Hari pertama, kontributor Radar Malang Heri Cahyono
menempuh perjalanan sekitar 240 kilometer dari Ouarzazate
ke N’kob. Melintasi medan dengan pemandangan indah di
gugusan pegunungan Atlas.

 

Empat Hari, 900 Kilometer; Menjajal Jalur Ekstrem Paris-Dakar di Gurun Sahara (2)

DARI Kota Ouarzazate, pagi itu kami berencana start pukul 09.00 waktu setempat. Selepas Duha, kami berkemas turun ke tempat start yang kebetulan berada satu tempat dengan hotel kami menginap. Kami menginap di Hotel Le Fint di Kota Ouarzazate, berkelas bintang 3. Hotel itu mencukupi untuk kebutuhan menginap para rider.

Masing masing rider di sediakan tas (dufl e bag) ukuran 20 liter untuk membawa kebutuhan para rider selama perjalanan. Sedangkan tas yang saya bawa dari Indonesia, dititipkan di panitia yang memang sudah siap dengan tempat penitipan. Waktu menunjukkan pukul 08.30. Semua rider sudah siap di lokasi start dan diberikan briefing singkat mengenai penggunaan GPS satellite yang akan di letakan satu per satu kepada motor masing-masing. Beruntung kami di Indonesia terbiasa menggunakan GPS satellite dengan merk dan model yang sama, sehingga kami tak mengalami kesulitan memahaminya.

Selepas briefing, umumnya di Indonesia kita melakukan foto bersama sebelum berangkat. Ternyata di sini tak ada sama sekali sesi foto-fotoan. Sehingga kamipun akhirnya menyesuaikan dengan kebiasaan mayoritas peserta yaitu orang-orang bule yang memang jarang sekali mau berfoto. Pukul 09.00 tepat kami langsung berangkat. Tak ada kompromi sedikitpun bagi peserta. Semuanya disiplin, tanpa pemberian dispensasi. Layaknya turis di Jepang dan negara Eropa. Justru kita yang di atur oleh mereka walaupun kita yang membayar. Tapi inilah memang aturan professional. Jadi, customer ada kalanya ditempatkan sebagai raja, tetapi ada kalanya tidak ditempatkan sebagai raja.

10 menit dari garis start kami langsung masuk SPBU untuk mengisi bahan bakar full tank. Harga bahan bakar setara pertamax disini, yakni berharga 10.46 dirham Maroko, atu setara dengan 18 ribu rupiah, jika kursnya adalah Rp 1.750 per Dirham. Dari SPBU kami langsung bergegas masuk jalur yang merupakan area latihan tentara. Yakni berupa gravel kecil dan tanah lapang sejauh mata memandang. Langsung bisa tancap gas sepenuhnya.

Sekitar 30 menit kemudian, baru masuk ke jalur open track berupa campuran gravel dan tanah. Daerah ini bernama Tarmight dengan jalur open track, dengan kecepatan yang bisa di kembangkan maksimum 90 km perjam, dengan posisi riding harus berdiri. Dari sini, mulai kelihatan gugusan pegunungan Atlas yang masing diselimuti es di atasnya. Walaupun jalur ini open track, tetapi ada sedikit berbahaya karena beberapa batu lepas berada di sisi kanan-kiri jalan. Belum lagi berpindahan alur yang yang membuat kita harus tetap waspada.

Hari pertama masuk jalur adalah hari untuk meraba performa dan handling motor, agar sesuai dengan badan kita, sekaligus membaca personal masing masing teman seperjalanan. Sekitar 1 jam riding, ternyata saya sudah bisa menyesuaikan karakter motor dengan badan saya, sekaligus bisa menilai kemampuan masing masing peserta. Ada dua peserta yang rupanya anak dan bapak dari Andorra tertinggal jauh di belakang. Ketika berjumpa dengan mereka saya bertanya, mengapa tertinggal? Jawabanya, mereka mengaku tidak terbiasa dengan medan seperti ini. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Sampailah kami di medan pertambangan biji besi di daerah Skoura Ahl el Oust, dengan gunung yang berwarna silver dan cukup menanjak. Beberapa rider gagal mencapai puncak bukit ini karena untuk naik ke gunung itu perlu skill dan timing yang tepat untuk membuka gas secara konstan yang dikombinasi dengan posisi gigi di gear 2 atau 3. Dari gunung biji besi itu kami turun melewati jalur berpasir dalam yang masih lembap. Seperti biasa, ini agak merepotkan. Karena beberapa kali roda belakang saya terjebak di pasir dalam.

