MENANTANG, TAPI ASYIK: Wartawan Jawa Pos Jos Rizal (kiri) dan aktivis lingkungan Andreas Agus Kristanto Nu groho (kanan) dengan dibantu Sumidi, warga setempat, mendorong perahu karet melewati aliran kali yang dipenuhi bebatuan. Karena sungai sedang dangka
(Allex Qomarullah/Jawa Pos/JawaPos.com)

Warga sekitar Kali Porong mungkin sudah terbiasa dengan penampakan buaya. Namun, kami tidak berani membayangkan bila si bajul tiba-tiba nongol di sebelah perahu karet ini. Apalagi sambil membuka lebar mulutnya. Ngeriii!

TARIKAN pertama dan kedua terhadap tali pemicu ini ternyata masih gagal menghidupkan mesin perahu. Tidak lama setelah tarikan ketiga, baru mesin perahu menyala. Plengsengan di kanan dan kiri kami memantulkan suara bisingnya.

Plengsengan atau dinding batu itu cukup tinggi. Sekitar 8 meter. Memanjang dari Bendungan Lengkong Baru ke arah timur. Plengsengan di sisi Sidoarjo berada di sebelah kiri kami. Plengsengan sisi Mojokerto terletak di kanan.

Kondisi beberapa plengsengan, baik pada sisi Mojokerto maupun Sidoarjo, cukup memprihatinkan. Ada yang ambles atau permukaannya hancur. Setelah kami menyusuri aliran sungai dengan perahu, terlihat bahwa keberadaan plengsengan tersebut terputus-putus. Pada titik tertentu, ada yang kosong tanpa plengsengan.

Kepala Subdivisi Jasa Tirta II Indra Nurdianyoto yang kami mintai konfirmasi menjelaskan, plengsengan itu telah diperbaiki berkali-kali oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas maupun Pemprov Jatim. Sayangnya, plengsengan tersebut kembali rusak. ’’Kami tidak tahu kapan diperbaiki lagi. Itu wewenang mereka (BBWS Brantas dan Pemprov Jatim, Red),’’ tutur pengelola Bendungan Lengkong Baru tersebut.

DITEMANI BURUNG: Pemancing langsung terjun ke tengah Kali Porong yang airnya sedang dangkal.
(Allex Qomarullah/Jawa Pos/JawaPos.com)

Andreas Agus Kristanto Nugroho, aktivis lingkungan asal Sidoarjo yang ikut bersama kami melakukan perjalanan pada hari kedua ini, bisa menjelaskan penyebab rusaknya plengsengan tersebut. Menurut dia, bibir Kali Porong tidak memiliki penyangga atau perekat alami. Sangat jarang ditemui pohon-pohon besar. Padahal, keberadaannya sangat vital.

Akar-akar pohon yang kuat dapat mencengkeram atau merapatkan struktur lapisan tanah. Selain itu, pohon bisa menyimpan cadangan air bersih yang diperlukan warga. ’’Lebih baik lagi enggak usah dipasang plengsengan,’’ jelasnya sembari membenahi topi hitamnya yang ditiup angin.

Menurut Andreas, tepian sungai juga menjadi penentu kesehatan lingkungan. Sungai dengan kualitas yang baik akan bersinggungan langsung dengan daratan tanpa penghalang. Hubungan langsung antara sungai dan daratan bakal membuat lingkungan sungai lebih sehat. Bakteri-bakteri berkembang di pinggiran. Rantai makanan pun lebih berjalan alami dan sehat.

Sepanjang perjalanan ke arah timur, beberapa kali kami menemui pemancing. Tidak lupa, kami menyapa sekaligus bertanya tentang hasil tangkapan. Ada yang geleng-geleng kepala karena tangkapannya belum memuaskan. Ada pula yang tersenyum lebar lantaran sudah berhasil menangkap ikan dalam jumlah yang lumayan banyak.

Aliran sungai yang tenang dengan dasar kehijauan benar-benar membuat kami terlena. Burung-burung bangau putih beterbangan. Keluar dari semak-semak dan pepohonan dengan suara khasnya. Kami juga makin akrab dengan sampah plastik dan popok.

Untuk urusan tersebut, kami memasang mata dengan saksama. Makin ke timur, tambah waspada. Terlebih bila melewati kumpulan sampah. Bisa celaka bila sampah-sampah membelit baling-baling kapal.

Namun, masalah tetap datang juga. Saat itu kami tiba di sekitar Desa Singogalih, Kecamatan Tarik. Di sisi kanan kami masuk wilayah Dusun Bungkem, Desa Kweden Kembar, Mojoanyar, Mojokerto. Mendadak muncul suara aneh dari mesin perahu. Seperti terbatuk-batuk. Kami juga mendengar semacam suara benturan di bawah perahu. Sesaat kemudian, laju perahu terhenti.

Saat itu posisi kami tepat di tengah-tengah aliran sungai. Di kanan dan kiri berjejer semak belukar. Begitu sepi. ’’Waduh, kenapa ini? Pokok’e ojo sampe ketemu boyo ae (Pokoknya jangan sampai bertemu dengan buaya, Red),’’ ucap Allex, fotografer kami, dengan wajah cemas. Beberapa jam lagi, mentari memang akan terbenam.

Kami berusaha menenangkan diri, lalu memeriksa kondisi baling-baling. Ternyata tidak ada masalah. Kondisinya bersih. Tidak ada sampah yang tersangkut. Kami coba mencelupkan dayung pada dasar sungai. Ternyata ketinggian air berkisar satu hingga dua meter. Kami sepakat mematikan mesin perahu. Kami tidak ingin mesin perahu itu rusak. Perjalanan masih panjang.

Saya, Allex, dan Andreas bergegas meraih dayung dan mulai menggerakkan kapal. Berusaha merapat ke tepian secepatnya.

Selama mendayung, Allex tidak henti-hentinya menyinggung keberadaan buaya. Wajahnya masih menyiratkan kecemasan. ’’Saya juga nggak berharap ketemu buaya kok, Mas,’’ ujar Andreas menenangkan.


(*/c14/pri)

Source link