Mencicipi Nikmatnya Kuliner Selama Lebaran

Mau mudik lebih asyik? Jangan lewat tol melulu. Mampirlah di kota-kota di sepanjang jalur menuju kampung halaman. Cicipilah kuliner khasnya. Dengan begitu, sekalian mudik, kita bisa tahu kekayaan cita rasa kuliner lokal.

MUSIM mudik seperti ini membuat warung milik Sunarto harus buka lebih lama. Sebab, generasi kedua Babat Gongso Pak Karmin itu kerap mendapat telepon dari langganannya yang mudik ke Semarang.

Babat gongso terbuat dari jeroan sapi. Meski namanya babat, isi menu tak hanya babat. Ada juga paru dan usus. Dimasak dengan lada. Resep khas itu membuat tubuh terasa hangat setelah mencicipi babat gongso. Bagi yang tidak suka pedas, pasti tubuh dibanjiri keringat. Apalagi, cuaca Semarang termasuk panas.



Penganan tersebut banyak ditemui di Semarang. Bahkan, mesin pencari Google menampilkan makanan itu jika Anda mengetik “makanan khas Semarang”. Sukarmin, ayah Sunarto, merupakan pencetus makanan tersebut. “Sudah ada sejak tahun 1950-an,” ungkap pria 53 tahun itu. Pada hari biasa, Sunarto biasanya menghabiskan 10 kg jeroan sapi. Namun, saat musim mudik, dia bisa memasak 30 kg jeroan setiap hari.

Meski banyak rumah makan yang menyediakan menu tersebut, warung yang berada di Jalan Kp. Sleko itu selalu dicari pemudik. Apa resep rahasianya? Sunarto mengatakan, rahasianya ada pada tangan pembuatnya. Artinya, dia tak memiliki resep rahasia. Semua sesuai dengan komposisi babat gongso yang diwariskan orang tuanya. “Saya buka dari jam 9 pagi sampai 9 malam,” tuturnya. Namun, tak jarang Sunarto harus melayani pengunjung hingga pukul 23.00. Bahkan, kalau tenaga masih memungkinkan, dia bisa buka lebih lama lagi. “Sempat nolak juga kalau badan capek,” tam­bahnya, lantas tersenyum.

Bahkan, saat Lebaran, dia hanya libur dua hari. Pada H-1 Lebaran, Sunarto akan kembali ke Jepara untuk ziarah ke makam orang tua. Lalu, pada H+1 dia sudah berjualan lagi. “Soalnya, banyak yang cari gongso,” tuturnya.

Babat Gongso Pak Karmin di Semarang. (Raka Denny/Jawa Pos)

Sunarto menceritakan, perjuangan ayahnya mendirikan warung itu tidak mudah. Sukarmin muda yang asli Jepara itu tiap hari berjalan kaki hingga Pasar Johar, Semarang, untuk berjualan. Dia berjalan melewati sawah dan sungai, menghindari keramaian. Karmin berjalan sambil membawa beras. “Dulu zaman penjajahan tidak boleh makan nasi. Nasi hanya untuk kalangan priayi,” ceritanya. Saat kali pertama berdiri, warung tersebut berada di Pasar Johar. Namun, karena warung sedang direnovasi, Sunarto memanfaatkan rumahnya di dekat Kota Lama sebagai tempat berjualan.

Jogjakarta

Jogja adalah gudeg dan gudeg adalah Jogja. Ya, Jogjakarta identik dengan gudeg. Karena itu, jika Anda sedang berada di Jogjakarta, jangan lupa cicipi gudeg. Gudeg Pawon adalah salah satunya. Tempat makan yang ada sejak 1985 itu sering menjadi salah satu pilihan pemudik. Mereka rela mengantre demi merasakan kenikmatan menu di sana.

Devita Teresia Vita, misalnya. Gadis asal Semarang yang kuliah di Perth, Australia, itu rela mengantre 30 menit untuk merasakan kuliner tersebut. “Gudeg Pawon rasanya beda. Soalnya, masaknya pakai kayu, terus masuk ke pawon-nya gitu,” tuturnya.

Saat itu Vita dalam perjalanan menuju Solo. Namun, tujuan akhirnya adalah Semarang. Karena tidak memiliki waktu banyak untuk berlibur ke Jogja, dia mampir ke Gudeg Pawon Kamis lalu (30/5). “Saya langsung ke sini, soalnya kangen. Dulu pernah makan di sini, tapi sudah lama,” katanya.

Lain lagi pengakuan Mustofa, pemudik asal Bandung menuju Solo. Mustofa bersama keluarganya rela antre lebih dari sejam demi merasakan Gudeg Pawon. Menu tersebut sebenarnya bisa ditemukan di warung-warung lain. Namun, bagi Mustofa, rasanya berbeda. “Kalau di tempat lain rasanya hanya manis saja. Tapi, di sini gak terlalu manis, ada campuran rasa asin, gurih,” katanya. Mustofa juga membeli Gudeg Pawon untuk bekal sahur di jalan. “Ya, ini saya beli lima bungkus,” tambahnya.

