SATU ABAD: Denis membersihkan rumput liar di gedung pegadaian Bulang yang dibangun pemerintah Hindia Belanda pada 1912.
(Allex Qomarullah/Jawa Pos/JawaPos.com)

Letaknya yang strategis di tepian Kali Porong membuat Desa Bulang pada masa lalu pernah menjadi kawasan penting di Sidoarjo. Beberapa jejak bangunan bersejarah peninggalan Hindia Belanda masih bisa ditemukan.

GEDUNG yang kini berfungsi sebagai kantor pegadaian itu salah satu contohnya. Juga, gedung SDN Bulang. Atapnya masih berbentuk gewel, khas arsitektur kolonial. Gewel adalah dinding berbentuk segi tiga yang mendukung konstruksi atap.

’’Kata sesepuh seperti itu. Tapi, sekarang banyak bangunan penting yang sudah hilang,’’ tutur Kades Bulang, Kecamatan Prambon, Abdul Kodir. Kami berbincang dengan ayah dua anak itu saat menumpang tidur di Balai Desa Bulang Kamis malam (14/9).

Pria 50 tahun tersebut menemani kami dengan secangkir kopi di halaman balai desa. Dia banyak bertutur betapa pentingnya Kali Porong pada era Hindia Belanda. Termasuk, Bulang. Menurut Kodir, posisi Bulang begitu strategis. Desa itu tumbuh menjadi daerah yang makmur karena menjembatani wilayah Sidoarjo dan Mojokerto. Terlebih, ada banyak pabrik gula dan lahan tebu di sekitar Bulang.

Belanda akhirnya membangun banyak fasilitas di Bulang. Itu membuat desa di ujung selatan Sidoarjo tersebut maju pesat. ’’Bukan cuma terkenal karena boyone (buaya, Red),’’ kata Kodir, lantas tertawa lepas.

SEMANGAT BELAJAR: Waka SDN Bulang Supardi dan wartawan Jawa Pos Jos Rizal bersama para siswa. Selain mempertahankan bagian asli bangunan, meja-kursi yang digunakan bergaya lama.
(Allex Qomarullah/Jawa Pos/JawaPos.com)

***

Jumat pagi (15/9) kami terbangun dengan penasaran tak sabar. Kami ingin segera berkeliling Desa Bulang. Mengunjungi beberapa bangunan tua yang tersisa seperti yang dituturkan Pak Kodir. Dari Balai Desa Bulang, kami langsung menuju kantor Pegadaian Bulang. Jaraknya cukup dekat. Sekitar 500 meter saja.

Pimpinan Unit Pegadaian Bulang Muhammad Farid Sugiharto menyambut kami dengan ramah. Setelah mengetahui maksud kedatangan kami, dia langsung mengajak berkeliling kompleks gedung pegadaian yang sudah berusia lebih dari satu abad itu.

’’Bisa dilihat sendiri. Di atas itu tahun pembangunannya,’’ kata Farid sembari menunjuk tulisan ’’Boelang 1912’’ yang tertera di bagian gewel atau pucuk bangunan. Farid kemudian mengajak kami menuju sisi lain bangunan. Kali ini tampak jendela-jendela tinggi berbingkai besi.

Dari jendela tersebut, kami bisa melihat isi ruangan di baliknya. Salah satu yang langsung menarik perhatian adalah lemari besar dari kayu jati setinggi 5 meter. Menurut Farid, hanya itu satu-satunya properti tua yang masih bisa ditemukan di pegadaian tersebut. Umurnya sama dengan bangunan pegadaian. Lemari itu sempat berfungsi menjadi tempat menyimpan barang-barang yang digadaikan warga.

’’Karena aturan perusahaan, Mas tidak boleh memotret dan melihat dari dalam. Mohon maaf,’’ tutur alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Farid menjelaskan, Pegadaian Bulang merupakan salah satu yang tertua di Jawa. Sejumlah foto dan properti kuno yang berkaitan dengan Pegadaian Bulang telah dikirim ke kantor Kanwil Pegadaian di Surabaya. Tepatnya di kawasan Dinoyo. ’’Diamankan di sana dan jadi koleksi perusahaan,’’ kata pria 32 tahun itu. Farid sendiri sudah delapan tahun berdinas di pegadaian dan baru tahun ini bertugas di Pulau Jawa.

Kompleks Pegadaian Bulang memiliki empat bangunan utama. Satu bangunan menjadi gedung pelayanan dan dua bangunan menjadi tempat penyimpanan barang. Sayang, kondisi salah satu bangunan kini rusak.

Menurut Farid, salah satu bangunan tersebut dulu adalah rumah dinas petinggi Hindia Belanda. Mereka bertugas mengontrol pasar dan pegadaian. Pegadaian dan pasar tradisional Bulang yang hingga masih aktif memang dibangun berdempetan. Tujuannya adalah memudahkan masyarakat mendapatkan pinjaman lunak sekaligus aktivitas perniagaan.

Bulang juga memiliki salah satu sekolah tertua di Sidoarjo. Letaknya 200 meter ke arah barat dari Balai Desa Bulang. Ketika dihubungi, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Sidoarjo Djoko Supriyadi menerangkan bahwa usia SDN Bulang sama tuanya dengan SDN Pucang 2. Dua Hollandsch Inlandche School itu berdiri pada 1901. Lebih tua dari gedung Pegadaian Bulang.

Selain mempertahankan gaya arsitektur kolonial, beberapa properti sekolah itu masih terjaga kelestariannya. Misalnya, meja dan bangku siswa yang terangkai menjadi satu. Meja tulisnya agak miring ke bawah. Ada cekungan panjang dan cekungan bundar di salah satu sisinya. Cekungan panjang berfungsi untuk tempat meletakkan alat tulis atau batu grup. Sementara itu, cekungan bundar adalah tempat wadah tinta.

Pihak sekolah sudah beberapa kali melakukan renovasi. Namun, mereka tetap memperhatikan bentuk asli bangunan tersebut. Perbaikan umumnya hanya menyasar bagian atap yang bocor dan memoles cat tembok yang kusam.


(*/c17/pri)

Source link