ASAP mengepul dari warung yang jaraknya hanya selemparan batu dari pertigaan Jalan MT Haryono, Kota Malang, Senin (3/4) lalu. Asap itu datang dari warung mungil berukuran 4 x 7 meter yang berada di sebelah timur pertigaan.

Warung tersebut bernama Warung Sate Lumayan 69. Nama ”69” diambil dari nomor rumah di Jalan MT Haryono Nomor 69. Khalayak ramai biasa menyebut warung ini, Sate Patung Kambing. Ya, karena di depan warung ada patung kambing. ”Memang sengaja buat patung kambing buat nengeri (penanda, Red). Banyak rekan dari Jember yang ke sini. Jadi, biar nggak kesasar, saya buat patung kambing,” kata pemilik Warung Sate Lumayan 69 Siti Nurjanah.

Memasuki warung tersebut, tiga meja besar berjejer. Terlihat beberapa pengunjung asyik menyantap sate dan gule kambing olahan Nurjanah. Wartawan koran ini memesan sate kambing campur. Selang sepuluh menit menunggu, sate kambing datang.

Tak berbeda dengan sate lainnya, bumbu kacang menjadi andalan Warung Sate Lumayan 69. Selain itu, potongan bawang merah dihidangkan sebagai pelengkap sajian dan rasa. Saat disantap, potongan daging terasa empuk ketika digigit. Terutama, sewaktu menyantap gajih atau lemak kambing. Rasa lumer dan nikmat mampu menggoyang lidah.

Menyantap sate kambing ini paling nikmat dalam kondisi hangat. Sebab, lemak kambing tidak akan lumer di mulut jika sudah dingin. Yang membuat sate itu semakin nikmat, potongan daging di warung tersebut besar-besar, sehingga ketika digigit begitu terasa. Bagi yang tidak suka lemak atau hati kambing, lebih baik memesan sate daging biasa. Sebab, sate kambing biasa didominasi hati dan lemak kambing.

Warung Sate Lumayan 69 ini berdiri sejak 1952. Jika dihitung, rumah makan tersebut sudah berusia 65 tahun. Nurjanah merupakan pengelola generasi kedua. ”Dulu ibu saya yang buka. Baru saya kelola tahun 1990 saat ibu saya sakit-sakitan dan meninggal,” ujar putri dari Komsatun dan Sardi itu.

Pada tahun tersebut, Nurjanah yang telah menikah dan hijrah ke Jember, diminta sang ibu untuk kembali dan membantunya di warung. Tak kuasa menolak, dia berkorban pulang pergi seminggu sekali Malang–Jember.
Padahal, saat itu, Nurjanah juga membuka warung sate kambing di Jember. ”Suami kerja jadi PNS di Jember. Anak juga di sana. Jadi, saya seminggu sekali pulang pergi Malang–Jember,” kenang wanita 65 tahun tersebut.

Saat sang Ibunda meninggal dunia, Nurjanah memutuskan kembali ke Malang dan mengelola usaha keluarga. Bahkan, dia mengorbankan warung satenya di Jember. Sedangkan, sang suami, Mashudiana, ketika itu masih di Jember sampai pensiun dari PNS. ”Ibu berpesan, warung ini tidak boleh ditutup. Harus terus dikelola dan dibiarkan apa adanya,” paparnya.

Setelah pindah ke Malang dan meneruskan usaha keluarga, Nurjanah melakukan beberapa inovasi. Seperti membuat patung kambing di depan warung. Serta menambah varian menu baru: sate ayam. ”Ada pengunjung yang tidak doyan kambing. Jadi, saya sediakan sate ayam sekalian untuk variasi,” jelas ibu 4 anak itu.

Terkait tempat, Nurjanah tidak ada niatan untuk membuka cabang atau pindah ke tempat baru yang lebih luas. Sebab, wasiat ibunya terus terkenang. ”Sudah di sini saja cukup. Tidak ingin buka di tempat lain,” tukasnya.

Pewarta: Lizya Oktavia
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Bayu Eka