TANGAN KOSONG: Nyuharsono (kiri) bersama teman-temannya saat menggogon atau menangkap ikan Kali Porong tanpa peralatan pada tengah malam. Mereka berhasil mendapatkan 25 mujair.
(Allex Qomarullah/Jawa Pos/JawaPos.com)

Kami beruntung bisa menyaksikan ritual yang tergolong jarang digelar itu. Selamatan yang hanya digelar bila ada warga yang melihat buaya.

RAMBUT Tohari diterpa angin malam yang dingin. Perlahan rambut dan tubuhnya yang semula basah mulai mengering. Hanya celana pendeknya yang masih basah saat dia menyantap makan malam di tepian Kali Porong yang berbatasan dengan petak persawahan di Desa Bulang, Prambon.

Pria 55 tahun itu tidak sendirian. Dia makan bersama tiga kawannya. Yakni, Yoni Sunardi, 45; Banu Haryono, 65; dan Nyuharsono, 51. Penampilan mereka nyaris seragam. Hanya mengenakan celana pendek basah. Habis berendam di Kali Porong.

Empat pria yang bertelanjang dada itu beradu dengkul dan mengelilingi makanan bersama sejumlah warga yang berpakaian lengkap. Bagi mereka, makanan yang sedang disantap tidak biasa. Dalam tumpeng yang mereka makan, ada berkah doa tokoh agama. Hadirnya tumpeng itu menjadi simbol harapan warga untuk hidup berdampingan dengan alam. Terhindar dari segala marabahaya di Kali Porong.

Tohari dan kawan-kawannya adalah penangkap ikan yang ulung. Mereka mampu menangkap ikan di Kali Porong dengan tangan kosong. Tanpa pancing, tanpa jala, tanpa alat apa pun. Cukup menceburkan seluruh badan ke sungai, lalu menyelam. Di dasar sungai, mereka membongkar bebatuan. Saat naik ke permukaan, tangan sudah menggenggam ikan.

BAGAI KELUARGA BESAR: Warga Desa Bulang, Prambon, bersama para gogon menyantap tumpeng di tepian Kali Porong.
(Allex Qomarullah/Jawa Pos/JawaPos.com)

Warga sekitar menjuluki mereka Gogon. Artinya, orang yang piawai menangkap ikan dengan tangan kosong. Sebelum menyantap tumpeng, mereka sudah menggogon. Karena itu, mereka basah kuyup. Turut hadir Kepala Desa Bulang Abdul Kodir saat selamatan tersebut. Dia duduk dan ikut menyantap tumpeng bersama sejumlah warga. Bercahayakan lampu senter dan lampu portabel mini.

Kodir menyatakan, waktu pelaksanaan tradisi itu tidak tentu. Tahun ini warga menggelarnya. Tahun mendatang bisa jadi tidak. Upacara tersebut bergantung permintaan warga dan ruh ”nenek moyang”. ”Kalau sudah ada warga yang melihat buaya, baru diselameti,” katanya.

Menurut bapak dua anak itu, buaya merupakan simbol penjaga sungai. Kehadirannya perlu dihormati. Acara selamatan pada Kamis malam (14/9) itu sengaja digelar atas permintaan warga. Beberapa bulan lalu sebagian warga melaporkan kemunculan buaya. ”Karena ada rezeki, ya, sekarang kami selameti,” jelasnya.

Kodir melihat buaya-buaya itu sekitar awal tahun. Bajul memang biasa muncul ketika aliran Kali Porong sedang surut. Saat bebatuan atau dasar kali banyak bermunculan melebihi tinggi permukaan air.

Ayah dua anak itu melanjutkan, selain permintaan warga, kegiatan tersebut sengaja digelar untuk menyambut Jawa Pos yang melakukan ekspedisi Kali Porong. Mereka mendoakan kami agar perjalanan dari hulu hingga hilir Kali Porong berjalan lancar dan aman.

Menurut Kodir, itu merupakan ritual nyunsewu atau meminta izin kepada para leluhur agar perjalanan kami sukses hingga akhir. Bahagia sekali kami mendengarnya. ”Ben slamet, Mas (biar selamat, Mas, Red),’’ tutur Kodir disambut anggukan warga lainnya.

Menurut dia, buaya-buaya tidak pernah menampakkan diri bila warga sedang memancing atau beraktivitas di sungai. Begitu juga sebaliknya. Ketika buaya-buaya itu muncul dan berjemur di bebatuan sungai, warga tidak akan mengganggu. Warga pun tak pernah menebar racun untuk menangkap ikan. Warga selalu menangkap ikan secukupnya dengan kail dan jaring. Kalau ada ikan-ikan yang mati mendadak, warga paham betul bahwa penyebabnya adalah limbah pabrik di hulu Kali Porong. Mereka tak bisa berbuat apa pun.

Makin Dangkal Airnya, Justru Tambah Sulit
SETELAH melahap habis nasi tumpeng, Tohari mengajak teman-temannya kembali menggogon. ”Yuk maneh (ayo lagi, Red),” katanya. Tanpa menunggu lama, mereka berebutan terjun ke aliran sungai. Terdengar suara tawa dan gelak canda memecah pekatnya malam.

Sebagian berusaha menangkap ikan di perairan yang dangkal. Membungkuk dan menjamah bebatuan di bawah kaki. Sebagian lainnya menuju ke tengah sungai dan menyelam.

Berulang-ulang mereka naik ke permukaan air untuk mengambil napas panjang.
Dalam waktu singkat, dua mujair dapat ditangkap. Salah satu ikan itu ditangkap Tohari. Dua mujair tersebut menambah hasil tangkapan mereka sebelum menyantap tumpeng. Totalnya kini menjadi 25 ekor.

Menurut Tohari, lebih mudah menangkap ikan di sungai yang dalam ketimbang sungai yang dangkal. ”Ikan nggak mudah kabur,” ujar mantan Kades Simpang, Prambon, tersebut. Tohari yang sehari-harinya bertani itu mengaku bisa menggogon sejak SD.

Tak lagi banyak warga setempat yang mau melakukan gogon. Termasuk anak Tohari sendiri. ”Anak saya pernah ngaku takut sama buaya,” tuturnya. Sejatinya, Tohari memiliki dua anak laki-laki. Si sulung meninggal beberapa tahun lalu. Dia menambahkan, manusia harus bersahabat dengan alam. ”Asal niat baik dan nggak ganggu, insya Allah diparingi slamet,” tambahnya.

Interaksi warga Bulang yang begitu bersahabat dengan alam atau Kali Porong yang terus terjaga hingga kini itu persis seperti yang ditulis Denys Lombard, 1996, dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya III Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris.

Menurut Denys, masyarakat Jawa meyakini berkah maupun bencana alam pada hakikatnya adalah jawaban dari sikap manusia atas apa yang telah diperbuat. Bila warga santun dan bersahabat dengan alam, segala kebaikan akan dituai. Begitu pula sebaliknya. Hal itu sudah menjadi watak penduduk di Pulau Jawa. Khususnya mereka yang tinggal di sekitar Sungai Brantas dan tiap anak sungainya.


(*/c16/pri)

Source link