Empat Hari, 900 Kilometer; Menjajal Jalur Ekstrem Paris-Dakar di Gurun Sahara 

SAYA memulai perjalanan dari Maroko. Negara ini sengaja saya pilih, karena di sini ada event organizer yang menurut saya profesional dan berpengalaman, untuk membawa kami menjelajah di jalur sahara. Utamanya jalur rally Paris-Dakar. Selain itu, karena saya muslim, maka saya harus memastikan, bahwa event organizer yang saya pilih, harus bisa memahami kebutuhan saya sebagai muslim. Mulai dari salat hingga makanan yang terjamin kehalalannya.

Maka, setelah searching di internet, saya menemukan nama: MotoAdventures yang berbasis di Andorra, di Benua Eropa. Kebetulan, punya cabang di Maroko dan Afrika Selatan. Setelah berkomunikasi melalui online, saya lantas terbang ke Maroko. Perjalanan dari Jakarta memakan waktu hingga 18 jam, dengan rute: Jakarta–Jeddah–Casablanca.

Maroko memberlakukan bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia. Jadi, sesampai di Bandara Casablanca yang bernama Sultan Mohammed V, bagian imigrasi hanya memberikan stempel di paspor saya. Ada yang menarik petugas imigrasi. Yakni barang bawaan saya yang sebagian besar berupa riding gear (1 set pakaian mengendara). Mereka ada yang bertanya kepada kami. Saya menjawab, bahwa saya ingin mengikuti tur dengan motor di jalur Sahara. Petugas imigrasi itu tampak keheranan. Jauh-jauh ke Maroko dari Indonesia, hanya untuk mengendarai motor? Saya melihat penduduk Maroko cukup ramah.

Saya langsung membeli kartu telepon lokal dengan harga 100 dirham, dengan kapasitas 5 GB, atau dengan kurs rupiah sekitar Rp 150 ribu. Bagi saya, baru kali ini ke Maroko. Saya sempat bingung dengan kondisi bandara di Casablanca. Untungnya, ada 3 mahasiswi Malaysia yang membantu saya memberikan informasi lengkap Kota Casablanca.

Saya juga dibantu oleh mahasiswi asal Surabaya yang sudah hampir lulus kuliah di sana. Tur saya kali ini menggunakan motor trail KTM 450 exc-f tahun 2017 untuk menjajal medan dengan jalur full off road yang sangat menantang. Penga laman saya sebelumnya memakai motor sekelas ini di jalur pasir Abu Dhabi pada 2017, terbukti cukup mumpuni. Motor ini mempunyai kapasitas mesin yang cukup, didukung dengan posisi ergonomic-nya yang sesuai dengan postur orang Asia Tenggara.

Kontributor Radar Malang, Heri Cahyono, yang juga founder Ongisnade Dirt Bike kembali melakukan petualangan ekstrem. Setelah menjajal medan di lima negara di Eropa Timur, kali ini dia mencoba menaklukkan rute di jalur Sahara Benua Afrika, yang menjadi rute rally Paris-Dakar.

Event tur ini, diikuti 9 orang dari 10 limited seat yang ada. Dari Indonesia hanya ada dua. Saya dan Mufti Abdul Karim. Selebihnya off roader dari luar negeri. Yakni: dua dari Swedia, satu dari Inggris, dua dari Belanda, dan dua dari Andorra (Spanyol). Ini pengalaman saya kali pertama tour off road bareng de ngan para bule. Awalnya di antara kami tak ada yang saling mengenal. Saya tiba di Maroko tiga hari sebelum hari H, yakni 28 September tahun lalu. Sengaja datang lebih dulu, agar bisa beradaptasi. Perbedaan wak tu antara Indonesia dan Maroko sekitar 6 jam. Saya juga harus men-setting ketinggian mo tor, mengingat medan yang cukup berat serta untuk menunggu penerbangan langsung (direct flight) ke Kota Ouarzazate, yang jumlah pe nerbangan frekuensinya sedikit sekali.

