Gua Ia Semakin Digandrungi Wisatawan

Dikutip dari Rakyat Aceh (Jawa Pos Group) gua vertikal atau sumuran itu berada jauh dari permukiman warga dan masih sangat asri kerap didatangi wisatawan lokal dan nasional.

Gua yang menyimpan keindahan nan masih alami ini sangat mudah untuk diakses. Waktu tempuhnya hanya 45 menit dari Banda Aceh. Bagi pengunjung yang ingin datang, harus melewati jalan setempak dangan jarak tempuh sekitar dua kilometer, setelah desa terakhir. Namun sayang, keindahan alam yang tersedia belum disentuh untuk dikembangkan, padahal layak untuk dijadikan sebuah objek wisata.

Bagi masyarakat setempat, Gua Ie menjadi sumber air dan pendapatan karena banyak burung walet bersarang di sana. Ironisnya, meski banyak dikunjungi namun keberadaanya masih belum banyak diketahui masyarakat umum. Hanya orang-orang tertentu saja mengetahui keberadaanya, seperti mahasiswa pecinta alam.

Diketahui gua ini dulunya dimanfaatkan oleh mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai lokasi persembunyian. “Kami di sini tahu ada Gua Ie ini, dulu pernah kami ambil sarang walet, sekarang sepertinya tidak ada lagi, bahkan kadang tidak tahu lagi di mana letaknya,” kata Muslem, warga setempat.



Gua menyimpan keindahan ini, ternyata juga banyak menyimpan kisah bagi mantan kombatan GAM. Di gua ini mereka bersembunyi dan menjadikan rumah pada saat konflik dulu.

Lem Zi, salah satu mantan kombatan GAM mengakui dulunya menjadikan gua tersebut sebagai lokasi persembunyian. Bahkan orang pertama yang menunjukkan gua tersebut kepada pada anak-anak Mapala adalah dirinya.

“Saya yang mengatarkan anggota Mapala kemari, pada 2008 lalu. Kalau untuk gua ini bagi saya sudah seperti rumah,” ujarnya saat mengikuti explore bersama Rakyat Aceh, Kamis (2/11).

“Dulu kami (mantan kombatan GAM) selalu di sini (Gua Ie) karena tempat yang aman untuk bersebunyi. Tidak ada yang tahu, jangankan orang lain, warga sekitar tidak tahu, makanya di sini, siang dan malam,” sebutnya saat menunjukan lorong gua.

Pascakonflik GAM berakhir, Lem Zi pun baru membuka akses gua ini kepada orang luar. Terutama para mahasiswa pecinta alam (mapala). “Pada 2008 saya kenal anak Mapala. Saya tunjuki tempat ini, setelah itu, baru banyak yang datang, tapi khususnya anak-anak Mapala, kalau untuk wisatawan belum,” ungkapnya.

Dia mengharapkan agar gua tersebut dapat dijadikan sebagai lokasi wisata. Pengembangan itu akan mendapatkan keuntungan dengan adanya wisata di kawasannya. “Harapan kami dikembangkan tempat ini seperti di luar, banyak gua yang dijadikan sebagai lokasi wisata,” sebutnya.


(iil/ce1/JPC)

Source link