Menggandeng Industri Sidoarjo (KIS) wilayah disulap Industri Jabon

LAHAN PRODUKTIF: Karim (kiri) dan Sujito melempar jala di area tambak bandeng Desa Kupang, Jabon.
(Allex Qomarullah/Jawa Pos/JawaPos.com)

Volume air di hilir Kali Porong yang melimpah membuat sektor tambak di sekitarnya berkembang pesat. Tapi, kini bukan hanya udang-bandeng yang menjadi andalan. Rumput laut justru semakin dominan.

PERAHU karet ini melaju kencang menuju ke dermaga tambangan di Desa Tanjung Sari, Desa Kupang, Jabon, Jumat sore (15/9). Begitu mengetahui rencana perjalanan kami beberapa hari lalu, Mustofa selaku Kasun Tanjung Sari menyediakan tempat untuk bermalam.

Wajah tepian Kali Porong, mulai Desa Kedungcangkring hingga Desa Kupang, sebenarnya tidak terlalu sangar. Pinggirannya dilapisi plengsengan dan bebatuan yang rapi. Meskipun tidak melewati kawasan mangrove atau semak belukar, kami tetap waspada.



Menyusuri Kali Porong berarti menyusuri habitat buaya rawa. Beberapa warga desa sempat bercerita soal keberadaan binatang itu. Namun, sangu doa dari sejumlah kiai membuat kami lebih tenang.

Salah seorang kiai tersebut adalah KH Sholeh Qosim di Ngelom, Sepanjang, Taman. Beliau meminta kami sering berdoa untuk memohon keselamatan. Kami pun tak pernah absen menunaikannya. Allex, fotografer kami, termasuk yang paling rajin.

BANYAK PESANAN: Anggota Koperasi Samudera Hijau Satu mengemas rumput laut kering.
(Allex Qomarullah/Jawa Pos/JawaPos.com)

’’Mandar gak onok boyo (semoga tidak berjumpa buaya, Red),’’ tuturnya. Sesekali kegelisahan tetap muncul. Terutama saat melewati semak belukar dan mangrove di kanan-kiri sungai. Seandainya buaya muncul, kami harus menggeber motor perahu dan bergegas merapat ke tepian yang aman.

Selayang pandang ke tepian kali, tampak hamparan urukan tanah. Luas sekali. Kini, lahan tersebut menjadi bagian dari proyek besar pemkab. Dengan menggandeng PT Kawasan Industri Sidoarjo (KIS), wilayah itu bakal disulap menjadi Kawasan Industri Jabon (KIJ) dalam beberapa tahun. Total lahan tambak yang dialihfungsikan mencapai 298 hektare. Tersebar di dua desa, yaitu Tambak Kalisogo dan Kedung Pandan.

Dari kejauhan, kini terlihat cahaya benderang. Leganya. Dermaga perahu tambang tujuan kami sudah dekat. Warga setempat biasa memanfaatkan perahu tambang di sana untuk menyeberang. Di dermaga tersebut, kami akan memarkir perahu.

***

Mustofa, Kasun Tanjung Sari, rupanya sudah menunggu kami di halaman Koperasi Samudera Hijau Satu. Jaraknya hanya sekitar 100 meter dari tempat kami memarkir perahu. Sembari menyeruput kopi, kami dan Mustofa bertukar cerita. Penuh keakraban, seolah-olah sudah saling kenal bertahun-tahun.

Dari sana, kami mengetahui bahwa pria 44 tahun itu sudah naik haji dan umrah berkali-kali. Dia juga mengaku sebagai fans berat kiai kondang Mustofa Bisri. ’’Sekarang namaku Muhammad Mustofa Bisri,’’ candanya, lantas tertawa lepas.

Bukan hanya Mustofa yang bolak-balik ke Tanah Suci. Mayoritas anggota koperasi pun begitu. ’’Ya hasil dari tambak ini,’’ ujar ketua Koperasi Samudera Hijau Satu tersebut.

Anggota koperasi yang malam itu berangkat ke tambak adalah Saiful. Dia tampak menenteng tas dan menaikkan kotak-kotak kayu yang berisi peralatan ke Vario hitamnya. ’’Mau mengecek air,’’ kata Saiful.

