, beberapa lembar selada, taburan olahan ayam kering, ayam cincang, serta semangkok kuah. Jadi, antara mi dan kuah terpisah. Keistimewaannya terletak di bumbu ayam cincang yang memiliki perpaduan rasa yang pas antara manis dan gurihnya.

Pujiono lantas menceritakan jatuh bangunnya warung ini. ”Awalnya, ini usaha keluarga bersama. Tapi, setelah dua tiga tahun buka, kita pecah. Dan saya memutuskan untuk berdiri sendiri.” kata Pujiono.

”Ya, sempat ada masa nggak punya modal sama sekali. Dan saya harus mulai dari nol lagi untuk menemukan resep yang pas,” ujar Pujiono.

Sejak menjalankan usahanya secara mandiri, Pujiono belajar ke berbagai tempat untuk mematangkan resep minya. Seperti Malang, Solo, hingga Jakarta.

”Saya belajar memadukan resep-resep yang saya dapat. Mulai dari bikin adonan mi sampai masaknya. Yang jelas, saya pantang pakai pengenyal,” kata bapak dua anak ini.

Demi mempertahankan kualitas, proses yang dilaluinya tidak instan. ”Misalnya, orang lain mengolah adonan mi 10 kilogram selama satu jam, saya bisa sampai tiga jam. Kalau pakai pengenyal kan memang lebih cepat prosesnya” jelas Pujiono.

Sedangkan untuk membuat racikan olahan ayam cincang tadi, Pujiono mengandalkan pengalamannya saat bekerja di Hotel Tugu, Kota Malang. Dari salah satu hotel paling elit di Kota Malang itu, dia belajar lebih jauh soal takaran-takaran yang pas dalam meracik bumbu di berbagai jenis masakan. Karena itu, warung mi Sumpit punya menu andalan lain selain pangsit mi, yaitu nasi goreng.

”Dalam memasak, yang penting bagi saya itu kecepatan. Pelanggan suka nasi goreng di sini karena nggak terlalu kering dan nggak terlalu berminyak. Karena kalau kita masaknya cepat, minyaknya itu belum terlalu meresap ke nasinya,” kata pria yang tinggal di Jalan Hasanudin, Kota Batu, ini.

”Pernah suatu kali ada pelanggan yang mendadak pesan nasi goreng dalam jumlah banyak. Dalam dua jam itu akhirnya saya menghasilkan 250 porsi,” lanjutnya.

Pujiono juga sangat memperhatikan soal takaran.

”Mungkin kalau orang memperhatikan saya masak, kelihatannya ngawur waktu memasukkan bumbu. Tapi, sebenarnya tangan saya itu yang menimbang dan ngukur. Jadi, walaupun saya nggak mencicipi saat masak, jarang sekali kurang mericanya, atau kurang asin, dan sebagainya,” ungkap Pujiono yang lahir di Malang pada 11 April 1979 ini.

Mungkin faktor inilah yang membuat pelanggannya tetap setia selama bertahun-tahun. Meskipun begitu, ada juga pelanggan baru yang akhirnya ketagihan hingga sekarang. Salah satunya adalah Wali Kota Batu Eddy Rumpoko.

”Waktu itu Bu Dewanti Rumpoko yang meminta ajudannya untuk bungkus mi di sini. Setelah merasa enak, akhirnya lanjut sampai sekarang. Saya pernah diminta masak di rumah dinas untuk acara reuni. Kalau ada acara-acara kita juga sering ditarik. Pak Eddy yang sering lewat dan makan di sini,” ungkapnya.

Kecintaan Pujiono terhadap pekerjaannya ini tentu tertuang dalam setiap masakannya. Sampai-sampai ada pelanggan yang tidak mau mampir kalau bukan Pujiono yang masak.

”Istri saya sebenarnya bisa masak. Tapi, ya, tetap beda tangan beda rasa. Banyak juga pelanggan yang lewat sini ngintip dulu dari luar, ada saya atau nggak,”pungkasnya.

Pewarta: Tabita Makitan
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Rubianto