BEBASKAN PELANGGAN: Pembeli bakso Cak Toha bisa mengambil sendiri item bakso dan kuah dengan bebas.

Semuanya berawal pada satu hari di tahun 1987. Ketika itu, Toha atau yang akrab dipanggil Cak Toha, menjadi karyawan dari pengusaha bakso yang berjualan di depan Stasiun Kotabaru Malang. Selama lima tahun Cak Toha bekerja di tempat ini, pada 1992 atau 24 tahun lalu, pria tersebut memberanikan diri untuk membuka sendiri usaha baksonya.

Dengan modal yang pas-pasan, bukan perkara mudah bagi Cak Toha dalam merintis usaha sendiri. ”Dulu rumah masih ngontrak, perlengkapan juga belum lengkap. Saya sampai utang buat beli mangkuk,” kata Suprihatin, istri dari Cak Toha, mengenang awal-awal merintis usaha, Rabu lalu (16/11).

Ketika ditemui di warung bakso pusat mereka di Jalan Semeru, meski pukul 11.00, warung ini baru buka. Tapi pengunjung mulai menjejali warung yang luasnya sekitar seperempat lapangan futsal tersebut. Ada tujuh orang ketika itu yang menyantap bakso Cak Toha

Suprihatin sendiri tanpa ragu ikut melayani pelanggan mulai dari mengelap meja hingga menjadi kasir. Sedangkan Cak Toha mengurus cabang di berbagai tempat lain. Suprihatin sehari-hari ditemani dua orang pegawai.

”Memang sudah biasa begini. Saya tidak pernah nyuruh anak-anak (pegawainya). Selama masih bisa saya kerjakan sendiri, ya saya kerjakan. Toh dulu saya juga mengerjakan semua sendiri,” kata wanita 45 tahun tersebut.

”Dulu sambil ngantuk-ngantuk jam dua pagi, saya bikin goreng bakso sama bapak. Makanya sekarang sama pegawai, saya nggak pernah nyuruh aneh-aneh. Karena ingat waktu dulu saya kerja seperti mereka,” imbuhnya.

Suprihatin berkisah saat awal usahanya dulu, dia dengan suaminya bermodal nekat. Dengan modal seadanya, lepas dari majikan yang lama, Cak Toha menjual bakso buatannya dengan menggunakan gerobak. ”Pertama jualan di halaman SMA Islam Malang. Tapi di sana hanya jualan hingga jam satu siang, karena anak sekolah sudah pulang jam segitu,” kata dia.

Setelah dari sana, Cak Toha pun pindah berjualan di depan BII Malang di Jalan Basuki Rachmat. ”Dulu karena modal terbatas, untuk membeli mangkuk, saya belan-belani nyicil ke tukang kredit di kampung. Tiap hari, bayar Rp 1.000 atau Rp 2.000,” imbuhnya.

Dengan mata berkaca-kaca, wanita berparas cantik itu bersyukur, karena saat ini usahanya bisa berkembang pesat. ”Ya tentu bersyukur sekali. Karena kalau diibaratkan, orang mau Lebaran, ya memang harus puasa dulu,” jelas ibu dua orang anak tersebut.

Saat ini Kedai Bakso Cak Toha sudah berkembang menjadi 5 cabang ditambah dengan dua unit gerobak keliling. Kelima cabang tersebut berada di Jalan Semeru, Jalan LA Sucipto, Pasar Kasin, Stasiun Kota Baru, dan Kantin BCA Kota Malang.

Sementara dua cabang gerobaknya biasa keliling di Jalan dr Cipto dan Jalan Gajahmada. Omzetnya lumayan, tiap kedai milik Cak Toha, rata-rata bisa mengumpulkan omzet hingga Rp 2 juta per hari.

Kesuksesan Cak Toha dan Suprihatin dalam berbisnis ini, karena memang rasa baksonya memang nikmat. Kuahnya segar dan tidak terlalu berlemak. Aroma bawang begitu terasa. Sedangkan bakso kasarnya yang besar, begitu kenyal, sehingga nikmat ketika digigit.(iik/c1/riq)