Sepertinya medan ini sungai yang mengering. Dan benar juga tebakan saya. Karena di ujung jalur, kami harus menyeberang sungai yang memang masih ada airnya. Lepas dari menyusuri sungai di daerah Ghasatte, kami keluar menuju check point makan siang yang ternyata dulunya sebuah castil yang difungsikan sebagai restoran di daerah Idelsane.

Di Afrika, jangan harap ada makanan lezat. Roti Maryam adalah sebuah hidangan mandatory di sini, dicampur keju dan sedikit sup sayuran yang memang bisa mengenyangkan. Di resto ini juga kami menunaikan salat Duhur dan Asar yang kami gabung jamak dan qashar. Kurang lebih satu jam istirahat di sini, 10 menit sebelum berakhir masa istirahat, seluruh rider harus siap di motornya masing-masing. Ketika kami beristirahat, giliran para mekanik bekerja memeriksa motor kita dan mengisi bahan bakar sampai dengan penuh sehingga siap untuk digunakan.

Dari cek poin makan siang, kami memasuki jalur yang lebih hard, yang isinya berisi batu lepas dengan kontur tanjakan dan turunan. Kami masih bisa buka gas dengan kecepatan 50-90 km/jam. Yang perlu diwaspadai adalah batu lepas sebesar kepala di tengah jalan, dan debu yang mengganggu penglihatan. Beberapa rider ada yang jatuh dalam perjalanan ini. Sambil menunggu rombongan yang tertinggal, si John, pimpinan rombongan menawarkan kepada saya jalur hard track di luar jalur GPS. Saya mengiyakan. Alhasil, kami berempat, yakni saya, Mufti, Svante, dan Charlie, memilih jalur hard dan sisanya mengikuti jalur GPS. Jalur hard yang kami lalui berupa jalur batu lepas, penuh dengan tanjakan dan tikungan tajam. Cukup menguras tenaga. Tarikan gas mesti konstan, dan harus tepat timing-nya kapan dibuka dan ditutup. Body moving sangat menentukan keseimbangan. Hampir 45 menit kami bekerja keras menaklukkan jalur hard ini. Alhasil bayarannya pun sebanding. Kami berada pada sisi terbaik pegunungan Atlas yang sangat menawan. Gugusan gunung tandus yang mirip sekali dengan Grand Canyon di Amerika yang membuat saya terpana menyaksikannya.

Jika di Amerika umumnya diselingi dengan para koboi yang berkuda, di sini sunyi tanpa penghuni. Jauh lebih nyaman dinikmati. Tak tahan kami untuk mengabadikan momen sangat indah ini, walaupun leader kami mengisyaratkan kita harus segera pergi. Untuk kali ini kami rela ditinggal untuk memuaskan keinginan kami, berfoto-foto. Setelah dirasa cukup, kami berdua akhirnya melanjutkan perjalanan bermodal peta yang tertera di GPS.

Sepanjang perjalanan, kami disuguhi dengan gugusan aneka gunung yang terbentuk dari air dan angin ratusan tahun lalu. Jalanan yang kami lalui berwarna-warni. Mulai tanah merah, hijau, hitam, dan putih. Entah kan dungan apa yang terkandung di dalamnya. Dua jam dari tempat isti rahat kami sudah bisa menjumpai per kampungan penduduk asli yakni Suku Berber, yang rumahnya berbentuk kotak dan terbuat dari tanah liat dicampur dengan jerami. Penduduk asli ini ramah, saling sapa dengan kami ketika berpapasan. Tak jauh dari perkampungan, kami tiba di penginapan di Kota N’kob. Tepatnya di Hotel Ait Omar, hotel de ngan nuansa khas Afrika di setiap detailnya. Hotel ini yang terletak di perkampungan padat penduduk.(bersambung/ website:hericahyono.com)

Source link