Menyaksikan Geliat Pariwisata Turki, Pasca Serangan Teroris dan Kudeta Militer

Tahun ini adalah tahun perjuangan bagi Turki untuk kembali menggairahkan sektor pariwisatanya yang sempat drop, akibat serangan teroris dan kudeta di negara itu 2016 lalu. Bagaimana kondisinya sekarang? Apa yang bisa ditiru? Berikut catatan Kurniawan Muhammad dari Turki tentang geliat pariwisata di sana, di sela-sela mengikuti kegiatan Jawa Pos Group.

2016 bisa jadi merupakan tahun kelam bagi Turki. Pada tahun itu, negara tersebut diserang beberapa kali teror bom yang menelan korban belasan, puluhan, hingga ratusan jiwa. Pada tahun itu pula, terjadi kudeta militer yang berusaha menjatuhkan pemerintahan Tayyip Erdogan.

Berbagai macam serangan teror, ditambah kudeta militer, membuat sektor pariwisata Turki sempat terpuruk. Tahun 2016, sektor pariwisata Turki drop hampir 30 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan penurunan itu, pendapatan dari sektor pariwisata menjadi USD 22 miliar (sekitar Rp 297 T, dengan kurs Rp 13.500 per USD 1).

Meski demikian, perolehan ini masih tergolong tinggi. Maklum, Turki adalah negara keenam di dunia yang paling banyak dikunjungi para wisatawan, dengan angka kunjungan rata-rata per tahun sekitar 40 juta orang (Peringkat 1: Prancis, dikunjungi 83 juta orang per tahun; 2: Amerika Serikat dikunjungi 70 juta orang; 3: Spanyol dikunjungi 65 juta orang; 4: China dikunjungi 55 juta orang; dan 5: Italia dikunjungi 48 juta orang).

Ketika mendarat di Bandara Internasional Istanbul Sabtu lalu (23/9), jam menunjukkan pukul 07.30 waktu setempat (empat jam lebih lambat dari WIB).

Saat itu, saya menyaksikan betapa berjubelnya para turis yang akan masuk ke Turki. Mereka mengular, antre untuk pemeriksaan paspor. Ada 32 konter yang disiapkan pihak imigrasi Turki untuk pemeriksaan paspor bagi para turis asing. Dari jumlah 32 itu, empat konter tutup. Jadi, ada 28 yang buka. Semuanya dijubeli. Mereka antre dan mengular. Selama setengah jam lebih saya harus antre untuk pemeriksaan paspor.



Dengan pemandangan itu, bisa jadi, Turki sudah mulai menggeliat sektor pariwisatanya. Bisa jadi, saat ini sudah mulai banyak lagi turis asing yang mengunjungi Turki, pasca negara tersebut diguncang teroris dan kudeta militer pada 2016.

Untuk mengetahui bagaimana geliat pariwisata di Turki, saya bersama rombongan dari Jawa Pos Group mengunjungi beberapa tempat pariwisata yang dianggap ikonik atau primadona di sejumlah daerah.

Selama enam hari berturut-turut, kami menempuh perjalanan darat hingga 2.000 kilometer lebih, dimulai dari Istanbul. Selanjutnya ke Bursa–Pamukkale–Konya–Cappadocia–Ankara–Bolu, lalu kembali ke Istanbul (apa saja tempat-tempat wisata yang menjadi primadona di daerah-daerah itu, akan didetailkan pada tulisan berikutnya).

Ketika menulis catatan ini (26/9), kami berada di Cappadocia, sebuah kawasan seluas 5.000 kilometer persegi, dan terbentang antara tiga provinsi di Anatolia Tengah yaitu Keyseri, Nevsehir, dan Nigde. Ketiganya merupakan jantungnya Turki.

Di Cappadocia (dalam huruf Turki disebut: Kapadokya), yang paling menarik perhatian saya adalah ketika mencoba naik balon udara. Seumur-umur, baru kali ini saya merasakan sensasi naik balon udara.

Di dunia, wisata naik balon udara hanya ada lima. Di Cappadocia, Turki adalah yang nomor satu. Keempat lainnya ada di Melbourne, Australia; Bagan, Myanmar; Serengeti, Tanzania; dan Albuquerque, Amerika Serikat.

