Sejak berdiri 1954 silam, Said selalu konsisten dalam menggunakan isi es campurnya. Sejumlah isi es yang wajib ada di antaranya adalah kacang hijau, ketan hitam, mutiara, agar-agar, roti tawar, dan parutan es. Tekadang jika musim buah blewah, dia juga menambahkannya supaya variannya semakin lengkap.

”Saya tidak mau mengecewakan konsumen. Jadi saya berusaha setiap hari melengkapi isinya itu,” terang kakek dua orang cucu ini. Yang membuat berbeda dengan yang es lainnya, menurut Said, adalah es harus ada ketan hitam.

Setiap kali konsumen datang, pasti tidak ingin meninggalkan ketan hitam. Untuk pemanisnya, dia konsisten menggunakan creamer yang berkualitas. Sedangkan untuk gulanya, dia menggunakan gula asli tidak menggunakan bahan campuran. Dalam sehari, dia harus merebus kurang lebih 15 kilogram gula.

Dia pun menjelaskan, ketika membeli es campur, jika ada tawon yang mengelilingi gula tersebut, dipastikan tidak ada tambahan bahan lain dalam gula. Hal itu juga terjadi ketika mengunjungi gerobak Said.

Yakni isi gulanya selalu diserbu tawon. Said pun mencoba menghalau tawon supaya tidak mengganggu ketika mengambil gula. ”Kalau beli es campur, yang aman itu dilihat dari gulanya di kelilingi tawon apa tidak. Kalau iya, berarti gulanya terjamin,” terang Said.

Selain itu, Said juga setia menggunakan serutan es. Menurut dia, serutan es rasanya akan berbeda dibanding ketika esnya hanya dihancurkan. Selain itu, es di warung milik Said juga selalu terbuat dari air yang sebelumnya dia rebus. ”Kalau tidak direbus dulu, biasanya membuat orang pilek,” tambahnya.

Said menjelaskan kalau pelanggannya berasal dari berbagai kalangan. Di antaranya pegawai negeri sipil (PNS), polisi, tentara, dan pelajar. ”Mantan Wali Kota Batu Imam Kabul juga pernah ke sini dulu,” pungkasnya.

Pewarta: Irsya Richa
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Falahi Mubarok