Kuliner Gudeg Pawon yang beralamat di Jalan Prof Dr Soepomo, Umbulharjo, Jogja, itu sudah ramai lima hari sebelum Lebaran. “Ya, baru ini saja mulai ramai, kalau selama puasa kemarin sepi. Mungkin orang sudah mulai pada mudik ini,” kata Sumarwanto, pemilik warung. Dia menjelaskan, pada hari-hari biasa, warungnya hanya menyediakan 150-an porsi. Menghadapi Lebaran, dia menyediakan hingga dua kali lipatnya.

Tempat kuliner lain yang tidak kalah tenar adalah Brongkos Handayani. Lokasinya di Jalan Gading, Patehan, Kecamatan Keraton. Atau persis di dekat pintu masuk dari selatan Alun-Alun Kidul. Tempat makan itu selalu ramai saat hari H Lebaran hingga tiga hari sesudahnya. Saat itu jumlah pengunjung bisa meningkat dua kali lipat. “Biasanya kami hanya sediakan 2 panci besar, besok kami siap 3 sampai 4 panci besar,” jelas Tri Suparmi, pengelola Brongkos Handayani, kepada Jawa Pos Radar Jogja.

Madiun

Pecel pincuk Madiun. Sesuai namanya, kuliner tersebut hanya ada di Madiun. Jadi, jika tujuan mudik Anda melewati Madiun, tidak ada salahnya berburu kuliner yang satu ini. Kuliner khas itu mengombinasikan sayuran dengan bumbu kacang. Biasanya disajikan di atas daun pisang. Lengkap dengan beragam lauk-pauk dan rempeyek sebagai menu pendamping. Menu itu bisa ditemui di banyak rumah makan. Salah satunya adalah Pecel 99 di Jalan Cokroaminoto, Kejuron, Kota Madiun. ”Sewaktu mendirikan depot ini, almarhum kakak saya yang menyarankan nama 99 sebagai nama depotnya. 99 itu nomor rumah kami,” kata owner Depot 99 Karyono kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Dia mengisahkan, depot itu dirintis pada 1987. Sebelum men­jadi depot, Karyono dan mendiang istri berjualan gerabah. Suatu ketika, kakak nomor tiga Karyono menyantap nasi pecel di warung dekat toko gerabahnya. Depot nasi pecel tersebut selalu ramai. ”Terus kakak menyarankan agar saya jualan nasi pecel saja karena pasti lebih ramai,” paparnya.

Kebetulan, mendiang istri jago memasak. Jadilah Karyono dan istri berjualan nasi pecel. Seiring berjalannya waktu, depot nasi Pecel 99 berkembang pesat. Depot itu bahkan menjadi langganan sejumlah artis serta pejabat yang datang ke Madiun. “Mulai ramai dan dikenal banyak orang itu setelah kunjungan Pak SBY tahun 2010,” terangnya.

Ada juga kuliner khas Madiun yang tak kalah legendaris. Yakni, depot es bajigur di Jalan Cokroaminoto. Depot es itu didirikan lebih dari 50 tahun lalu. Bukan seperti bajigur yang biasa ditemui di Jawa Barat, olahan cokelat dan ketan itu tidak menggunakan jahe dan rasanya lebih manis. Setiap Lebaran tiba, depot tersebut tidak pernah sepi. Bagi sebagian pemudik, berkunjung ke depot itu bisa memicu ingatan masa kecil. “Dulu, waktu kecil, saya sering ke sini. Sampai sekarang rasanya nggak berubah, itu yang bikin kangen,” kata Elianawati, pemudik asal Jepara.

Apa resep rahasianya? Menjaga kualitas rasa. Itulah yang benar-benar dijaga Hariyono Tanoto yang meneruskan resep warisan mendiang Budiarti, neneknya. Keluarga itu masih mempertahankan bahan baku yang sama. Bahkan, Hariyono rela berburu bahan baku hingga ke luar kota. “Pernah coba pakai bahan merek lain, rasanya beda,” tegasnya. Selain dua menu tersebut, masih ada sejumlah kuliner khas lain. Misalnya, madumongso, sambal pecel Madiun, brem, dan roti bluder.

Bakso Bakar dan Putu Lanang yang Ngangeni

JIKA ada satu julukan lagi buat Kota Malang, rasanya yang pantas adalah julukan Kota 1.001 Kuliner. Betapa tidak, aneka makanan khasnya selalu menjadi obat kangen warga yang merantau atau siapa pun yang berkunjung ke Malang. Ada ceker glintung, pecel kawi, terang bulan splendid, putu lanang, hingga bakso yang selalu jadi obrolan para pencinta kuliner.

Di Kota Malang ada satu pelopor bakso bakar yang berpuluh-puluh tahun menjadi ajang nostalgia para penikmatnya. Siapa pun yang masuk warung bakso bakar Pak Man dijamin keluar dengan langkah berat karena kekenyangan. Rasa lezat racikan Suparman sang owner itulah yang membuat bakso bakarnya sulit dilupakan.

