MALANG KOTA – Ironi. Saat jalanan macet dan objek wisata penuh pengunjung, okupansi hotel tetap rendah. Hal itu disampaikan Ketua DPC (Dewan Pimpinan Cabang) PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Malang Dwi Cahyono saat membuka rapat pertemuan rutin di Hotel Aria Gajayana kemarin (12/12).

”Jalanan macet dan tempat wisata ramai pengunjung. Namun, belum tentu kamar hotel penuh,” ujar Dwi di hadapan perwakilan pemilik hotel se-Kota Malang.

Berbagai event yang digelar Pemkot (Pemerintah Kota) Malang maupun pengelola wisata dinilai tidak bisa mendongrak okupansi hotel. ”Event yang diselenggarakan bukan mendatangkan wisatawan. Tapi, hanya dipadati warga Malang sehingga jalanan ramai,” tutur penggagas MTD (Malang Tempo Doeloe) itu.



Sesuai data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, okupansi beberapa hotel belum mencapai 100 persen. Ibis Hotel misalnya, pada 31 Desember yang merupakan momen peak season, saat ini okupansinya masih 56 persen. Di Santika Hotel, okupansinya sekitar 90 persen. Demikian juga pihak Amaris Hotel menyatakan, untuk akhir tahun ini masih belum full booked kamarnya.

Dwi menyatakan, booking kamar untuk akhir tahun ini diperkirakan menurun jika dibanding tahun sebelumnya.

”Secara grafik ada penurunan 5 persen dibanding tahun lalu. Itu karena pemesanan biasanya dua minggu sebelum peak season. Tetapi ini masih terus dipantau, mengingat biasanya tanggal 25 Desember terdapat kenaikan grafik,” kata pria yang pernah menjadi cawali (calon wali kota) di Pilwali 2013 Kota Malang.

Faktor lain yang memicu penurunan okupansi adalah pengaruh cuaca ekstrem. Selain itu, dipicu bencana seperti letusan Gunung Agung.

”Untuk wisatawan asing biasanya setelah dari Bali kemudian jalan-jalan ke Malang. Tapi, saat ini wisatawan mengalihkan kunjungannya ke negara lain seperti Singapura dan Malaysia,” ucap budayawan itu.

Untuk meminimalisasi penurunan okupansi, PHRI Malang akan merangkul asosiasi lain, seperti mal, PT (perguruan tinggi), dan RS (rumah sakit). Fokus kerja samanya adalah menggaet wisatawan sehingga dampaknya dirasakan semuanya.

Dalam kesempatan tersebut, Dwi juga memaparkan program PHRI pada 2018. Misalnya memajukan SDM (sumber daya manusia) anggota PHRI dan memperketat syarat masuk anggota PHRI. Alasannya, karena Dwi ingin selektif. ”Tidak semua anggota yang mendaftar kami terima,” ucapnya.

Pewarta: NR5
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: NR5