MALANG KOTA – Dalam sehari, Pangsit Mie Ngaglik yang terjual memang angkanya tidak begitu fantastis, yakni sekitar 60–80 mangkok saja. Dari total penjualan segitu, rata-rata keuntungannya Rp 150 ribu per hari. Uniknya, kebanyakan pembeli berasal dari luar kota.

”Orang sekitar jarang yang beli ke sini. Rata-rata pembeli dari luar kota. Katanya, belum ke Malang kalau belum mencoba Pangsit Mie Ngaglik,” kata Sujarwo, pemilik Pangsit Mie Ngaglik.

Meski tidak ada tokoh atau artis yang menjadi langganannya, tetapi Sujarwo mempunyai banyak pelanggan yang loyal. Bahkan, kebanyakan berasal dari daerah yang jauh. Di antaranya, dari Pandaan, Sidoarjo, Batu, dan Kabupaten Malang. ”Bahkan, ada pelanggan dari Jakarta dan Bandung. Setiap ke Malang, mereka mampir ke sini,” ucap bapak dari dua anak itu.

Bagi Sujarwo, saran dan kritik dari pelanggan merupakan kiat suksesnya untuk mempertahankan usaha warisan orang tuanya tersebut. ”Banyak yang meminta saya untuk tidak mengubah konsep di sini. Biar terasa kesan tradisional. Makanya, saya pun tidak banyak melakukan perubahan,” jelasnya.

Sujarwo tidak ada keinginan untuk membuka Pangsit Mie Ngaglik di tempat lain. ”Di sini saja cukup. Tidak ada keinginan lebih,” papar pria yang telah memiliki dua cucu itu.

Saat ini, Sujarwo hanya dibantu istrinya dan satu karyawan untuk meladeni para pembeli. Sementara itu, warung Pangsit Mie Ngaglik buka setiap hari mulai pukul 14.30–24.00. ”Setiap hari buka, tapi kalau pengen libur ya libur. Bergantung keinginan saja,” pungkasnya.

Nina Nalwa, salah seorang pelanggan, menyatakan, saat mempunyai waktu senggang dan lagi ingin makan mi, dia selalu datang ke tempat ini. ”Enak banget, nagihin, mi lembut dan kuahnya gurih,” katanya.

Pewarta: Lizya Oktavia
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono