’’LIHAT, kecil banget gangnya. Aku nggak bisa bayangin orang tinggal di tempat seperti ini,’’ kata Saemi Sin sembari menunjuk satu gang di Gamcheon-dong, Distrik Saha, Busan, yang kami kunjungi pada Selasa (17/8).

Suara Saemi, dara Seoul berumur 34 tahun tersebut, tak terlalu keras. Lirih. Itu memang sesuai dengan aturan atau etika berkunjung ke permukiman padat penduduk di pesisir selatan Korsel tersebut. Ada tulisan berbahasa Inggris yang terdapat di halaman depan brosur yang dibagikan kepada setiap pengunjung: mohon berbicara dengan suara pelan agar tidak mengganggu warga. Mohon tidak mengambil gambar sembarangan agar tidak mengganggu privasi penduduk.

Pagi itu Saemi, pemandu wisata yang fasih berbahasa Indonesia tersebut, memang sedang mengantar kami ke tempat yang kini dikenal sebagai Gamcheon Culture Village tersebut. Gamcheon, permukiman ”kumuh” itu, sudah ditahbiskan sebagai sebuah desa budaya.

Budaya yang terkandung di dalam tempat itu begitu kaya. Mulai arsitektur urbannya, sisi seninya, hingga sisi sejarahnya.

Tak heran, tempat spesial tersebut dikunjungi anak-anak muda yang juga spesial: para pemenang Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka 2017. Ada 16 anggota Pramuka yang terbang ke Korea. Mereka terpilih dari 11 ribu Pramuka yang telah mengecat lebih dari 1.100 rumah-rumah warga di 11 kota/kabupaten di Jatim pada April–Mei. Mereka telah menciptakan kampung-kampung warna-warni (kampung kelir) di 11 daerah tersebut.

Tak cuma kerja bakti, para Pramuka itu juga adu ketangkasan dan kecerdasan. Sebanyak 44 Pramuka terpilih lantas beradu teknologi tepat guna di Surabaya pada 6 Agustus. Nah, sebanyak 16 Pramuka terbaik kemudian diajak mengunjungi Negeri Ginseng selama sepekan. Mereka disertai pendukung penyelenggaraan festival. Yakni, Kwartir Daerah Jawa Timur, PT Mataram Paint (EMCO), dan Jawa Pos.

Di Busan itulah para Pramuka tersebut mendapatkan wawasan baru. Tentang kampung kelir di negara manca.

Sebagaimana lokasi-lokasi yang menjadi sasaran kerja bakti para Pramuka, Gamcheon-dong pernah sangat kumuh. Tempat di kaki Gunung Cheonma-san itu dipenuhi rumah-rumah sempit dengan gang-gang yang hanya bisa dilalui satu orang.

Rumah itu bertumpuk berjejalan di sepanjang lereng gunung hingga membentuk teras berundak. Filosofinya sederhana. Jangan sampai satu rumah menutupi pandangan rumah yang lain.

Gamcheon-dong yang kini dihuni sekitar 9 ribu jiwa tersebut pernah menjadi tempat pengungsi perang Korea pada 1950-an. Betapa kumuhnya kondisi tempat tersebut kala itu.

Orang-orang yang tak lagi punya harta benda tinggal di kawasan itu. Bersesakan dalam gang-gang sempit yang berkelok-kelok, berundak, naik-turun. Yang mereka butuhkan hanya atap untuk berteduh dan sejumput makanan untuk melanjutkan hari-hari. Mereka tinggal di rumah-rumah petak yang hanya sedikit lebih besar ketimbang lemari pakaian.

Tapi, semuanya berubah pada 2009. Sejumlah mahasiswa, seniman, dan kepala-kepala pemerintahan lokal mengubah wajah Gamcheon-dong. Rumah-rumah dicat dengan aneka kelir. Tembok-tembok tak lagi telanjang. Ada cat dan lukisan-lukisan imut.

Di salah satu tembok, misalnya, diberi lukisan dua wajah yang berciuman. Pengunjung bisa berfoto di tengah-tengah sehingga seolah-olah dicium dua wajah raksasa.

Sudut-sudut desa pun lantas menjadi galeri superbesar bagi sejumlah seniman. Mereka memajang karya. Di dekat pintu gapura menuju Gamcheon-dong, misalnya, ada seni instalasi People and Birds karya Jeon Yeongjin. Bentuknya adalah patung burung-burung yang berkerumun menengok ke bawah dari atap rumah warga. Bedanya, burung-burung itu berkepala manusia. Botak. Dengan satu-dua helai bulu burung menjuntai dari ubun-ubun.

Ada juga patung berjudul The Little Prince and the Fennec Fox karya Na Inju. Wujudnya adalah sesosok remaja yang duduk melamun ditemani seekor rubah. Patung itu ada di sebuah pagar yang terletak di tebing tinggi. Seolah-olah sedang memandang Gamcheon-dong yang membentang penuh warna di bawahnya.

Ratusan karya seni membentang di seluruh penjuru desa. Tak seluruhnya punya nama. Tak seluruhnya tercatat bersama nama senimannya. Beberapa lukisan elok terpampang begitu saja di sudut-sudut gang tanpa dikodifikasi. Misalnya, sebentuk tangga yang tiap-tiap anak tangganya dihias model punggung buku. Jadilah tangga itu bak buku-buku raksasa yang menopang kaki-kaki pengunjungnya.

Sudut-sudut kampung itu juga diberi nama-nama unik. Misalnya, Stairs to See Stars. Terjemahannya, anak tangga untuk melihat bintang-bintang. Apakah anak tangga itu begitu tinggi sampai menggapai langit? Tidak!

Jumlah anak tangga tersebut ’’hanya’’ 148 buah. Tapi, ia curam banget. Sejumlah pijakan setinggi separo betis orang dewasa. Lalu, bagaimana ia bisa menjadi tempat melihat bintang?

Well, Jawa Pos mencoba menuruni anak tangga itu. Sambil berpegangan pagar stainless, satu demi satu tapak saya jalani. Belum sampai separo, satu-dua bintang sudah mampir di kepala. Pusing! Saya pun balik kanan, mencoba naik lagi ke tempat semula. Bintang-bintang makin banyak. Bak kunang-kunang yang tiba-tiba datang.

Memang, itu adalah alasan kenapa anak tangga tersebut disebut sebagai sarana untuk melihat bintang. Padahal, setiap hari warga melewati jalan ini. Tua-muda, mereka biasa membawa beban berat. Begitu bunyi papan tulisan penanda tempat itu.

Dengan gimmick pemasaran seperti itu, aliran turis yang datang seolah tak pernah mandek. Sepanjang tahun, tak kurang dari 200 ribu wisatawan berkunjung. ’’Tapi, warga mulai protes. Mereka kan ingin hidup tenang. Tiba-tiba banyak orang asing datang di pinggir-pinggir rumah mereka,’’ kata Saemi.

Lembaga pariwisata pun dibentuk. Sejumlah aturan juga diberlakukan. Misalnya, warga tidak boleh mengubah rumah secara sembarangan. Tempat usaha juga dibatasi jam bukanya. Pada musim panas tak boleh sampai di atas pukul 18.00 dan pada musim dingin harus tutup sampai pukul 17.00. Itu untuk tetap menjaga ketenangan warga.

Meski sudah menjadi area wisata, tempat itu tak lantas penuh dengan toko-toko suvenir atau gerai makanan cepat saji. Tempat semacam itu hanya ada beberapa di dekat gapura masuk.

Kini orang tak bisa datang begitu saja, bludhas-bludhus, main selonong, ke Gamcheon-dong. Ada pusat informasi turis di dekat gapura. Di situ orang bisa membeli peta Gamcheon-dong. Cukup murah. Yakni, â?© 2.000 atau sekitar Rp 24 ribu.

Peta yang juga brosur wisata itu memuat sejarah Gamcheon-dong hingga titik-titik menarik yang bisa dikunjungi turis. Yang asyik, sejumlah titik dijadikan tempat wajib kunjung. Di tempat ’’wajib’’ itu, wisatawan bisa membubuhkan stempel pada petanya.

Ada 12 bidang kosong yang bisa dibubuhi stempel. Kalau cukup waktu, juga cukup napas dan kuat kaki, wisatawan bisa mendapatkan seluruh cap. ’’Tapi, nggak mungkin,’’ kata Firdaus Juliansyah, siswa SMAN 12 Surabaya, salah seorang anggota pemenang. ’’Tempatnya jauh-jauh, waktunya sebentar. Gini aja sudah cukup,’’ ujar cowok 16 tahun itu.

Memang, begitu melewati gapura, anggota Pramuka tersebut langsung menyebar. Yang mereka cari tentu adalah titik-titik terbaik untuk berswafoto. Sebagian besar hanya membubuhkan stempel pada area Ocean Photo Zone. Itu adalah anjungan tinggi tempat memandang seluruh desa dengan latar belakang laut selatan yang apik.

Jawa Pos sendiri hanya sempat membubuhkan empat stempel. Yakni, spot Little Museum, Haneulmaru (atap rumah yang dijadikan anjungan pandang), Ocean Photo Zone, dan House of Peace. Yang terakhir itu adalah bekas rumah yang dibiarkan kosong dan nylempit di salah satu gang. Di depannya ada teras dengan pagar kayu. Ada papan-papan berisi kutipan, misalnya, Carpe Diem (raihlah hari ini).

Meski terlihat lelah karena jalan yang naik-turun, para Pramuka terlihat cukup puas. Mereka bisa menyaksikan bahwa kerja bareng dalam mewarnai kampung bisa menghasilkan dampak positif bagi warga. Persis dengan yang mereka lakukan dalam Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka 2017.

Dengan perubahan itu, Gamcheon-dong tidak hanya menjadi tempat wisata. Ia juga menjadi contoh revitalisasi masyarakat urban. Ia menjadi tempat studi banding kota-kota lain, bahkan menjadi soal ujian yang muncul di ujian masuk universitas.

Dengan konturnya yang berundak, Gamcheon-dong digelari Machu Picchu of Korea. Persis kota peninggalan suku Maya di Amerika Selatan.

Karena bentuk-bentuk rumahnya yang kotak-kotak dan warna-warni, Gamcheon-dong juga disebut The Santorini of Korea. Ia mirip dengan kondisi rumah-rumah khas mediterania di Pulau Santorini, Yunani.

Memang, kampung warna-warni bukan hanya di Gamcheon-dong. Di Malang, Jawa Timur, misalnya, juga ada Kampung Jodipan yang terkenal karena warna-warni rumahnya. Namun, karena Gamcheon-dong ada terlebih dahulu, tentu ia tidak bisa digelari The Jodipan of Korea….


(*/c10/dos)

Source link