Untuk bisa menikmati balon udara di Cappadocia, harus merogoh kocek USD 200 (sekitar Rp 2,6 juta) per orang. Mahal? Relatif. Bagi saya, cukup mahal. Tapi, saya berpikir, untuk sebuah pengalaman yang belum pernah dirasakan, harga segitu relatif sepadan.

Ada banyak operator yang mengoperasikan balon udara di Cappadocia. Oleh pihak travel yang mengurus kami, dipilih ”Kapadokya Balloons”. Pelayanannya sangat profesional dan tepat waktu. Kami pun diwanti-wanti untuk tidak terlambat.

Pagi itu (26/9), dari Hotel Gold Yildirim tempat kami menginap, kami dijemput pukul 05.20 waktu setempat. Untungnya, waktu untuk Subuh pukul 05.05. Jadi, kami bisa salat Subuh lebih dahulu. Setelah itu baru kami berangkat. Saat berangkat, hari masih gelap.

Dari hotel, kami menuju ke sebuah kawasan dengan rute menanjak, dengan jalanan berkelok-kelok. Karena hari masih gelap, kami tidak bisa melihat pemandangan di luar.

Sekitar 15 menit perjalanan, tibalah kami di sebuah tempat, di tengah-tengah padang rumput. Di sana sudah ada balon, tapi masih tergeletak di tanah. Balon tersebut sedang proses diisi udara, dari hasil sistem pengapian.

Tak jauh dari tempat balon yang masih tergeletak di tanah itu, terdapat sebuah keranjang. Tingginya sedada orang dewasa. Keranjang itulah yang akan membawa penumpang naik. Kapasitasnya 20 orang, dibagi dua. Sekitar 20 menit, balon itu mulai mengembang, dan mengarah naik. Di tempat lain, saya menyaksikan pemandangan yang sama: Balon-balon mulai diisi udara dari sistem pengapian, dan lama-lama mengarah naik.

Ketika balon sudah mengembang sempurna, ada aba-aba agar kami naik satu per satu ke dalam keranjang. Ada 20 orang dalam satu keranjang itu. Saya dan enam kawan dari Jawa Pos Group, lalu 5 turis dari China, dan 8 lainnya dari Australia.

Di tengah, ada tempat khusus untuk sang pilot. Dialah yang mengemudikan balon. Jangan dikira, pilotnya berpakaian rapi, necis, berdasi, seperti pilot pesawat terbang. Karena pilot di sini hanya untuk sebutannya saja. Tapi untuk pakaiannya, terkesan berpenampilan ala kadarnya. Berkaus dengan kerah, bertopi, bercelana cargo, pokoknya jauh dari kesan formal.

Setelah semua penumpang naik, si pilot memperkenalkan diri. Namanya Bekir Dursun. Dia asli Cappadocia. Kepada para penumpang, dia menjelaskan dengan bahasa Inggris, bahwa balon akan terbang selama satu jam.

Dia juga menjelaskan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh penumpang selama balon terbang. Dan yang perlu mendapat perhatian khusus adalah ketika landing.

”Saat landing, akan terjadi sedikit benturan. Anda harus memegangi tali yang ada di dalam keranjang, agar tidak terpental,” kata dia mewanti-wanti.

Lambat laun, balon pun naik. Semakin lama semakin ke atas. Jika pesawat terbang saat takeoff terasa sekali. Tapi, naik balon, sama sekali tidak terasa.

Secara bersamaan, balon-balon yang lain juga naik. Jumlahnya ratusan balon. Tampak sangat indah, karena balon-balon itu berwarna-warni. Yang membuat sangat terkesan, bukan hanya naik balonnya. Tapi, pemandangan di bawah, dilihat dari ketinggian, begitu eksotis.

Yakni berupa bebatuan lembut di perbukitan yang disebut tuff. Bebatuan itu terbentuk oleh erosi vulkanis. Kejadiannya puluhan juta tahun lalu, ketika letusan gunung api purba menutupi wilayah tersebut dengan abu tebal. Selanjutnya mengeras menjadi batuan lembut yang disebut tuff tadi.

Setelah beberapa lama, angin dan air mengikis batuan tuff itu dan mengubahnya menjadi pilar-pilar berbentuk jamur. Jadi, batu-batuan itu jika dilihat dari atas, mirip seperti deretan jamur-jamur. Dari ketinggian, warnanya tampak putih kekuning-kuningan.

