GIGIH BEKERJA: Zuhriah menunjukkan rawon hasil racikannya.

Warung ini amat sederhana. Ukurannya hanya 3×6 meter persegi. Saking sederhananya, warung ini tak punya nama. Orang banyak mengenalnya dengan sebutan Warung Rawon Ibu Zuhriah. Nama ini merujuk pada nama si pemilik warung.

Untuk mencari warung ini, tidaklah sulit, karena posisinya berdekatan dengan kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kota Malang yang ada di Jalan KH Hasyim Asyari, Kota Malang. Jaraknya hanya sepuluh meter di belakang kantor NU.

Meski tampilannya dari luar begitu sederhana, umur warung ini sudah 41 tahun atau sudah berdiri sejak 1975 lalu. Awalnya, Zuhriah berjualan di warung ini dengan suaminya, Zainul Abidin. ”Mulai 2007 lalu, saya jualan sendiri, karena bapak meninggal,” kata perempuan 72 tahun tersebut.

Dia mengaku merintis usahanya itu benar-benar dari nol. Dulu dia mengontrak tempat tersebut, hingga akhirnya sekarang sudah milik pribadinya. Mereka berdua menjual rawon dengan bekal bumbu dari ibu Zuhriah, Allimah. Meski bukan pengusaha tempat makan, tapi Allimah jago memasak. ”Oleh karenanya, bumbu lengkapnya saya buat sendiri,” imbuh perempuan yang tinggal di daerah Kauman, Kota Malang ini.

Ketika pekan lalu wartawan koran ini berkunjung ke warungnya, perempuan berkacamata tersebut terlihat sibuk melayani para pembeli.Warung ini selalu ramai, karena memang rasanya maknyus. Kuah rawonnya gurih. Manisnya begitu terasa. Irisan dagingnya besar-besar dan empuk ketika digigit.

Nah, karena nikmatnya rawon Ibu Zuhriah, pembelinya tidak hanya dari kalangan biasa. Para tokoh Nahdlatul Ulama (NU) sempat menjadi langganan warung ini. Di antaranya adalah KH Hasyim Muzadi yang kini jadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), tokoh nasional KH Tholhah Hassan, dan mendiang mantan Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Zuhriah bercerita, KH Hasyim Muzadi dulu sering makan di warungnya di sela-sela berkunjung ke kantor NU. Sembari menunggu rawon dihidangkan, mantan ketua umum PBNU ini sering mencicipi gorengan di meja. ”Paling sering dulu Pak Tholhah, saat aktif di kantor NU,” katanya. Kiai Tholhah aktif di kantor NU antara tahun 1989-1998, ketika pria ini menjabat sebagai rektor Universitas Islam Malang (Unisma).

Lalu bagaimana dengan Gus Dur? Dia ingat betul kalau presiden ke-4 Republik Indonesia ini pernah dua kali makan rawonnya di sela-sela ke kantor NU. Hanya saja, dia sudah lupa tahun berapa Gus Dur makan rawonnya itu. ”Kalau Gus Dur dulu, rawonnya saya antarkan ke kantor,” kata perempuan enam anak ini.

Selain tokoh nasional tersebut, tokoh NU Kota Malang seperti KH Chamzawi, KH Marzuki Mustamar, dan KH Isroqunnajah juga sering makan di warungnya. ”Di sini juga ada pecel dan nasi campur, tapi beliau semua paling senang rawon,” pungkasnya.(fajrus shiddiq/c1/riq)