EJAK 1935: Putu Lanang di Gang Samaan, Kota Malang, mengandalkan rasa manis gurih yang dipadu kenyalnya tepung beras kukusan. (Darmono/Jawa Pos Radar Malang)

Berdiri sejak tahun 80-an, kelezatan bakso bakar tersebut membekas di kalangan remaja dan pekerja zaman itu. Apalagi, anak 90-an asli Malang yang sedang balik dari merantau pasti tidak akan melewatkan mampir ke warung bakso yang lokasinya dekat dengan RSSA itu.

Warung tersebut seolah-olah tak pernah istirahat sepanjang hari. Suparman yang akrab disapa Pak Man mengatakan, hari Lebaran pun mereka berani buka. “Kalau masuk Ramadan saja, ya semakin ramai. Biasanya disiapkan bakso sampai 50 kg lebih,” kata Pak Man saat ditemui Jawa Pos Radar Malang di parkiran warung baksonya.

Safitri, pelanggan Pak Man, mengatakan bahwa sejak SMA dirinya sering mencicipi bakso bakar itu. “Dulu waktu sekolah nongkrongnya di warung Pak Man. Mulai bertemu pacar sampai menikah pun ya seringnya di sini,” kata ibu dua anak itu.

Kini Safitri tinggal di Sumatera mengikuti suaminya bertugas. Saat pulang kampung, tempat yang dia tuju hanya ada dua. Yakni, rumah orang tua dan warung bakso bakar Pak Man. “Sekarang yang masak anak buahnya Pak Man. Tapi, rasa kuah sama bakso bakarnya gak berubah,” kata perempuan yang akrab disapa Fitri itu.

Sekitar 700 meter dari warung milik Pak Man ada juga legenda kuliner khas Malang yang jadi favorit para perantau. Namanya Putu Lanang. Lokasinya masuk di Gang Samaan. Warung tersebut saban hari berhasil menjual lebih dari 600 porsi putu, cenil, dan klepon. Meski resep membuat putu, klepon, dan cenil sudah beredar di YouTube, sulit sekali menyamai rasa putu yang berdiri sejak 1935 itu. Manis gurih yang dipadu kenyalnya tepung beras kukusan itu sulit ditiru kompetitornya.

Handoko, keponakan generasi kedua Putu Lanang yang ikut membantu, mengatakan bahwa putu buatannya sering menjadi obat rindu para perantau. “Banyak orang Malang yang tinggal di luar kota kadang kalau bulan puasa maksa pulkam ke sini,” kata dia. Menurut Handoko, selain rasanya yang khas, jam buka yang selalu dimulai pukul 17.30 WIB membuat Putu Lanang popular.

Makin ”Nendang” dengan Nasi Liwet

RASANYA tak lengkap jika berkunjung ke Kota Solo tanpa mencicipi kulinernya. Setidaknya ada tiga menu legendaris Kota Bengawan yang wajib dicoba. Terletak di Jalan Teuku Umar, Keprabon, Banjarsari, nasi liwet Wongso Lemu bisa menjadi pilihan pertama. Nasi putih bercita rasa gurih itu diguyur dengan sayur labu siam yang tidak begitu pedas. Rasanya tambah nikmat dengan suwiran ayam dan telur. Rasa gurihnya terasa semakin nendang ketika areh atau bubur santan dicampur dengan nasi gurih.

Nasi liwet ini ada sejak 1950. Sampai sekarang sudah turun-temurun dari generasi pertama Wongso Lemu. “Banyak sekali pilihannya, mulai lauk telur hingga ayam. Biasanya yang ke sini memilih nasi liwet komplet karena lauknya lengkap,” jelas perempuan yang biasa dipanggil Mbak Sri, penjul nasi liwet Wongso Lemu.

Kota Solo juga menawarkan makanan segar, yaitu timlo Solo. Salah satu yang cukup melegenda adalah timlo Solo di kawasan Jalan Jenderal Urip Sumoharjo No 94, Purwodiningratan, Kecamatan Jebres. Timlo adalah sejenis kuliner seperti sop dengan cita rasa segar. Isinya berupa suwiran daging ayam, irisan telur pindang kecap, hati ampela, hingga potongan sosis Solo. “Makanan ini enak disantap selagi panas. Kunci dari timlo Solo ada di kuahnya dan tentu potongan sosis,” jelas pemilik Timlo Solo Restaurant, Menik, kepada Jawa Pos Radar Solo.

Kuliner legendaris lain adalah Tengkleng Klewer Bu Edi. Lokasinya di dekat Pasar Klewer. Warung tersebut berdiri sejak 1971. Sekarang Tengkleng Bu Edi diteruskan anak pertamanya, Sulistri. Ciri khas Tengkleng Klewer Bu Edi adalah penyajiannya yang menggunakan daun pisang.

Source link