Di satu sisi, saya dan penumpang lain sibuk memotret, merekam, keindahan pemandangan yang disaksikan dari atas. Pada sisi lain, Bekir, si pilot tampak sibuk mengatur tekanan udara, dari sistem perapian yang dihasilkan empat tabung gas. Peralatannya cukup lengkap. Ada GPS. Ada juga alat untuk mendeteksi ketinggian. Bekir juga tak pernah berhenti berkomunikasi dengan timnya yang ada di bawah. Di antara yang saya dengar, dia sering kali menanyakan kecepatan angin.

”Kita berada di ketinggian 6.200 feet (sekitar 1.889 meter),” kata Bekir, kepada para penumpang. Dan itu, lanjut dia, adalah capaian tertinggi. Tak bisa lagi lebih tinggi dari itu.

Yang agak membuat saya heran, meski berada di ketinggian hingga 6.200 kaki, tapi saya tidak merasakan kencangnya embusan angin. Saya bandingkan ketika berada di puncak Monas di Jakarta yang tingginya sekitar 132 meter, anginnya cukup kencang terasa.

Saya pun menanyakan hal itu ke Bekir. ”Musuh kami adalah angin. Karena itu, sehari, kami hanya terbang sekali. Yakni pada saat pagi hari. Tidak boleh lebih dari satu jam setelah matahari terbit,” ujarnya.

”Karena pada saat itu, angin sudah berembus kencang, dan cuaca panas karena sinar matahari,” kata Bekir menjelaskan. Makanya, meski berada di ketinggian hingga hampir 2.000 meter, nyaris tidak terasa embusan anginnya.

Bekir tampak sudah begitu terlatih mengemudikan balon. Dia bisa membawa balon terbang rendah, mendekati kawasan bebatuan yang indah tadi. Dari satu perbukitan ke perbukitan lainnya. Setelah itu kembali naik.

Untuk bisa menjadi pilot balon udara, Bekir harus ikut pelatihan khusus selama enam bulan. Dan sebagai pilot balon udara, dia dibayar cukup mahal. Yakni sekitar 6.500 euro sebulan (sekitar Rp 102.493.949). Digaji dalam euro, karena mengikuti standar Eropa.

”Saya bekerja enam hari seminggu, satu kali libur. Dalam sehari, kami hanya terbang sekali,” ujarnya.

Satu jam berlalu, tibalah saatnya balon udara landing. Saat-saat menjelang mendarat itu, adalah saat yang butuh kehati-hatian ekstra. Semakin turun mendekati daratan, wajah Bekir tampak tegang. Berkali-kali dia berteriak ke bawah, memberi aba-aba timnya yang ada di bawah. Semakin ke bawah, keranjang semakin mendekati daratan. Dan ….bruk…bruk…bruk ….beberapa kali bagian bawah keranjang membentur cukup keras ke permukaan tanah. Kami pun berpegangan pada tali yang ada di keranjang seperti instruksi Bekir. Agar tidak terpental. Saat itulah, dengan sigap beberapa anggota tim Bekir berusaha menangkap keranjang kami. Dan kami pun berhasil mendarat dengan sempurna.

Hari itu, dari data yang saya lihat, sedikitnya 2.500 orang (hampir semuanya turis asing) terbang dengan balon udara di Cappadocia. Dengan jumlah itu, dalam sehari, sedikitnya menghasilkan USD 500 ribu (sekitar Rp 6,7 miliar).

Wisata balon udara di Cappadocia memang termasuk ikon andalan pariwisata Turki.
Saya membayangkan, seandainya balon udara itu dibikin di Malang, mungkin akan sangat menarik. Yang paling cocok, dibikin di Kota Batu. Jadi, dengan balon udara, bisa menyaksikan keindahan alam Kota Batu dari atas.

Memang, tidak mudah. Setidaknya harus mempertimbangkan dua hal. Pertama, nilai investasinya pastilah tidak sedikit. Beli balonnya, peralatannya, biaya pelatihan SDM-nya termasuk pilot, hingga biaya perawatannya. Pasti mahal. Kedua, harus benar-benar mempertimbangkan keamanan. Termasuk, cuacanya harus benar-benar dipelajari. Apakah memang cukup aman untuk diterbangi balon udara. Mampukah kita meniru Turki?

Oleh: Kurniawan Muhammad