Es teler ini sekarang dikelola oleh generasi kedua. Tapi ciri khasnya sejak berdiri 1978 silam, tetap sama yakni mengandalkan es teler durian. Rasanya yang maknyus, membuat es teler ini menjadi jujukan bagi para pecinta durian.

SEBUAHwarung 8×3 meter di Jalan Gede, Kota Malang, atau di belakang SMAK Santo Albertus Malang ini terlihat sesak pada Sabtu siang (30/1) lalu. Maklum, ketika itu ada sekitar tujuh belas pengunjung yang me-ngantre di warung tersebut.

Tak pelak, keadaan warung yang sempit, membuat para pengunjung harus duduk berdempetan. Orang-orang tersebut meru-pakan pengunjung Es Teler Dempo No 7 milik Sri Wahyuni, 41.

Warung ini berdempetan dengan warung lain yang berjualan mi ayam dan gado-gado. Sehingga, yang memesan es di tempat Sri, kebanyakan juga memesan mi ayam atau gado-gado di sebelah warung Sri.

Jika dilihat umur Sri, usia warung ini hanya terpaut tiga tahun dengan umur Sri. Ini karena Sri merupakan generasi kedua yang mengelola warung es tersebut. Pendiri warung tersebut adalah almarhum Supandi, ayah Sri. Sri baru menggantikan ayahnya berjualan ketika sang ayah meninggal dunia pada 1998 silam.

Meski sebagai penerus ayahnya, ciri khas warung ini menurut Sri masih tetap sama, yakni es teler yang mengandalkan durian. Satu es berisi empat biji durian yang dicampur dengan avokad, nangka, degan, gula alami, dan juga susu kental. Dengan sensasi kese-garan dari es tersebut, tidak heran jika warung ini ramainya ketika siang hari.

 

 

”Rame-ramenya jam sebelas hingga setengah tiga,” kata Sri Wahyuni kepada Jawa Pos Radar Malang.  Selain menjual es teler durian yang menjadi andalan, di tempat ini juga dijual aneka macam es seperti es moca, es buah, es degan, es campur, es kacang ijo, lemon tea, dan es durian.

Sri melanjutkan, awal mulanya es teler durian ini merupakan es tape dan santan yang dijual ayahnya, Supandi dengan berkeliling menggunakan gerobak. Pada tahun 1978, dia mendapat izin dari SMAK St. Albertus Malang. Sekolah yang p