Kota Ouarzazate adalah kota yang terdekat dengan Gurun Sahara. Selama tiga hari berada di Casablanca, saya gunakan untuk berkeliling. Saya juga sempat ke Kota Rabat, ibu kota Maroko. Di Kota Rabat ini terdapat salah satu jalan yang didedikasikan untuk Th e Founding Father kita, Bung Karno, atas jasa beliau kepada dunia, khususnya jasa beliau kepada Maroko. Nama jalan itu adalah: Rue Soekarno (Jalan Soekarno).

Sebelum saya berangkat mengikuti rute menantang di Gurun Sahara ini, beberapa teman sempat menanyakan kondisi tubuh saya. Bagaimana cara menjaga tubuh tetap fit dan sehat. Saya katakan kepada mereka, bahwa saya menerapkan Manajemen SistemNya Allah (God Management System) untuk menjaga dan menaikkan level fisik saya. Caranya: salat fardu tepat waktu berjamaah di masjid. Salat Sunah Rawatib. Salat Tahajud. Salat Duha. Membaca Alquran 1 hari 1 juz. Lalu berzikir pagi dan petang. Itu semua saya lakukan setiap hari dan konsisten. Ditambah berpuasa rutin Senin dan Kamis. Inilah resep jitu yang sudah diberikan oleh-Nya, dan alhamdulillah saya amalkan secara konsisten, sehingga mengubah kondisi saya, dari yang dulu sering sakit, berubah drastis menjadi orang yang memiliki kesehatan.

Untuk mengikuti tur menantang di Gurun Sahara ini, saya sudah melakukan sejumlah persiapan. Mulai dari persiapan fisik, riding gear, hingga safety gear. Persiapan matang harus dilakukan, karena ini adalah event besar bagi saya, dan tentu sangat dirindukan oleh para off roader dari seluruh penjuru dunia, untuk mencoba jalur legendaris itu, yakni jalur Paris-Dakar. Pada 29 September tahun lalu, kami terbang dari Casablanca ke Kota Ouarzazate dengan menggunakan pesawat kecil berbaling-baling. Penerbangan membutuhkan waktu 1,5 jam. Setiba nya di Bandara Ouarzazate, kami terkena pemeriksaan imigrasi yang cukup melelahkan, yang seharusnya tak perlu dilakukan, mengingat kami terbang antarkota di satu negara. Alhasil, saya baru keluar dari pemeriksaan imigrasi sekitar jam 01.00 dini hari waktu setempat. Saya tiba di hotel pukul 01.20.

Sehari kemudian (30/9/17), pada malam harinya, peserta dari negara lain datang, dan kami saling berkenalan. Kami lantas diajak briefing bersama untuk membahas jalur dan kondisi emergency yang mungkin timbul serta adat-istiadat setempat yang harus kita hormati. Sempat juga saya grogi melihat bule-bule yang sangat percaya diri dan terkesan jauh lebih profesional dalam urusan off road. Dari briefi ng itu, kami mengetahui bahwa perjalanan ini hanya dikawal oleh 3 orang. Satu orang sebagai leader yang turun ke jalur, dan 2 orang ada di mobil back up yang akan membawa bensin dan cadangan spare part yang nantinya akan bertemu dengan kami di penginapan.

Rencana perjalanan off road akan menempuh jarak 900 kilometer dengan durasi 4 hari, dan 4 kali menginap. Sedangkan rute yang ditempuh adalah: Ouarzazate-n’Kob-Ousina-Dades-Ouarzazate. Satu lagi catatan keamanan di Maroko yang memang agak rawan terutama bagi orang asing. Dua kali saat salat Subuh, kami tidak diizinkan oleh security hotel untuk pergi ke masjid dengan alasan keamanan. (bersambung/website: hericahyono.com)

Source link