Mereka harus memastikan tambak terbebas dari hama pengganggu. Lengah sedikit, bisa merugi. ’’Kalau malam seperti ini, ada yang mengecek air. Ada juga yang ngambil udang atau ikan,’’ jelas Mustofa.

Ikan yang dimaksud Mustofa bisa berarti dua hal. Yakni, ikan hasil budi daya tambak atau ikan hama. Hanya ada satu jenis ikan yang dibudidayakan di Kupang, yaitu bandeng. Lainnya adalah udang dan rumput laut. Mustofa dan rekan-rekannya hanya membudidayakan tiga komoditas itu.

***

Sabtu pagi (16/9), kami dibangunkan dengan suara drum yang jatuh di luar sana. Jam menunjukkan pukul 05.30. Tidur kami di ruang kantor koperasi cukup nyenyak. Belakangan, kami tahu bahwa drum plastik itu jatuh karena kakap di dalamnya berontak ketika ditimbang. Ada seorang perempuan yang membawanya. ’’Lima kilo,’’ ujar seorang pria yang menimbang. Lalu, terjadilah tawar-menawar harga di antara keduanya.

Kakap bukanlah ikan yang dibudidayakan di tambak. Kakap justru diburu para petambak karena tergolong hama. Ikan tersebut bisa melahap habis udang-udang di areal tambak. Petambak sengaja memburu kakap saat malam, karena gerakannya lebih lamban.

Selain kakap, banyak petambak yang datang dengan membawa udang windu dan udang vaname. Masih klepek-klepek ketika ditimbang. Nah, Koperasi Samudera Hijau Satu menjadi perantara hasil tambak itu. Udang dan bandeng dari petambak kembali dijual di pasaran lewat koperasi.

Saat ini, koperasi tersebut beranggota 88 orang yang berasal dari tiga dusun. Yakni, Tanjung Sari, Tegal Sari, dan Kalialo. Mayoritas anggota berijazah SMP. ’’Nek (kalau) aku, terakhir sekolah opo yo? Nggak usah disebut, Mas…,’’ kata Mustofa, lantas tertawa.

Rumput Laut Geser Udang dan Bandeng
Tepat di samping kantor koperasi, ada beberapa ibu yang berkerumun. Seluruhnya memakai topi untuk melindungi kepala dari sinar matahari yang menyengat. Dengan lincah, tangan-tangan mereka meratakan rumput laut di anyangan yang terbuat dari jalinan senar. Di sanalah rumput laut dijemur. ’’Ini unggulan kami sekarang,’’ tutur Mustofa.

Budi daya rumput laut jenis gracilaria di Koperasi Samudera Hijau Satu terus berkembang dalam lima tahun terakhir. ’’Dibuat jelly, obat, dan kosmetik,’’ terangnya.

Saat itu, mereka mengebut pesanan pabrik kosmetik di Malang dan Makassar. Lebih dari 5 kuintal rumput laut kering disiapkan. Petambak mengelolanya dengan modern sebagai hasil dari pelatihan yang diterima. Mulai perusahaan hingga pemerintah.

’’Sekarang, semua anggota saya mengembangkan rumput laut di tambak-tambaknya,’’ kata Mustofa. Dia menuturkan, komoditas udang dan bandeng tak bisa lagi terlalu diharapkan. Sebab, hasil panen terus menyusut.

Produksi udang vaname, misalnya. Bila petambak menyebar benih 1 rean atau 5 ribu ekor, total panennya sekarang hanya 1 ton. Padahal, beberapa tahun sebelumnya, hasilnya bisa lebih dari 2 ton. Kondisi serupa terjadi pada bandeng. Menurut Mustofa, menurunnya produksi udang dan bandeng itu dipengaruhi kualitas air Kali Porong yang memburuk.

Kala produksi udang dan bandeng menurun, secercah harapan datang dari rumput laut. ’’Nah, ini truknya datang. Ayo cepat diangkut,’’ ujar Mustofa kepada anggotanya yang sedang mengemas rumput laut.


(*/c18/pri)

Source link